I.PENDAHULUAN: PERTANYAAN DI TENGAH DUKACITA
Dalam sebuah diskusi di grup WhatsApp, Bapak A yang baru kehilangan anak perempuannya bertanya kepada Bapak B: “Apakah surga itu kudus?”
Bapak B menjawab bahwa surga kudus karena merupakan tempat orang-orang kudus. Namun ia kemudian menyanggah: surga tidak mungkin kudus karena Lucifer juga pernah berada di surga. Ibu S memberikan tanggapan bahwa surga tetap kudus karena Lucifer dan para pengikutnya telah diusir dari surga.
Sekilas, percakapan ini tampak seperti perdebatan teologis mengenai surga, kekudusan dan Lucifer. Namun karena pertanyaan Bapak A muncul setelah kehilangan anak perempuannya, kita perlu melihat kemungkinan adanya pergumulan yang lebih dalam. Pertanyaan “Apakah surga itu kudus?” mungkin sebenarnya berkaitan dengan pertanyaan: “Di manakah anak saya sekarang? Bagaimana keadaannya bersama Tuhan? Apakah tempat itu sungguh aman dan bebas dari kejahatan?”
Karena itu, persoalan ini perlu dijawab bukan hanya secara doktrinal, tetapi juga secara pastoral.
II.SURGA KUDUS KARENA ALLAH YANG KUDUS
Secara Alkitabiah, surga adalah kudus. Tetapi dasar kekudusannya perlu diperjelas. Surga tidak kudus terutama karena di sana terdapat orang-orang kudus, melainkan karena Allah yang kudus hadir dan bertakhta di sana.
Yesaya 6:3 mencatat seruan para serafim: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam.” Demikian pula Wahyu 4:8 menggambarkan makhluk-makhluk surgawi yang terus-menerus berseru: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa.”
Jadi sumber kekudusan surga adalah Allah sendiri.
Benar bahwa Alkitab menyebut orang percaya sebagai “orang-orang kudus”, tetapi mereka tidak membuat surga menjadi kudus. Mereka disebut kudus karena telah dikuduskan oleh Allah. Dalam perspektif Injil, manusia tidak masuk ke dalam hadirat Allah karena dirinya telah sempurna, tetapi karena anugerah keselamatan di dalam Kristus.
III. APAKAH KEHADIRAN LUCIFER MEMBUAT SURGA TIDAK KUDUS?
Sanggahan Bapak B perlu diperiksa berdasarkan kesaksian Alkitab. Memang Alkitab menggambarkan Satan hadir di hadapan Allah. Ayub 1:6, misalnya, mengatakan bahwa ketika anak-anak Allah menghadap TUHAN, Iblis juga datang di antara mereka. Zakharia 3:1 juga menggambarkan Satan berdiri untuk mendakwa Yosua.
Namun keberadaan Satan dalam gambaran tersebut tidak berarti bahwa surga menjadi tidak kudus.
Kita perlu membedakan antara kehadiran makhluk berdosa di hadapan Allah pada suatu tahap sejarah penebusan dengan kekudusan Allah dan hadirat-Nya. Kehadiran Satan sebagai pendakwa tidak mengurangi kekudusan Allah.
Karena itu, kesimpulan “Lucifer pernah berada di surga, maka surga tidak kudus” tidak tepat secara teologis. Kekudusan surga tidak ditentukan oleh siapa yang pernah atau sedang berada di sana, tetapi oleh siapa yang bertakhta di sana.
IV.LUCIFER DIUSIR DARI SURGA
Tanggapan Ibu S memiliki dasar Alkitabiah ketika mengingatkan bahwa Satan digambarkan telah dilemparkan dari surga. Wahyu 12:7–9 menggambarkan peperangan di surga dan naga besar, yang disebut Iblis atau Satan, dilemparkan ke bumi.
Namun kita juga perlu berhati-hati untuk tidak menyederhanakan kisah tersebut menjadi: “Dahulu Lucifer ada di surga, kemudian diusir, lalu surga menjadi kudus.”
Alkitab tidak mengatakan bahwa surga baru menjadi kudus setelah Satan diusir. Surga selalu kudus karena Allah itu kudus.
V.SURGA SEKARANG DAN KEADAAN AKHIR
Alkitab juga membedakan antara keadaan sekarang dan penggenapan akhir. Wahyu 21:1 berkata, “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru.”
Dalam keadaan akhir tersebut tidak ada lagi kenajisan. Wahyu 21:27 mengatakan bahwa tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis. Bahkan Wahyu 21:4 memberikan pengharapan yang luar biasa: “Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi.”
Jadi tujuan akhir karya penebusan Allah bukan sekadar membawa manusia ke sebuah tempat yang disebut surga. Allah akan menghadirkan langit dan bumi yang baru, tempat dosa, maut dan penderitaan tidak lagi berkuasa.
VI.SURGA BERARTI BERSAMA KRISTUS
Bagi orang percaya, inti pengharapan tentang surga bukan terutama tempat yang indah, tetapi berada bersama Kristus.
Paulus berkata dalam Filipi 1:23 bahwa ia ingin “pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus.” Dalam 2 Korintus 5:8 ia juga berbicara tentang diam bersama-sama dengan Tuhan.
Karena itu, penghiburan Kristen bukan sekadar mengatakan, “Orang yang meninggal pergi ke tempat yang baik.” Penghiburan yang lebih dalam adalah bahwa Kristus adalah Tuhan atas kehidupan dan kematian. Kematian tidak mengalahkan Dia, dan bagi mereka yang menjadi milik-Nya, kematian bukanlah akhir pengharapan.
Pengharapan itu mencapai kepenuhannya dalam kebangkitan tubuh dan kehidupan kekal dalam ciptaan baru.
VII. PENUTUP: DARI PERDEBATAN KEPADA PENGHIBURAN INJIL
Diskusi WhatsApp tersebut memperlihatkan bahwa pertanyaan sederhana tentang surga dapat membuka persoalan teologis yang luas. Bapak B menghubungkannya dengan keberadaan Lucifer, sedangkan Ibu S mengingatkan tentang pengusiran Lucifer. Keduanya menyentuh aspek tertentu dari kesaksian Alkitab, tetapi pusat persoalannya jangan sampai hilang.
Pertanyaan Bapak A muncul dalam konteks kehilangan anak. Karena itu, jawaban yang paling tepat bukan sekadar memenangkan perdebatan mengenai Lucifer.
Jawaban Alkitabiah yang lebih mendasar ialah:
Surga kudus karena Allah yang hadir dan bertakhta di sana adalah Allah yang kudus.
Dan pengharapan orang percaya bukan terutama pada suatu tempat bernama surga, melainkan pada Kristus yang telah mengalahkan dosa dan maut.
Karena itu, kepada orang yang sedang berduka, gereja dipanggil bukan pertama-tama untuk memberikan spekulasi tentang dunia roh, tetapi untuk membawa orang tersebut kembali kepada janji Injil: Kristus telah mati, Kristus telah bangkit, dan maut tidak akan menjadi kata terakhir.
Di situlah pertanyaan tentang surga menjadi pengharapan—dan pengharapan Kristen itu berpusat pada Yesus Kristus.