Belajar, Melupakan, dan Belajar Kembali: Menjadi Manusia Pembelajar di Zaman yang Terus Berubah
PENDAHULUAN
Alvin Toffler pernah menulis dalam Powershift (1990), “Orang yang buta huruf di abad ke-21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, namun mereka yang tidak bisa belajar, melupakan, dan belajar kembali.” Kalimat ini, meski ditulis lebih dari tiga dekade lalu, terasa semakin relevan bagi kita hari ini—baik dalam kehidupan rohani, dunia pendidikan, tempat kerja, maupun perjalanan hidup secara umum.
I.Belajar Kembali dalam Iman
Dalam kehidupan rohani, iman yang sehat bukanlah iman yang beku pada satu pemahaman lalu berhenti bertumbuh. Bayangkan seorang murid Kristus seperti seorang musafir yang mendaki gunung: setiap kali ia mencapai satu punggung bukit, pemandangan berubah, dan ia harus menyesuaikan langkahnya. Rasul Paulus sendiri mengalami pembalikan total cara berpikirnya tentang Taurat dan anugerah setelah perjumpaannya dengan Kristus di jalan Damsyik (Kisah Para Rasul 9). Ia harus “melupakan” kebenaran yang selama ini dipegangnya secara keliru, agar dapat “belajar kembali” siapa Kristus sebenarnya. Demikian pula bagi Saudara: iman yang bertumbuh menuntut kerendahan hati untuk terus diperbarui oleh Firman dan Roh Kudus, bukan sekadar mempertahankan kebiasaan rohani lama tanpa refleksi.
II.Pengetahuan Sekolah yang Tidak Pernah Selesai
Di bangku sekolah maupun perguruan tinggi, banyak orang mengira ijazah adalah garis akhir dari proses belajar. Padahal, ilmu pengetahuan seperti air sungai yang terus mengalir—apa yang dianggap benar hari ini bisa direvisi esok hari oleh penemuan baru. Seorang siswa yang hanya menghafal tanpa memahami cara berpikir kritis akan kesulitan beradaptasi ketika kurikulum, teknologi, atau tuntutan zaman berubah. Sebaliknya, siswa yang dilatih untuk bertanya, meragukan asumsi lama, dan terbuka terhadap sudut pandang baru akan lebih siap menghadapi dunia yang dinamis. Di sinilah pendidikan sejati bukan sekadar transfer informasi, melainkan pembentukan kelenturan berpikir.
III. Adaptasi di Tempat Kerja
Dunia kerja hari ini menuntut hal yang sama. Seorang pekerja yang dahulu terampil menggunakan mesin tik, misalnya, harus rela “melupakan” keterampilan itu dan belajar menguasai komputer, lalu kini beradaptasi dengan kecerdasan buatan. Ibarat seorang pelaut yang harus mengganti peta lamanya ketika arus laut berubah arah, seorang profesional yang enggan memperbarui keterampilannya akan tertinggal, betapapun hebat prestasinya di masa lalu. Kerendahan hati untuk menjadi pemula kembali—meski sudah berpengalaman—adalah kunci bertahan dan bertumbuh di lingkungan kerja yang terus bergeser.
IV.Pengalaman Hidup sebagai Guru yang Jujur
Pengalaman hidup pun sering mengajarkan hal serupa. Banyak dari kita memegang cara pandang tertentu tentang keluarga, hubungan, atau makna kebahagiaan—hingga suatu peristiwa, entah kehilangan, kegagalan, atau perjumpaan baru, memaksa kita menata ulang pemahaman itu. Seperti tanah liat di tangan penjunan (Yeremia 18:1-6), hidup kita terus dibentuk ulang. Yang keliru bukanlah mengalami perubahan pandangan, melainkan menolak untuk diproses dan dibentuk kembali oleh pengalaman tersebut.
V.Pesan Pastoral
Saudara yang terkasih, keempat bidang ini—rohani, pendidikan, pekerjaan, dan hidup—sesungguhnya mengajarkan satu kebenaran yang sama: pertumbuhan sejati selalu menuntut kesediaan untuk dibentuk ulang. Jangan takut ketika Tuhan mengoreksi pemahaman lama Anda, sebab itu tanda Ia sedang bekerja, bukan tanda Anda gagal. Sebagaimana murid sejati tidak pernah berhenti duduk di kaki Gurunya, marilah kita menjadi pribadi yang senantiasa rendah hati untuk belajar, melupakan yang keliru, dan belajar kembali kebenaran yang lebih utuh—sampai kita bertemu muka dengan muka dengan Sang Kebenaran itu sendiri.