DUA VISI PERANG DAN KEKUASAAN

Dua Visi Kristen tentang Perang dan Kekuasaan: Gereja Katolik vs. Kristen Kanan Amerika

PENDAHULUAN

Ketika Paus Fransiskus menyebut perang sebagai “kekalahan bagi kemanusiaan,” dan ketika seorang menteri pertahanan Amerika menyebut sekolah Kristen sebagai “kamp pelatihan untuk merebut kembali Amerika” — kita sedang menyaksikan dua visi Kristen yang bukan sekadar berbeda, melainkan saling bertentangan secara mendasar.

Esai ini bukan soal siapa yang lebih saleh. Ini soal dua cara membaca Injil yang menghasilkan sikap berbeda terhadap kekerasan, perang, dan kekuasaan.

 

I.Premis Gereja Katolik: Martabat, Bukan Dominasi

Ajaran Sosial Gereja (ASG) bertumpu pada satu keyakinan pokok: setiap manusia adalah gambar Allah (imago Dei) yang memiliki martabat tak terhapuskan. Dari sini lahirlah lima pilar sikap Gereja terhadap kekerasan dan perang.

Pertama, kekerasan dalam bentuk apapun adalah serangan langsung terhadap martabat manusia — bukan hanya kejahatan sosial, melainkan dosa teologis. Kedua, Injil Yesus memanggil pengikut-Nya kepada kasih bahkan terhadap musuh, sehingga kekerasan tidak bisa menjadi metode perjuangan Kristen. Ketiga, dokumen-dokumen resmi Gereja — dari Pacem in Terris hingga Gaudium et Spes — secara konsisten menolak perang sebagai solusi dan menyerukan keadilan internasional. Keempat, penggunaan kekuatan militer hanya bisa dibenarkan dalam batas sangat ketat (Teori Perang yang Adil), bukan sebagai opsi pertama. Kelima, perdamaian sejati hanya bisa dibangun di atas keadilan struktural — bukan sekadar ketiadaan konflik.

Penting untuk dicatat: Gereja Katolik bukan pasifis absolut. Ia mengakui bahwa dunia yang penuh dosa terkadang membutuhkan respons kekuatan. Tapi itu selalu jalan terakhir, bukan jalan pertama, dan tidak pernah dibungkus dengan retorika kejayaan nasional.

 

II.Siapa “Kristen Kanan Amerika” yang Dimaksud?

1.Perlu ada kejujuran di sini. Yang dimaksud bukan semua orang Kristen konservatif Amerika — banyak dari mereka justru sepakat dengan ASG dalam banyak hal. Yang dimaksud adalah arus yang dikenal sebagai Christian Nationalism: gerakan yang menggabungkan identitas Kristen dengan nasionalisme Amerika, kekuasaan politik, dan militarisme.

2.Dalam gerakan ini, Amerika dipandang sebagai bangsa yang dipilih Allah secara khusus untuk menjalankan misi ilahi di dunia. Perang dan kekuatan militer bukan sekadar alat pertahanan — melainkan ekspresi mandat surgawi. Sekolah Kristen disebut “kamp pelatihan.” Militer dijadikan alat pemulihan peradaban Kristen. Dan kekuasaan politik dipandang bukan sebagai pelayanan, melainkan sebagai penaklukan.

 

III.Empat Titik Pertentangan yang Konkret

  1. Sumber Otoritas: Universal vs. Nasional

ASG berangkat dari martabat manusia yang berlaku universal — untuk semua orang, di semua bangsa, tanpa syarat. Keadilan bagi orang miskin di Gaza sama mendesaknya dengan keadilan bagi warga Amerika. Tidak ada hierarki bangsa di hadapan Allah.

Christian Nationalism justru membangun hierarki itu. Amerika adalah bangsa terpilih. Kepentingan Amerika adalah kepentingan Allah. Dari sini, perang yang menguntungkan Amerika bisa dengan mudah disucikan sebagai kehendak ilahi — suatu klaim yang sepenuhnya ditolak oleh ASG.

  1. Teologi Kekuasaan: Pelayanan vs. Dominasi

Yesus di padang gurun menolak tawaran Iblis untuk mendapatkan kerajaan melalui kekuasaan dan paksaan. Ia memilih jalan salib — jalan pelayanan dan pengorbanan. ASG mewarisi logika ini: kekuasaan harus melayani yang lemah, bukan menguasai yang kalah.

Dominionism — teologi inti dari banyak kelompok Christian Right — berpijak pada tafsir Genesis 1:28 bahwa orang Kristen punya mandat untuk mengambil alih “tujuh gunung” kehidupan: pemerintahan, media, pendidikan, militer, dan seterusnya. Ini bukan pelayanan — ini penaklukan. Dan penaklukan hampir selalu membutuhkan kekerasan, setidaknya dalam bentuk simbolik.

  1. Perang sebagai Tragedi vs. Perang sebagai Alat

Bagi Gereja Katolik, bahkan perang yang “adil” tetap adalah tragedi — tanda kegagalan manusia, bukan kemenangan iman. Kompendium ASG menegaskan bahwa dalam beberapa dekade terakhir setiap perang diklaim “dibenarkan,” dan kita tidak bisa lagi memandang perang sebagai solusi yang valid.

Dalam retorika Christian Nationalism, perang bisa menjadi ekspresi keberanian Kristiani, pembelaan peradaban, bahkan penggenapan nubuatan. Konflik di Timur Tengah, misalnya, oleh sebagian kalangan Dispensasionalis dipandang sebagai tanda kedatangan Kristus — sehingga eskalasi konflik justru disambut, bukan dicegah.

  1. Kemiskinan sebagai Akar Konflik vs. Gejala Kelemahan Moral

ASG melihat kemiskinan dan ketidakadilan struktural sebagai akar konflik. Selama ada ketimpangan ekstrem, benih perang selalu siap tumbuh. Karena itu, membangun perdamaian berarti memperjuangkan keadilan ekonomi secara aktif.

Sebagian besar Christian Nationalism cenderung memandang kemiskinan sebagai akibat dari kelemahan moral individu atau kelompok — bukan produk dari sistem yang perlu diubah. Ini membuat mereka resisten terhadap program sosial dan internasionalisme, yang keduanya merupakan pilar penting dalam visi perdamaian versi ASG.

 

IV.Aplikasi Praktis untuk Pembaca

Perbedaan ini bukan sekadar debat akademis. Ia menyentuh pilihan-pilihan nyata dalam kehidupan beriman.

Ketika Anda membaca berita tentang konflik bersenjata — tanyakan: apakah respons saya dibentuk oleh solidaritas terhadap semua korban manusia, atau oleh keberpihakan kepada “pihak kita”? ASG memanggil kita untuk meratapi korban di kedua sisi.

Ketika tokoh agama menggunakan bahasa perang untuk memobilisasi jemaat secara politis — waspadai. Gereja dipanggil untuk menjadi pembawa damai, bukan tentara partisan.

Ketika perdebatan soal bantuan sosial, pengungsi, atau kerja sama internasional muncul — ingat bahwa bagi ASG, ini bukan isu politik sekunder. Ini adalah isu perdamaian, karena ketidakadilan adalah ibu dari konflik.

Dan yang paling mendasar: tanyakan selalu, apakah iman yang kita pegang memuliakan martabat semua manusia — termasuk musuh kita — atau hanya melindungi kepentingan kelompok kita?

Dua visi ini sama-sama mengklaim nama Kristus. Tapi yang satu berjalan menuju salib, dan yang lain menuju takhta. Gereja Katolik, dengan segala ketidaksempurnaannya, memilih jalan salib — jalan yang lambat, mahal, dan tidak populer, tapi itulah jalan yang diajarkan oleh Guru dari Nazaret.