Manual Harian bagi Lansia yang Hidup Sendiri
I.MENJAGA MANUSIA SEUTUHNYA
Menjadi lanjut usia bukan berarti berhenti bertumbuh dan berhenti memelihara diri. Justru ketika tubuh semakin terbatas, kita perlu lebih sadar bahwa hidup adalah pemberian Tuhan yang harus dirawat dengan baik.
Karena itu, pemeliharaan diri tidak hanya menyangkut tubuh. Ada olah raga untuk tubuh, olah pikir untuk pikiran, olah emosi untuk perasaan, olah kehendak untuk kemauan, dan olah rohani untuk kehidupan iman. Dalam kehidupan sehari-hari, semua itu saling berkaitan.
Bagi lansia yang hidup sendiri dan jarang berbicara, ada satu hal lain yang perlu mendapat perhatian: suara dan kemampuan berbicara. Kalau kemampuan berbicara sangat jarang digunakan, seseorang dapat merasa suaranya semakin lemah, kata-katanya kurang jelas, atau ucapan terdengar melebur.
Karena itu, manual sederhana ini mengajak melakukan dua latihan sekaligus: olah rohani dan olah suara. Keduanya tidak dimaksudkan sebagai dua kegiatan yang terpisah, melainkan dapat dilakukan bersama dalam kehidupan sehari-hari.
II.OLAH ROHANI: MENJAGA JIWA TETAP HIDUP
Olah rohani bukan sekadar menambah pengetahuan tentang Tuhan. Olah rohani berarti melatih diri untuk terus mendengar Firman, mengingat kebaikan Tuhan, berdoa, memuji, bersyukur, dan menyerahkan hidup kepada-Nya.
Bagi seseorang yang banyak menjalani hari seorang diri, rutinitas rohani menjadi sangat penting. Kesunyian jangan dibiarkan berubah menjadi kekosongan. Waktu yang panjang dapat diisi dengan membaca Alkitab, merenungkan renungan harian, menyanyikan pujian, dan berdoa.
Di sinilah latihan suara memperoleh maknanya. Ketika membaca Firman Tuhan dengan suara yang terdengar, kita bukan hanya menggerakkan mulut dan melatih suara. Kita juga sedang menyatakan kembali Firman yang kita percaya.
Misalnya:
“Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”
Kalimat itu dibaca perlahan, jelas, dan penuh penghayatan. Kata demi kata diucapkan dengan baik. Dengan demikian, mulut bekerja, suara bekerja, pikiran bekerja, dan hati pun diarahkan kepada Tuhan.
Inilah yang dimaksud dengan olah rohani dan suara secara bersamaan.
III. OLAH SUARA: MEMELIHARA ALAT KOMUNIKASI
Suara adalah salah satu sarana utama manusia untuk berkomunikasi. Karena itu, suara juga perlu digunakan dan dipelihara.
Latihan tidak perlu rumit. Mulailah dengan membuka dan menutup mulut perlahan, memajukan dan menarik bibir, serta menggerakkan lidah ke depan, ke kiri, ke kanan, ke atas dan ke bawah. Kemudian tarik napas melalui hidung dan hembuskan perlahan melalui mulut.
Sesudah itu, bacalah Firman Tuhan dengan suara keras dan perlahan. Jangan mengejar banyaknya ayat. Yang penting adalah kejelasan. Ucapkan setiap kata dengan tegas. Buka mulut dengan cukup lebar dan jangan meleburkan kata-kata.
Sesudah membaca Alkitab, bacalah renungan pendek. Perhatikan tanda koma dan titik. Berikan jeda. Jangan semuanya dibaca dalam satu tarikan napas.
Latihan semacam ini membantu menghubungkan pikiran dengan gerakan mulut, lidah, rahang, pernapasan, dan suara.
IV.NYANYIAN: PERTEMUAN OLAH ROHANI DAN OLAH SUARA
Menyanyi adalah salah satu latihan yang sangat baik karena menggabungkan pernapasan, suara, artikulasi, irama, dan penghayatan.
Pilihlah dua atau tiga lagu rohani yang sudah dikenal. Pilih nada yang nyaman—tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Nyanyikan dengan suara yang jelas dan wajar. Jangan berbisik, tetapi juga jangan memaksakan suara.
Perhatikan setiap kata dan bunyi vokal: a, i, u, e, o. Biarkan suara keluar dengan bebas dan teratur.
Namun yang paling penting, jangan kehilangan makna rohaninya. Nyanyian bukan sekadar latihan vokal. Ketika menyanyikan, misalnya, “Besar setia-Mu,” kita sedang mengingat dan mengakui kesetiaan Tuhan.
Dengan demikian, suara dilatih sementara iman diteguhkan.
V.MANUAL HARIAN 15–20 MENIT
Latihan dapat dilakukan setiap hari dengan pola sederhana:
3–5 menit: pemanasan mulut, lidah, rahang dan pernapasan.
5–7 menit: membaca Alkitab dengan suara keras, perlahan dan jelas.
3–5 menit: membaca renungan harian dengan memperhatikan jeda dan intonasi.
4–5 menit: menyanyikan dua atau tiga lagu pujian.
2 menit: mengakhiri dengan doa atau kalimat iman, misalnya:
“Tuhan menyertai aku setiap hari. Kasih karunia-Nya cukup bagiku.”
Tidak perlu mengejar kesempurnaan. Yang diperlukan adalah keteraturan. Lima belas menit setiap hari lebih berarti daripada latihan panjang tetapi hanya sesekali.
VI.JANGAN MEMISAHKAN OLAH SUARA DARI OLAH KEHIDUPAN
Olah suara bukan pengganti olah tubuh. Olah rohani juga bukan pengganti olah pikir. Manusia adalah satu kesatuan.
Tubuh perlu digerakkan. Pikiran perlu digunakan. Perasaan perlu diarahkan. Kehendak perlu dilatih. Hubungan sosial perlu dipelihara. Dan kehidupan rohani perlu terus dibangun.
Karena itu, setelah latihan suara, jangan seluruh hari dilewatkan tanpa komunikasi. Bila memungkinkan, berbicaralah kepada orang lain melalui telepon, ikut percakapan, membaca sesuatu dengan suara keras, atau berbicara kepada Tuhan dalam doa.
Ketika bertemu jemaat pada hari Minggu, jangan merasa bahwa berbicara adalah beban. Jadikan kesempatan itu sebagai latihan sekaligus kesempatan menikmati persekutuan. Berbicaralah sedikit lebih lambat, jelas, dan tenang.
VII. TUJUAN AKHIR: TETAP KUAT UNTUK HIDUP DAN MELAYANI
Tujuan latihan ini bukan sekadar supaya suara tidak serak atau kata-kata tidak terdengar selosol-selosol. Tujuan yang lebih besar ialah memelihara kemampuan untuk tetap hadir, berkomunikasi, berpikir, berdoa, memuji, dan bersekutu dengan sesama.
Pada usia lanjut, kita mungkin tidak lagi mampu melakukan semua hal seperti dahulu. Tetapi masih ada banyak hal yang dapat dilakukan dengan setia.
Tubuh dipelihara melalui olah raga. Pikiran dipelihara melalui membaca dan belajar. Suara dipelihara melalui berbicara dan bernyanyi. Rohani dipelihara melalui Firman, doa, dan pujian.
Semua itu akhirnya mengarah kepada satu kehidupan yang utuh: tetap hidup di hadapan Tuhan, tetap menggunakan apa yang Tuhan berikan, dan tetap menjadi berkat bagi orang lain selama Tuhan memberikan kesempatan.
Olah rohani menguatkan iman. Olah suara menguatkan sarana komunikasi. Dan keduanya menjadi bagian dari panggilan yang lebih luas: memelihara manusia seutuhnya sebagai ciptaan Tuhan.
NOTE:
Manusia tidak terdiri dari bagian-bagian yang bekerja sendiri-sendiri. Olah tubuh, olah pikir, olah suara, olah emosi, olah kehendak, dan olah rohani saling berhubungan. Satu kegiatan yang sederhana dapat sekaligus melatih beberapa dimensi kehidupan.