ALKITAB ORTODOKS TIMUR DAN ETIOPIA

Ketika kita berbicara tentang Alkitab, sering kali yang terbayang adalah Alkitab Protestan dengan 66 kitab atau Alkitab Katolik dengan 73 kitab. Namun, tradisi kekristenan tidak hanya berhenti di situ. Ada juga Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Ortodoks Tewahedo Etiopia yang memiliki kanon Alkitab lebih luas lagi. Hal ini membuat kita menyadari bahwa perjalanan sejarah penetapan kitab suci begitu panjang dan penuh warna.

 

I.Kanon Alkitab Ortodoks Timur

1.Gereja Ortodoks Timur (misalnya Yunani, Rusia, dan Serbia) pada dasarnya mengakui kanon yang mirip dengan Gereja Katolik, yakni 46 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru. Namun, Ortodoks Timur juga menerima beberapa kitab tambahan yang tidak terdapat dalam Alkitab Katolik maupun Protestan.

2.Beberapa kitab yang ada dalam kanon Ortodoks Timur antara lain:

  • A.3 Makabe
  • B.Mazmur 151 (sebuah mazmur tambahan yang tidak ada dalam Mazmur 1–150)
  • C.Doa Manasye

Dalam beberapa tradisi lokal, ada juga yang memasukkan 4 Makabe (biasanya sebagai lampiran atau apendiks).

3.Mengapa kitab-kitab ini dimasukkan? Sebab Gereja Ortodoks Timur lebih dekat dengan tradisi Septuaginta (terjemahan Yunani Perjanjian Lama) yang memuat kitab-kitab tersebut. Septuaginta sendiri adalah Kitab Suci yang digunakan luas di kalangan Yahudi diaspora dan jemaat Kristen perdana. Karena itu, Ortodoks Timur merasa wajar untuk tetap memelihara tradisi ini.

 

II.Kanon Alkitab Ortodoks Etiopia

A.Jika Ortodoks Timur menambahkan beberapa kitab, Gereja Ortodoks Tewahedo Etiopia melangkah lebih jauh lagi. Kanon Alkitab mereka adalah yang paling luas di dunia kekristenan.

Secara umum, ada dua tingkatan:

  1. Kanon sempit – terdiri dari 81 kitab.
  2. Kanon luas – jumlahnya bahkan bisa mencapai lebih dari 81 kitab, dengan tambahan beberapa tulisan kuno lainnya.

B.Selain kitab-kitab yang dikenal Protestan (66 kitab) dan Katolik (73 kitab), Alkitab Etiopia juga memuat kitab-kitab unik, misalnya:

  • 1 Henokh – kitab apokaliptik yang banyak berbicara tentang malaikat, langit, dan penghakiman akhir. Menariknya, surat Yudas dalam Perjanjian Baru mengutip langsung dari 1 Henokh.
  • Jubilees – sering disebut Kitab Hari Raya atau Kitab Yobel, yang menyusun ulang kisah-kisah Taurat dengan detail tambahan.
  • 4 Ezra – kitab apokaliptik yang berisi penglihatan tentang akhir zaman dan penghiburan bagi umat Israel.
  • Kitab Gembala Hermas (dalam beberapa versi kanon luas) – sebuah karya gereja mula-mula yang penuh nasihat moral dan penglihatan rohani.

Dengan demikian, Alkitab Etiopia menampung tidak hanya teks-teks yang kita kenal, tetapi juga tulisan-tulisan kuno yang beredar luas di gereja abad-abad pertama.

 

III.Mengapa Bisa Berbeda?

Perbedaan kanon ini tidak lepas dari sejarah penerimaan kitab suci di berbagai wilayah. Gereja Barat (yang kemudian melahirkan Katolik dan Protestan) cenderung membatasi kanon sesuai konsensus yang dicapai dalam konsili-konsili besar, misalnya Hippo (393) dan Kartago (397).

Sebaliknya, gereja-gereja Timur, termasuk Etiopia, lebih fleksibel dalam mempertahankan tradisi kitab-kitab kuno yang dianggap berguna untuk membangun iman. Apalagi gereja Etiopia berkembang agak terpisah dari arus utama teologi Barat maupun Timur, sehingga mereka melestarikan banyak teks Yahudi-Kristen awal yang di tempat lain sudah jarang digunakan.

 

IV.Nilai Rohani bagi Kita

Apa yang bisa dipetik orang Kristen masa kini dari keberagaman kanon ini?

  1. Kekayaan Tradisi
    Perbedaan ini menunjukkan bahwa kekristenan bukanlah tradisi tunggal yang kaku, melainkan memiliki kekayaan sejarah dan keragaman. Iman kita berakar dalam banyak konteks budaya dan bahasa.
  2. Wawasan Sejarah
    Kitab-kitab seperti 1 Henokh atau Jubilees membantu kita memahami dunia pemikiran Yahudi menjelang zaman Yesus. Misalnya, konsep tentang malaikat, penghakiman, dan kehidupan kekal. Ini membuat kita lebih peka membaca Perjanjian Baru.
  3. Inspirasi Spiritualitas
    Mazmur 151 atau Doa Manasye memperlihatkan ekspresi doa yang tulus, sekaligus memperkaya kehidupan doa umat Kristen. Gembala Hermas, meski bukan kanonik dalam tradisi Protestan, penuh dengan ajakan untuk hidup kudus dan bertobat.
  4. Kerendahan Hati Teologis
    Keberagaman kanon mengingatkan kita bahwa manusia tidak selalu bisa mengkotakkan secara sempit apa yang disebut “firman Allah.” Pada akhirnya, firman itu hidup dan bekerja melalui Roh Kudus, dan Alkitab yang kita pegang sekarang adalah bagian dari karya besar Allah dalam sejarah.

 

Penutup

Alkitab Ortodoks Timur dan Etiopia membuka mata kita bahwa firman Tuhan dipelihara dan diterima dalam bentuk yang beragam oleh berbagai tradisi gereja. Ortodoks Timur menambahkan beberapa kitab dari Septuaginta, sedangkan Etiopia bahkan memiliki kanon yang paling luas, termasuk 1 Henokh dan kitab-kitab kuno lain.

Bagi umat Kristen di luar tradisi tersebut, kitab-kitab itu tetap bisa dibaca sebagai sumber rohani, sejarah, dan inspirasi, meski tidak ditempatkan sejajar dengan kanon yang resmi kita gunakan. Pada akhirnya, semua perbedaan ini tidak mengubah inti iman Kristen: keselamatan yang diberikan Allah melalui Yesus Kristus, Sang Firman yang hidup.