Dua Cara Memahami “Gambar Adam” dalam Kejadian 5:3
Pelajaran dari Dua Teolog Besar: Thomas Aquinas dan John Calvin
PENDAHULUAN
Pernahkah Anda bertanya mengapa Kejadian 5:3 mengatakan Set lahir dalam “gambar Adam” bukan “gambar Allah”? Pertanyaan ini ternyata sudah diperdebatkan oleh teolog-teolog besar selama berabad-abad. Mari kita lihat bagaimana dua tokoh terkenal – Thomas Aquinas dan John Calvin – memahami ayat yang menantang ini.
I.Perspektif Thomas Aquinas: “Gambar Allah Masih Ada, Meski Rusak”
1.Thomas Aquinas hidup di abad ke-13 dan dikenal sebagai teolog yang sangat menghargai akal budi manusia. Menurut Aquinas, gambar Allah dalam diri manusia terletak pada tiga hal utama:
- Akal budi – kemampuan berpikir dan mengenal kebenaran
- Kehendak bebas – kemampuan memilih antara baik dan jahat
- Ingatan – kemampuan mengingat dan berhubungan dengan Allah
2.Bagaimana Aquinas Memahami Kejadian 5:3?
Bagi Aquinas, ketika Alkitab berkata Set lahir dalam “gambar Adam,” ini tidak berarti gambar Allah hilang total. Sebaliknya, ini menunjukkan bahwa gambar Allah masih ada, tapi dalam kondisi rusak.
Bayangkan sebuah cermin yang retak. Cermin itu masih bisa memantulkan bayangan, tapi tidak sejelas dulu. Begitu juga dengan manusia setelah kejatuhan Adam – kita masih memiliki akal budi, kehendak, dan kemampuan spiritual, tapi semuanya sudah tidak sempurna lagi.
3.Artinya bagi kita:
- Manusia masih bisa mencari kebenaran melalui akal sehat
- Kita masih bisa membedakan baik dan jahat secara natural
- Setiap orang masih memiliki nilai dan martabat yang tinggi
- Keselamatan adalah proses memperbaiki gambar Allah yang rusak
II.Perspektif John Calvin: “Gambar Allah Sejati Sudah Hilang”
1.John Calvin hidup di abad ke-16 dan lebih menekankan betapa rusaknya manusia akibat dosa. Menurut Calvin, gambar Allah yang sejati bukan hanya soal kemampuan berpikir atau memilih, tapi terutama tentang hubungan yang benar dengan Allah.
2.Bagaimana Calvin Memahami Kejadian 5:3?
Calvin melihat “gambar Adam” dalam ayat ini sebagai bukti bahwa gambar Allah yang sejati sudah hilang total. Yang diturunkan Set dari Adam bukanlah gambar Allah, melainkan sifat berdosa dan ketidakmampuan untuk berhubungan dengan Allah.
Kalau tadi Aquinas menggunakan analogi cermin retak, Calvin akan berkata cermin itu sudah pecah total dan tidak bisa memantulkan apa-apa lagi. Yang tersisa hanya serpihan-serpihan kecil yang hampir tidak berguna.
3.Artinya bagi kita:
- Manusia secara natural tidak bisa mengenal Allah dengan benar
- Akal budi kita sudah terlalu rusak untuk mencari kebenaran spiritual
- Kita benar-benar tidak berdaya dan butuh pertolongan Allah total
- Keselamatan adalah proses menciptakan ulang gambar Allah yang sudah hilang
III.Mana yang Benar?
Pertanyaan bagus! Sebenarnya, kedua perspektif ini memiliki kelebihan masing-masing:
1.Kelebihan Perspektif Aquinas:
- Menjelaskan mengapa manusia masih bisa berbuat baik meski belum percaya
- Memberikan dasar untuk menghargai ilmu pengetahuan dan seni
- Mengakui bahwa setiap manusia masih memiliki martabat tinggi
2.Kelebihan Perspektif Calvin:
- Serius dengan betapa rusaknya manusia karena dosa
- Menekankan bahwa kita benar-benar butuh pertolongan Allah
- Menjelaskan mengapa orang natural tidak bisa mengerti hal-hal rohani
IV.Aplikasi Praktis untuk Hari Ini
Bagaimana pemahaman ini membantu kehidupan sehari-hari kita?
1.Dari Perspektif Aquinas, Kita Belajar:
- Menghargai semua orang – bahkan yang belum percaya masih memiliki gambar Allah
- Menggunakan akal sehat – Allah memberikan kemampuan berpikir untuk dipakai
- Optimis dalam pelayanan – setiap orang punya potensi untuk mengenal kebenaran
2.Dari Perspektif Calvin, Kita Belajar:
- Rendah hati – kita tidak bisa menyelamatkan diri sendiri
- Bergantung penuh pada Allah – transformasi sejati hanya datang dari Allah
- Serius dengan dosa – tidak meremehkan betapa rusaknya hati manusia
Kesimpulan: Keseimbangan yang Bijak
Mungkin kita tidak perlu memilih satu sisi saja. Kedua perspektif ini bisa saling melengkapi:
Secara struktur, manusia masih memiliki kemampuan dasar sebagai gambar Allah (seperti yang ditekankan Aquinas). Secara relasional, hubungan kita dengan Allah sudah benar-benar rusak dan perlu diciptakan ulang (seperti yang ditekankan Calvin).
Kejadian 5:3 mengajarkan kita bahwa meski kita lahir dalam “gambar Adam” – mewarisi sifat berdosa – Allah tidak meninggalkan kita. Melalui Yesus Kristus, gambar Allah dapat dipulihkan atau bahkan diciptakan ulang dalam hidup kita.
Yang pasti, baik Aquinas maupun Calvin sepakat pada satu hal: kita membutuhkan Yesus Kristus. Entah untuk memperbaiki gambar Allah yang rusak atau menciptakan ulang gambar Allah yang hilang, hanya Yesus yang bisa melakukannya.
Jadi, ketika Anda membaca Kejadian 5:3 lagi, ingatlah: meski kita mewarisi “gambar Adam,” kita dipanggil untuk menjadi serupa dengan “gambar Kristus.” Itulah pengharapan dan panggilan hidup kita sebagai orang percaya.