EROPA SEDANG “GALAU”IDENTITAS

Tulisan di FB berjudul PERGESERAN TRIBALISME (DI) EROPA  oleh ReO Fiksiwan ini memotret fenomena yang sangat relevan: bagaimana “identitas kelompok” (tribalisme) kembali menguat di tengah dunia yang seharusnya semakin menyatu (globalisasi).

Berikut adalah ringkasan artikel tersebut dalam bahasa yang lebih moderat dan mudah dipahami, seolah kita sedang mengobrol di warung kopi:

 Ketika Eropa Sedang “Galau” Identitas

Bayangkan sebuah rumah besar bernama Eropa. Selama ini, rumah itu punya aturan dan penghuni yang tetap. Namun, belakangan ini, wajah penghuninya berubah drastis karena banyaknya pendatang. Hal ini memicu perdebatan panas: Apakah Eropa sedang kehilangan jati dirinya?

  1. Kabar yang Meresahkan

Di media sosial (seperti X), orang-orang mulai khawatir melihat data demografi. Misalnya, di kota-kota besar seperti London atau Brussels, warga asli mulai merasa menjadi minoritas. Nama “Mohammad” menjadi sangat populer, dan banyak area dianggap tidak lagi terkendali. Meskipun data ini perlu diperiksa kebenarannya, rasa takut kehilangan identitas itu nyata adanya.

  1. Insting “Kita vs Mereka”

Para ahli menjelaskan bahwa manusia secara alami memang suka berkelompok berdasarkan kesamaan—baik itu ras, agama, atau bahasa.

  • Dahulu: Manusia berkelompok berdasarkan simbol hewan (totem).
  • Sekarang: Simbolnya berubah jadi politik identitas.

Konflik muncul ketika kelompok “A” merasa terancam oleh kehadiran kelompok “B”.

  1. Dilema Pemimpin vs Rakyat

Seorang penulis bernama Douglas Murray bahkan dengan keras menyebut Eropa sedang “bunuh diri” karena kebijakan migrasi massal yang tidak terkendali. Para pemimpin ingin terbuka pada dunia, tapi rakyat di bawah merasa rumah mereka tidak lagi terasa seperti rumah sendiri.

  1. Pelajaran untuk Indonesia 

Indonesia sebenarnya sudah “berpengalaman” dalam hal ini. Kita punya ribuan suku dan identitas sejak lama, tapi bisa hidup berdampingan.

  • Risikonya: Jika kita gagal mengelola identitas ini dengan kreatif dan bijak, perbedaan bisa jadi perpecahan.
  • Solusinya: Kita butuh politik yang inklusif—politik yang merangkul semua orang tanpa menghilangkan identitas asli mereka.

Kesimpulan Sederhana

Tantangan dunia saat ini bukan cuma soal ekonomi atau teknologi, tapi soal perasaan. Bagaimana kita bisa tetap bangga dengan identitas kelompok kita (Tribalisme), tapi tetap mau bekerja sama dengan dunia luar (Globalisme).

Jalan tengahnya adalah Pluralisme: Mengakui bahwa kita berbeda, tapi tetap berada dalam satu perahu yang sama. Seperti lagu “We Are The World”, intinya adalah tanggung jawab bersama untuk saling peduli.