Ajaran Pdt. Dr. Erastus Sabdono: Varian Unik dari Teologi Oneness
PENDAHULUAN
Klarifikasi Istilah “Oneness”
Istilah “Oneness” memang dapat membingungkan karena ada beberapa varian yang sangat berbeda. Ajaran Pdt. Dr. Erastus Sabdono memang berbeda dengan Oneness Pentakosta klasik yang saya jelaskan sebelumnya.
I.Posisi Erastus Sabdono
1.Menurut ajaran Pdt. Dr. Erastus Sabdono, Yesus bukan Allah. Ia mengajarkan bahwa hanya ada satu Allah, yaitu Yehuwa (Yehovah/Yahweh), yang adalah Bapa. Yesus dipahami sebagai Anak Allah yang istimewa, utusan tertinggi Allah, namun bukan Allah itu sendiri.
2.Posisi ini sebenarnya sangat mirip dengan Saksi Yehuwa dalam hal penyangkalan keilahian Kristus, meskipun mungkin berbeda dalam detail-detail teologis lainnya. Keduanya sepakat bahwa Yesus adalah makhluk ciptaan atau subordinat di bawah Allah Bapa.
II.Perbedaan dengan Oneness Pentakosta Klasik
1.Oneness Pentakosta klasik (seperti United Pentecostal Church) justru mengajarkan sebaliknya: Yesus adalah Allah itu sendiri—tidak ada Bapa sebagai pribadi terpisah. Yesus adalah satu-satunya Allah yang memanifestasikan diri sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
2.Jadi kita memiliki tiga posisi yang sangat berbeda:
2.1.Saksi Yehuwa & Erastus Sabdono: Yesus bukan Allah, hanya ciptaan atau utusan
2.2.Oneness Pentakosta: Yesus adalah satu-satunya Allah, tidak ada trinitas
2.3.Ortodoksi Kristen: Yesus adalah Allah sejati, namun pribadi yang berbeda dari Bapa
III.Evaluasi Alkitabiah
Penolakan terhadap keilahian Kristus oleh Erastus Sabdono bertentangan dengan berbagai ayat Alkitab yang eksplisit:
Yohanes 1:1 – “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”
Yohanes 20:28 – Tomas menyembah Yesus dengan berkata “Ya Tuhanku dan Allahku!” dan Yesus menerima penyembahan itu.
Kolose 2:9 – “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.”
Filipi 2:6 – Kristus “dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.”
IV.Implikasi Teologis
1.Penyangkalan keilahian Kristus menimbulkan masalah soteriologis (keselamatan) yang serius. Jika Yesus hanya manusia atau makhluk ciptaan, bagaimana Dia bisa menebus dosa seluruh umat manusia? Pengorbanan seorang makhluk, betapapun istimewanya, tidak akan pernah cukup untuk menebus dosa yang tak terbatas terhadap Allah yang kudus.
2.Hanya Allah sendiri yang dapat menanggung murka Allah terhadap dosa. Hanya Allah yang dapat menjadi Pengantara yang sempurna antara Allah dan manusia. Inilah mengapa inkarnasi—Allah menjadi manusia—adalah inti dari Injil Kristen.
Kesimpulan
Ajaran Pdt. Dr. Erastus Sabdono yang menyangkal keilahian Kristus menempatkannya dalam kategori teologis yang sama dengan Arianisme kuno dan Saksi Yehuwa modern.
Meskipun mungkin menggunakan istilah “Oneness,” posisinya justru berlawanan dengan Oneness Pentakosta klasik. Dari perspektif ortodoksi Kristen, penolakan terhadap keilahian Kristus adalah penyimpangan fundamental yang merusak inti keselamatan Kristen itu sendiri.