KERAKUSAN ONTOLOGIS: KETIKA MANUSIA TIDAK MAU MENJADI TUA
I.Ketika Cermin Mulai Berbicara
Ada suatu masa ketika kita bercermin dan melihat wajah yang kita kenal. Kemudian perlahan-lahan muncul kerutan, rambut memutih, kulit mengendur, langkah tidak lagi secepat dahulu. Cermin yang dahulu hanya menunjukkan wajah, sekarang seolah-olah memberitahu kita: engkau sedang menjadi tua.
Manusia kemudian mulai melawan.
Krim anti-aging, vitamin, olahraga, diet, operasi plastik, berbagai terapi, bahkan teknologi modern yang menjanjikan life extension terus dikembangkan. Semua itu pada dirinya sendiri tidak salah. Merawat tubuh adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai manusia.
Tetapi ada sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar merawat kesehatan: obsesi untuk tetap muda dan memperpanjang hidup selama mungkin.
Di sinilah konsep “kerakusan ontologis” menjadi relevan. Kerakusan biasanya berarti ingin memiliki lebih banyak. Tetapi kerakusan ontologis berarti tidak puas dengan keadaan keberadaan kita sendiri.
Bukan lagi, “Saya ingin hidup sehat,” tetapi, “Saya tidak mau menjadi tua.” Bukan lagi, “Saya ingin memperpanjang hidup,” tetapi, “Saya tidak mau menerima bahwa hidup saya mempunyai batas.”
II.Dari Takut Mati Menjadi Menolak Keterbatasan
Keinginan untuk hidup panjang sebenarnya sangat manusiawi. Alkitab sendiri tidak pernah mengajarkan bahwa kematian harus dicintai. Kematian adalah musuh, dan Paulus menyebutnya sebagai “musuh yang terakhir” (1 Korintus 15:26).
Karena itu, memperpanjang kehidupan melalui pengobatan bukanlah sesuatu yang harus dicurigai. Ketika dokter menyembuhkan penyakit dan menyelamatkan kehidupan, kita dapat melihatnya sebagai bagian dari pemeliharaan Allah.
Persoalannya muncul ketika keinginan untuk hidup berubah menjadi penolakan terhadap kefanaan.
Manusia modern mempunyai kemampuan teknologi yang semakin besar. Kita dapat mengganti organ, memperbaiki jaringan tubuh, mengendalikan berbagai penyakit, dan memperlambat sebagian proses penuaan. Maka muncul sebuah pertanyaan: Mengapa harus berhenti? Mengapa tidak terus diperpanjang?
Di sinilah keinginan yang semula baik dapat berubah menjadi kerakusan.
Kita tidak lagi sekadar ingin menikmati kehidupan, tetapi ingin menguasai kehidupan.
III. “Saya Tidak Mau Menjadi Tua”
Ada perbedaan antara merawat usia tua dan menolak usia tua.
Yang pertama adalah kebijaksanaan. Yang kedua dapat menjadi obsesi.
Orang yang merawat tubuh berkata, “Saya ingin tetap sehat agar dapat menjalani kehidupan dengan baik.”
Orang yang dikuasai kerakusan ontologis berkata, “Saya harus mempertahankan masa muda saya karena menjadi tua berarti kehilangan nilai diri.”
Budaya modern sering memperkuat pandangan ini. Muda berarti menarik, produktif, energik, dan bernilai. Tua sering dipandang sebagai kelemahan, ketergantungan, bahkan beban.
Akibatnya, manusia tidak hanya takut kehilangan kesehatan. Ia takut kehilangan identitas dan makna dirinya.
Padahal Alkitab mempunyai pandangan yang berbeda terhadap usia tua. Mazmur 92:15 berkata, “Pada masa tua pun mereka masih berbuah.”
Alkitab tidak mengatakan bahwa manusia harus tetap muda untuk tetap berguna.
IV.Kerakusan Ontologis dan Mimpi Keabadian
Pada tingkat yang lebih ekstrem, obsesi anti-aging dapat berkembang menjadi gagasan bahwa kematian suatu hari nanti seharusnya dapat dikalahkan melalui teknologi.
Di sini kita bersentuhan dengan transhumanism dan gagasan radical life extension: manusia berusaha menggunakan teknologi untuk memperpanjang kehidupan sejauh mungkin.
Sekali lagi, masalahnya bukan teknologi itu sendiri. Masalahnya adalah visi tentang manusia di balik teknologi tersebut.
Jika manusia berkata, “Kita harus menggunakan ilmu pengetahuan untuk mengurangi penderitaan dan memperpanjang kehidupan,” itu adalah tujuan yang dapat dipahami.
Tetapi jika manusia berkata, “Kematian tidak boleh menjadi batas bagi saya; saya sendiri akan menentukan berapa lama saya harus hidup,” maka kita memasuki wilayah yang jauh lebih dalam.
Pertanyaannya bukan lagi medis, melainkan ontologis dan teologis:
Apakah manusia adalah tuan atas kehidupannya sendiri, ataukah ia tetap merupakan ciptaan yang menerima hidup sebagai pemberian Allah?
V.Kristus Tidak Menjanjikan Kita Tetap Muda
Menariknya, Injil tidak menjanjikan bahwa orang percaya akan tetap muda.
Kristus tidak datang untuk membuat manusia tidak pernah berkerut, tidak pernah sakit, dan tidak pernah mati. Ia datang untuk mengalahkan kuasa dosa dan kematian.
Janji Kristen bukan perpanjangan hidup tanpa akhir dalam tubuh yang sekarang, melainkan kebangkitan dan kehidupan baru.
Paulus berkata bahwa “yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa” (1 Korintus 15:53).
Ini sangat berbeda dari obsesi manusia untuk mempertahankan tubuh lamanya selama-lamanya.
Kristianitas tidak berkata, “Pertahankan kehidupan ini dengan segala cara.”
Kristianitas berkata, “Percayakan kehidupan dan kematianmu kepada Allah, karena di dalam Kristus kematian bukan kata terakhir.”
VI.Berdamai dengan Menjadi Tua
Mungkin salah satu bentuk kedewasaan rohani yang penting adalah belajar menerima bahwa menjadi tua bukan kegagalan.
Rambut putih bukan musuh. Kerutan bukan dosa. Tubuh yang melemah bukan berarti hidup kehilangan nilai.
Ada sesuatu yang indah ketika manusia akhirnya dapat berkata:
“Saya tidak harus kembali menjadi muda. Saya hanya ingin setia pada tahap kehidupan yang Tuhan percayakan kepada saya.”
Kita tetap boleh berobat. Kita boleh berolahraga. Kita boleh makan sehat. Kita boleh merawat penampilan. Kita boleh menggunakan teknologi medis untuk memperpanjang dan memperbaiki kualitas kehidupan.
Tetapi semuanya itu dilakukan bukan karena kita takut menjadi ciptaan yang terbatas.
Kita merawat kehidupan karena kehidupan adalah anugerah.
VII. Pesan Pastoral: Cukuplah Anugerah-Mu
Saudara-saudara, mungkin persoalan terbesar kita bukan bahwa kita menjadi tua, melainkan bahwa kita takut kehilangan diri ketika menjadi tua.
Kita takut tidak lagi berguna. Takut tidak lagi menarik. Takut bergantung kepada orang lain. Takut tubuh semakin lemah. Dan akhirnya takut mati.
Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa nilai hidup tidak pernah ditentukan oleh usia, kekuatan tubuh, kecantikan wajah, produktivitas, atau panjangnya umur.
Kita berharga karena kita milik Allah.
Karena itu, jangan biarkan kerakusan ontologis membuat kita terus-menerus memusuhi usia dan tubuh kita sendiri.
Rawatlah tubuh, tetapi jangan menyembah masa muda.
Perpanjanglah kehidupan jika memungkinkan, tetapi jangan menjadikan umur panjang sebagai tuhan.
Nikmatilah hari-hari yang Tuhan berikan, tetapi jangan takut ketika hari-hari itu semakin sedikit.
Sebab bagi orang yang berada di dalam Kristus, hidup bukan sekadar soal berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi kepada siapa kita menyerahkan seluruh kehidupan kita.
Dan ketika akhirnya kita harus melepaskan kehidupan ini, kita tidak jatuh ke dalam kehampaan.
Kita jatuh ke dalam tangan Allah yang selama ini memegang kita.