EVOLUSI SIKAP KATOLIK TERHADAP PROTESTAN

DARI KUTUKAN(ANATHEMA) KE SAUDARA TERPISAH

Evolusi Sikap Katolik terhadap Protestan dari Trente ke Vatikan II

PENDAHULUAN

Dalam sejarah hubungan Katolik-Protestan, dua konsili ekumenis telah membentuk cara pandang Gereja Katolik secara fundamental: Konsili Trente (1545-1563) dan Konsili Vatikan II (1962-1965). Perbedaan pendekatan kedua konsili ini tidak hanya mencerminkan perubahan zaman, tetapi juga transformasi mendalam dalam teologi dan pastoral Gereja Katolik.

 

I.Era Trente: Sikap Defensif dan Konfrontatif

1.Konsili Trente lahir sebagai respons langsung terhadap tantangan Reformasi Protestan. Konsili ini mengeluarkan pernyataan-pernyataan kunci dan klarifikasi doktrin Gereja, termasuk mengutuk apa yang didefinisikan sebagai bidah-bidah yang dilakukan oleh penganut Protestantisme. Trente adalah tanggapan formal Katolik Roma terhadap tantangan doktrinal Reformasi Protestan, sebagai klarifikasi ajaran Gereja terhadap bidah “Bible Alone” dan bidah-bidah lain.

2.Karakteristik utama sikap Trente terhadap Protestan adalah:

2.1.Anathema dan Kutukan Formal Konsili Trente mengeluarkan lebih dari 100 anathema (kutukan) terhadap ajaran-ajaran Protestan. Kutukan ini menyasar doktrin-doktrin inti Reformasi seperti sola fide (keselamatan hanya melalui iman), sola scriptura (otoritas Alkitab semata), pemahaman tentang pembenaran, dan sakramen-sakramen.

2.2.Kategorisasi sebagai “Bidah” Pernyataan-pernyataan yang dihasilkan Vatikan I menyebut orang-orang Protestan sebagai skismatik dan bidah. Terminologi ini mencerminkan pandangan bahwa Protestantisme adalah penyimpangan fundamental dari kebenaran Katolik.

 

II.Revolusi Vatikan II: Dari Musuh ke Saudara

1.Empat abad kemudian, Konsili Vatikan II menghadirkan paradigma yang revolusioner. Sebaliknya, retorika Vatikan II bersifat ramah, hangat, dan menenangkan. Orang-orang Protestan disebut “saudara-saudara terpisah” (separated brethren).

2.Perubahan Terminologi yang Signifikan Pada Vatikan II, Katolikisme Roma mengubah status orang Protestan dari “bidah” menjadi “saudara terpisah”. Ini dimaksudkan sebagai tindakan ekumenis untuk membuka kembali dialog antara Katolik dan Protestan.

3.Fokus pada Umat Allah Sementara Konsili Trente fokus pada sifat institusional gereja, Vatikan II berkonsentrasi pada citra umat Allah berdasarkan kesetaraan melalui baptisan. Pendekatan ini mengakui validitas baptisan Protestan dan elemen-elemen kebenaran yang ada dalam tradisi Protestan.

 

III.Kompleksitas Doktrinal: Kontinuitas vs. Diskontinuitas

Perubahan sikap ini menimbulkan pertanyaan teologis yang kompleks. Di mana Trente menyatakan bahwa Protestan (yang mempertahankan sola fide dan menolak otoritas Roma) terhilang, Vatikan II memperkenalkan kategori hermeneutis yang mempertanyakan kesimpulan ini.

Gereja Katolik mungkin merasa tepat untuk tidak menarik perhatian orang pada anathema-anathema ini, tetapi tidak dapat mencabutnya. Preferensi saat ini untuk pendekatan yang lebih lembut terhadap orang-orang yang tidak setuju dengan doktrin Katolik mungkin menjelaskan perbedaan yang tampak antara Konsili Trente dan gerakan ekumenis.

 

IV.Spektrum Sikap dalam Klerus Katolik Kontemporer

1.Romo-Romo “Tradisionalis” (Orientasi Trente)

Di dalam Gereja Katolik saat ini, masih ada sebagian imam yang cenderung mempertahankan sikap Trente yang lebih keras terhadap Protestan. Kelompok ini umumnya:

  • Menekankan perlunya konversi formal Protestan ke Katolik
  • Skeptis terhadap validitas sakramen Protestan di luar baptisan
  • Menekankan kesalahan-kesalahan doktrin Protestan secara eksplisit
  • Kurang antusias terhadap kegiatan ekumenis
  • Cenderung mengutip anathema Trente dalam homili atau pengajaran

Kelompok ini sering ditemukan di antara imam-imam yang terkait dengan gerakan tradisionalis Katolik, seperti Fraternity of St. Peter (FSSP) atau beberapa komunitas yang lebih konservatif.

2.Romo-Romo “Ekumenis” (Orientasi Vatikan II)

Di sisi lain, mayoritas klerus Katolik modern mengadopsi sepenuhnya semangat Vatikan II:

  • Aktif dalam dialog antaragama dan kegiatan ekumenis
  • Menekankan elemen-elemen kesamaan dengan Protestan
  • Menggunakan terminologi “saudara terpisah” secara konsisten
  • Mendorong kerjasama praktis dengan gereja-gereja Protestan
  • Fokus pada kesaksian bersama dalam isu-isu sosial

Kelompok ini mencakup mayoritas hierarchi Katolik modern, termasuk imam-imam muda yang dididik pasca-Vatikan II.

 

V.Implikasi Praktis di Indonesia

Di konteks Indonesia, perbedaan orientasi ini dapat terlihat dalam:

1.Kelompok Tradisionalis:

  • Lebih berhati-hati dalam kegiatan doa bersama antaragama
  • Menekankan perbedaan doktrinal dalam katekese
  • Kurang mendukung pernikahan campur Katolik-Protestan

2.Kelompok Ekumenis:

  • Aktif dalam forum-forum dialog Kristen
  • Mendukung kegiatan sosial bersama dengan gereja Protestan
  • Lebih fleksibel dalam pendekatan pastoral terhadap pernikahan campur

 

Kesimpulan: Sintesis yang Seimbang

Dokumen Pasca-Konsili mengatakan bahwa tujuan ekumenisme adalah mengubah pemikiran dan perilaku non-Katolik sehingga akhirnya semua orang Kristen akan bersatu dalam satu Gereja, dengan menyatakan “Kesatuan ini, kami percaya, berdiam dalam Gereja Katolik”.

Meski demikian, pendekatan Vatikan II menekankan bahwa kesatuan ini harus dicapai melalui dialog yang saling menghormati, bukan melalui polemik atau kutukan. Evolusi dari anathema Trente ke “saudara terpisah” Vatikan II mencerminkan kedewasaan teologis Gereja Katolik yang mampu mempertahankan keyakinan doktrinalnya sembari membuka diri pada dialog konstruktif.

Bagi umat Katolik hari ini, memahami kedua tradisi ini penting untuk menghargai kekayaan sejarah Gereja sembari merangkul visi ekumenis yang lebih inklusif dan dialogis.