I.BUKAN PERTAMA-TAMA PERINTAH YANG MEMBUAT SAYA MERASA BERSALAH
Matius 28:18–20 sering dipahami sebagai perintah pribadi: “Saya harus pergi memberitakan Injil. Kalau tidak, berarti saya tidak taat kepada Tuhan.” Cara membaca seperti ini dapat membuat orang Kristen hidup dalam rasa bersalah.
Namun Amanat Agung dimulai bukan dengan perintah, melainkan dengan pernyataan tentang Kristus: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” Baru kemudian Yesus berkata, “Karena itu pergilah…”
Artinya, misi bukan terutama beban yang harus saya pikul dengan kekuatan sendiri. Saya mengambil bagian dalam pekerjaan Kristus yang telah bangkit dan berkuasa. Bahkan Amanat itu ditutup dengan janji: “Aku menyertai kamu senantiasa.”
II.SAYA DIPANGGIL MENJADI MURID, BUKAN SEKADAR MENJADI PENGINJIL
Perintah utama dalam Matius 28:19 adalah menjadikan murid. Karena itu, menjadi Kristen bukan hanya berarti pernah menerima Kristus, pergi ke gereja, atau mampu menjelaskan iman kepada orang lain.
Saya sendiri harus terus menjadi murid Kristus: belajar Firman, bertobat dari dosa, mengampuni, mengasihi, hidup jujur, menghadapi penderitaan dengan iman, dan melakukan kehendak-Nya.
Maka sebelum bertanya, “Bagaimana saya memberitakan Injil?”, saya perlu bertanya: “Apakah kehidupan saya sendiri sedang dibentuk menjadi kehidupan seorang murid Kristus?”
III. INJIL YANG SAYA UCAPKAN HARUS SEJALAN DENGAN INJIL YANG SAYA HIDUPI
Yesus berkata, “Kamu adalah terang dunia” dan meminta agar terang itu bercahaya melalui perbuatan yang baik (Mat. 5:14–16).
Kehidupan sehari-hari karena itu mempunyai nilai kesaksian. Kejujuran, kesetiaan, pengampunan, kepedulian kepada yang lemah, dan cara menghadapi penderitaan dapat memperlihatkan bahwa Injil sungguh bekerja dalam diri saya.
Perbuatan baik memang bukan pengganti pemberitaan Injil. Tetapi kehidupan yang sesuai Injil membuat pemberitaan itu memiliki kredibilitas.
Karena itu saya tidak perlu memisahkan “memberitakan Injil” dari “hidup sebagai orang Kristen.” Keduanya seharusnya berjalan bersama.
IV.TETAPI KEHIDUPAN YANG BAIK TIDAK BERARTI SAYA TIDAK PERLU BERBICARA
Ada kecenderungan lain: “Saya cukup hidup baik; tidak perlu berbicara tentang iman.” Namun Roma 10:14 mengingatkan bahwa manusia perlu mendengar berita tentang Kristus.
Karena itu, ketika Tuhan membuka kesempatan, saya perlu berani mengatakan apa yang saya percaya. Tidak setiap percakapan harus dipaksa menjadi penginjilan, tetapi ketika seseorang bertanya tentang iman, pengharapan, atau cara saya menghadapi hidup, saya tidak perlu malu mengatakan, “Saya percaya kepada Kristus,” lalu menjelaskan iman saya dengan sederhana.
Jadi kata dan perbuatan bukan dua pilihan yang saling meniadakan. Keduanya merupakan bagian dari kesaksian Kristen.
V,SAYA TIDAK HARUS MENJADI SEPERTI ORANG KRISTEN LAIN
Tidak semua orang mempunyai karunia dan panggilan yang sama. Ada yang pandai berbicara dan mengajar; ada yang melayani, menghibur, menolong orang sakit, menjadi sahabat yang setia, atau memberi perhatian kepada mereka yang membutuhkan.
Tubuh Kristus terdiri dari banyak anggota dengan karunia berbeda. Karena itu saya tidak perlu mengukur ketaatan saya dengan membandingkan diri dengan penginjil, pendeta, atau misionaris.
Pertanyaannya bukan, “Apakah saya melakukan sebanyak dia?” melainkan, “Apakah saya setia menggunakan apa yang Tuhan percayakan kepada saya?”
VI.TEMPAT SAYA HIDUP ADALAH TEMPAT KESAKSIAN SAYA
Amanat Agung tidak hanya berlaku ketika saya mengikuti program gereja. Keluarga, pekerjaan, lingkungan, persahabatan, semuanya menjadi tempat kesaksian.
Bahkan masa tua, kelemahan, kesepian, dan keterbatasan dapat menjadi tempat bersaksi. Seorang Kristen yang tidak lagi mampu melakukan banyak aktivitas tetap dapat menjadi saksi Kristus melalui kesabaran, doa, perkataan yang menguatkan, kasih, dan cara menghadapi keterbatasan.
Nilai kesaksian Kristen tidak terutama ditentukan oleh banyaknya aktivitas, melainkan oleh kesetiaan kepada Kristus dalam keadaan yang Tuhan berikan.
VII. DARI SINILAH SAYA MEMAHAMI AMANAT AGUNG SECARA UTUH
Matius 28:18–20 tidak seharusnya hanya menghasilkan pertanyaan, “Berapa orang yang sudah saya konversikan?”
Pertanyaan yang lebih mendasar ialah: “Apakah melalui perkataan dan perbuatan saya, orang dapat melihat dan mendengar tentang Kristus?”
Kadang-kadang saya berbicara. Kadang-kadang melayani, mendengarkan, menolong, atau sekadar hadir bagi seseorang yang menderita. Semuanya dapat menjadi bagian dari kesaksian seorang murid Kristus—asal Kristus tetap menjadi pusatnya.
VIII. PEGANGAN PRIBADI
Karena itu saya tidak ingin menjalani kehidupan Kristen terutama dengan rasa takut: “Saya belum cukup menginjili.”
Saya ingin hidup dengan kesadaran: Kristus telah berkuasa, Kristus telah memanggil saya, dan Kristus menyertai saya.
Saya memberitakan Injil dengan kata-kata ketika Tuhan memberi kesempatan. Saya menyatakan Injil melalui perbuatan ketika Tuhan memberi kesempatan melayani. Saya memperlihatkan Injil melalui kehidupan saya. Dan saya sendiri terus belajar menjadi murid Kristus.
Dengan demikian, Amanat Agung bukanlah cambuk yang membuat saya terus merasa bersalah, melainkan panggilan untuk mengambil bagian dalam karya Kristus di dunia—dengan kata, dengan perbuatan, dan dengan seluruh kehidupan saya.