JANGAN MELAMPAUI YANG ADA TERTULIS

PENDAHULUAN

Dalam kehidupan gereja dan iman sehari-hari, kita sering merasa yakin bahwa cara kita adalah yang paling benar. Kita menilai, membandingkan, bahkan menghakimi—kadang tanpa sadar. Di tengah kecenderungan ini, ada satu nasihat penting dari 1 Korintus 4:6: “supaya kamu jangan melampaui yang ada tertulis.” Kalimat ini sederhana, tetapi sangat dalam, dan tetap relevan hingga hari ini.

 

I.Memahami Maksud Paulus

Surat 1 Korintus ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Korintus yang sedang terpecah karena sikap membanggakan pemimpin rohani tertentu. Ada yang berkata, “aku dari Paulus,” yang lain “aku dari Apolos.” Di balik itu semua tersembunyi masalah yang lebih dalam: kesombongan rohani dan kecenderungan menghakimi.

Ketika Paulus berkata, “jangan melampaui yang ada tertulis,” ia sedang mengingatkan mereka untuk kembali kepada batas yang benar—yaitu firman Tuhan. Jangan menambahkan standar sendiri, jangan mengangkat opini pribadi menjadi ukuran rohani, dan jangan merasa diri lebih benar dari orang lain.

 

II.Ketika Kita Mulai Melampaui

Prinsip ini sangat nyata dalam kehidupan gereja masa kini.

1.Pertama, dalam perbedaan denominasi. Banyak perbedaan sebenarnya bukan soal inti iman, melainkan praktik atau tradisi. Namun, tidak jarang orang menganggap cara sendiri paling alkitabiah, lalu merendahkan yang lain.
Contoh praktis: seseorang berkata, “Kalau baptisan tidak selam, itu tidak sah,” padahal Alkitab tidak menetapkan satu metode mutlak. Di sini, preferensi pribadi diangkat menjadi standar firman.

2.Kedua, dalam gaya ibadah. Ada yang tenang dan liturgis, ada yang ekspresif dan penuh musik. Masalah muncul ketika selera pribadi dijadikan ukuran rohani.
Contoh praktis: menganggap gereja yang tidak mengangkat tangan saat menyanyi “kurang Roh Kudus,” atau sebaliknya menilai gereja yang ekspresif sebagai “terlalu duniawi.” Padahal Alkitab menekankan hati yang benar, bukan bentuk yang seragam.

3.Ketiga, dalam menghakimi kehidupan orang lain. Kita mudah menilai dari luar—siapa yang aktif, siapa yang diam, siapa yang jatuh. Namun, seperti diingatkan dalam 1 Korintus 4:5, hanya Tuhan yang mengetahui motivasi hati.
Contoh praktis: melihat seseorang jarang hadir ibadah lalu langsung menyimpulkan imannya dingin, tanpa tahu pergumulan pribadi yang sedang ia hadapi.

4.Keempat, dalam tradisi gereja. Tradisi bisa baik dan menolong, tetapi menjadi masalah ketika diperlakukan seolah-olah setara dengan firman Tuhan.
Contoh praktis: mewajibkan cara berpakaian tertentu ke gereja dan menganggap yang berbeda sebagai tidak hormat, padahal Alkitab tidak menentukan model pakaian tertentu.

5.Kelima, dalam dunia digital. Media sosial membuat orang cepat bereaksi dan menghakimi.
Contoh praktis: memberi label “sesat” hanya karena potongan video khotbah yang tidak lengkap, tanpa memahami konteksnya secara utuh.

 

III.Batas yang Sehat

Prinsip ini bukan berarti semua hal menjadi relatif. Ada kebenaran inti yang jelas dan tidak bisa ditawar: tentang Kristus, keselamatan oleh kasih karunia, dan panggilan hidup kudus. Dalam hal-hal ini, kita harus berdiri teguh.

Namun, di luar itu, kita dipanggil untuk memiliki kerendahan hati. Tidak semua hal perlu dipaksakan menjadi mutlak. Tidak semua perbedaan harus berujung pada penghakiman.

 

IV.Nasihat Pastoral

Firman ini mengundang kita untuk memeriksa hati. Apakah kita sungguh berdiri di atas firman Tuhan, atau diam-diam kita sedang meninggikan pendapat sendiri?

Hiduplah dengan keseimbangan yang indah: tegas dalam kebenaran, tetapi lembut terhadap sesama. Jangan lebih keras dari Tuhan dalam menilai orang lain, dan jangan lebih cepat menghakimi daripada Dia.

Belajarlah untuk berkata, “Jika Tuhan tidak menyatakannya dengan jelas, aku akan berhati-hati untuk tidak memaksakannya.” Di situlah kerendahan hati bertumbuh, dan di situlah kasih Kristus nyata.

Akhirnya, iman yang dewasa bukanlah iman yang paling keras suaranya, tetapi iman yang tahu batas—dan dengan rendah hati tinggal di dalam apa yang Tuhan sudah nyatakan.