KEFANAAN DAN KEKEKALAN

Antara Kefanaan dan Kekekalan: Membaca Ulang “Renungan Hayat dan Wafat” dari Perspektif Reformed

Esai Yudi Latif di postingan FB dengan judul Renungan Hayat dan Wafat   adalah rangkaian permenungan yang indah dan jujur tentang kematian. Ia merangkai kebijaksanaan Socrates, Marcus Aurelius, Nietzsche, Camus, Rilke, Seneca, Tagore, dan Kierkegaard menjadi satu nasihat: hiduplah sungguh-sungguh sebab waktu terbatas. Sebagai orang percaya yang berpijak pada teologia Reformed, kita dapat mengapresiasi kepekaan eksistensial esai ini, sambil menandai di mana ia berhenti tepat sebelum sampai pada Injil.

Mengakui yang Benar: Vanitas dan Keterbatasan Manusia

Latif benar ketika menulis bahwa “kita datang tanpa membawa apa-apa” dan bahwa kematian “tidak bernegosiasi.” Ini gema dari Pengkhotbah 1:2 dan Mazmur 90:12, “ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Calvin sendiri, dalam Institutio (III.9), mengajarkan meditatio futurae vitae—perenungan akan hidup yang akan datang—justru dengan menekankan kefanaan dan kehampaan dunia ini. Kesadaran akan maut, bagi Calvin, bukan tujuan akhir tetapi sarana pedagogis: ia melepaskan hati manusia dari kelekatan berlebihan pada dunia yang fana, agar rindu akan kekekalan tumbuh.

Jadi ketika Latif mengutip Seneca tentang menyia-nyiakan waktu, atau mengajak kita “kembali kepada napas, kepada orang di hadapan kita”—ini selaras dengan etika Reformed yang menghargai carpe diem redemptif: bukan menikmati saat ini sebagai pelarian dari kefanaan, melainkan sebagai ruang ketaatan dan kasih yang diberikan Allah.

Di Mana Filsafat Berhenti

Namun di sinilah letak kekurangan mendasarnya. Seluruh esai ini adalah usaha manusia mencari makna dari dalam kefanaan itu sendiri—Nietzsche dengan amor fati, Camus dengan penerimaan tanpa jawaban, Tagore dengan panteisme keterhubungan kosmis. Semuanya berujung pada jawaban yang sama: karena Allah tidak hadir dalam kerangka pemikiran mereka, makna harus “dikerjakan” manusia sendiri, dari dalam kekosongan.

Dari sudut pandang Reformed, ini adalah usaha manusia jatuh untuk menegakkan makna sola ratione—tanpa wahyu. Roma 1 menjelaskan mengapa hal ini pada akhirnya kosong: manusia menekan kebenaran tentang Allah, lalu menggantinya dengan kebijaksanaan ciptaan (Stoisisme, eksistensialisme) yang, sehebat apa pun, tidak dapat menjawab pertanyaan paling mendasar—bukan “bagaimana menghadapi kematian,” tetapi “mengapa kematian ada.” Kematian, dalam terang Kejadian 3 dan Roma 6:23, bukan sekadar batas alamiah kehidupan, melainkan upah dosa. Filsafat Stoa dan eksistensialis menerima maut sebagai given kosmis yang harus didamaikan; Alkitab menyebutnya musuh terakhir yang akan dikalahkan (1 Korintus 15:26).

Tetelestai: Jawaban yang Tidak Ditawarkan Esai Ini

Camus menulis bahwa “alam semesta sering menjawab dengan diam.” Bagi orang percaya, ini justru titik krusial: Allah tidak diam. Dalam Kristus, Ia menjawab problem kematian bukan dengan filsafat penerimaan, melainkan dengan kebangkitan yang historis. Kematian Kristus di kayu salib—tetelestai, “sudah selesai” (Yohanes 19:30)—bukan sekadar teladan menghadapi maut dengan tenang seperti Marcus Aurelius, melainkan penebusan yang membatalkan kuasa maut itu sendiri.

Demikian pula “kekekalan yang cukup” yang diusulkan Latif di akhir esai—jejak kenangan dalam hati orang lain—adalah kekekalan yang rapuh dan sementara, sebagaimana ia sendiri akui: “bahkan kenangan pun memudar.” Reformed eskatologi menawarkan sesuatu yang lebih kokoh: kebangkitan tubuh dan langit baru bumi baru (Wahyu 21), di mana identitas dan kasih kita tidak larut menjadi memori kolektif yang pudar, melainkan disempurnakan secara pribadi dan kekal, coram Deo.

Penutup

Esai Latif patut dihargai sebagai kesaksian jujur akan kegelisahan manusia di hadapan maut—suatu praeparatio evangelica, persiapan bagi Injil, meskipun penulisnya tidak bermaksud demikian. Ia benar mendesak kita untuk hidup sungguh-sungguh, mengasihi selagi sempat, dan tidak menunda yang penting. Namun bagi kita yang percaya, dorongan itu memperoleh jangkarnya bukan dalam amor fati atau kenangan yang memudar, melainkan dalam pengharapan yang pasti: bahwa Kristus telah bangkit, dan karena itu hidup kita “tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah” (Kolose 3:3)—suatu kekekalan yang jauh lebih kukuh daripada jejak dalam ingatan orang lain.