Kehendak Bebas: Pelagius vs Agustinus
PENDAHULUAN
Perdebatan paling fundamental tentang kehendak bebas dalam sejarah gereja terjadi antara Agustinus dan Pelagius pada abad ke-4 hingga ke-5. Perselisihan ini membentuk pemahaman Kristen tentang dosa, anugerah, dan keselamatan hingga hari ini.
I.Siapa Pelagius?
Pelagius adalah seorang biarawan dari Inggris yang hidup dengan sangat disiplin dan saleh. Ia prihatin melihat banyak orang Kristen hidup dalam dosa sambil berdalih, “Saya tidak bisa berbuat apa-apa, sifat saya memang begini.” Pelagius ingin mendorong orang untuk hidup kudus.
Pelagius mengajarkan bahwa manusia lahir dalam keadaan netral, bukan berdosa. Dosa Adam hanya memberikan contoh buruk, tetapi tidak merusak sifat keturunannya. Setiap bayi lahir seperti Adam sebelum jatuh dalam dosa. Karena itu, manusia punya kemampuan penuh untuk memilih baik atau jahat, bahkan bisa hidup tanpa dosa jika sungguh-sungguh berusaha. Keselamatan bergantung pada usaha dan pilihan bebas kita.
II.Bantahan Agustinus
Agustinus, Uskup Hippo dari Afrika Utara, menentang keras ajaran ini. Berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri yang penuh pergumulan dengan dosa, Agustinus memahami betapa dalamnya kerusakan dosa dalam diri manusia.
Agustinus mengajarkan bahwa semua manusia mewarisi dosa asal dari Adam. Kejatuhan Adam bukan hanya contoh buruk, tetapi benar-benar merusak sifat seluruh umat manusia. Kehendak kita telah diperbudak oleh dosa. Tanpa campur tangan Allah, kita tidak mampu memilih yang baik secara rohani.
Keselamatan adalah 100% anugerah Allah, bukan hasil usaha kita. Allah yang berinisiatif lebih dulu, memberikan anugerah untuk membebaskan kehendak kita, sehingga kita bisa percaya dan taat kepada-Nya.
III.Keputusan Gereja
Setelah perdebatan panjang, gereja menyatakan ajaran Pelagius sebagai sesat. Sinode-sinode gereja di Kartago dan Efesus (418 M dan 431 M) mengutuk Pelagianisme. Pandangan Agustinus menjadi doktrin resmi gereja tentang dosa dan anugerah.
IV.Aplikasi Praktis untuk Kita Hari Ini
- Rendah Hati dalam Keselamatan
Kita diselamatkan bukan karena hebat atau karena memilih yang benar, tetapi semata-mata karena kasih karunia Allah. Ini membuat kita rendah hati dan bersyukur, bukan sombong. - Bergantung pada Anugerah
Dalam pergumulan melawan dosa, kita tidak mengandalkan kekuatan sendiri tetapi kuasa Roh Kudus. Kita berdoa meminta pertolongan Allah, bukan hanya berusaha keras dengan kekuatan sendiri. - Tetap Bertanggung Jawab
Meskipun keselamatan adalah anugerah, kita tetap dipanggil hidup kudus. Anugerah Allah bukan alasan untuk bermalas-malasan dalam iman, tetapi justru memotivasi kita untuk hidup berkenan kepada-Nya. - Penuh Pengharapan
Jika keselamatan bergantung pada usaha kita seperti kata Pelagius, kita akan selalu cemas: “Apakah saya sudah cukup baik?” Tetapi karena keselamatan bergantung pada kesetiaan Allah, kita punya pengharapan yang pasti.
Perdebatan Agustinus-Pelagius mengajarkan keseimbangan indah: kita dibebaskan oleh anugerah untuk hidup dalam ketaatan yang penuh syukur.