Peristiwa di Kisah Para Rasul 8:14-17, di mana orang-orang Samaria yang sudah dibaptis dalam nama Tuhan Yesus belum menerima Roh Kudus sampai Petrus dan Yohanes menumpangkan tangan kepada mereka.
Ada beberapa penjelasan teologis untuk situasi unik ini:
I.Mengapa perlu penumpangan tangan di Samaria:
1.Transisi historis – Ini terjadi pada masa peralihan dari era Perjanjian Lama ke Baru. Pemberian Roh Kudus melalui penumpangan tangan rasul menunjukkan otoritas apostolik dan kesatuan gereja yang sedang berkembang.
2.Konteks Samaria – Orang Samaria memiliki sejarah permusuhan dengan orang Yahudi. Keterlibatan rasul dari Yerusalem menunjukkan bahwa Injil sungguh-sungguh untuk semua bangsa dan menjembatani perpecahan historis.
3.Validasi pelayanan Filipus – Penumpangan tangan oleh rasul memvalidasi pelayanan Filipus dan menunjukkan kesatuan dalam kepemimpinan gereja mula-mula.
II.Mengenai formula baptisan:
Pertanyaan mengenai formula baptisan:
1.Perintah Yesus: Dalam Matius 28:19, Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk membaptis “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Ini adalah perintah agung yang dikenal sebagai Amanat Agung.
2.Praktik Para Rasul: Namun, dalam Kisah Para Rasul, kita seringkali membaca tentang orang-orang yang dibaptis “dalam nama Yesus Kristus” atau “dalam nama Tuhan Yesus” (misalnya, Kisah Para Rasul 2:38, 8:16, 19:5).
3.Sintesis: Banyak teolog berpendapat bahwa frasa “dalam nama Yesus” dalam Kisah Para Rasul tidak dimaksudkan untuk meniadakan formula trinitaris, melainkan untuk menekankan otoritas Yesus di balik baptisan tersebut dan iman kepada-Nya sebagai syarat baptisan. Pembaptisan dalam nama Yesus berarti dibaptis atas dasar otoritas-Nya dan dalam persekutuan dengan-Nya. Formula trinitaris dari Matius 28:19 dianggap sebagai pengajaran doktrinal yang lebih lengkap tentang identitas Allah yang menganugerahkan keselamatan melalui Kristus.
**Jadi, meskipun narasi di Kisah Para Rasul mencatat praktik baptisan “dalam nama Tuhan Yesus,” ini tidak berarti bertentangan dengan perintah Yesus di Matius 28:19. Keduanya bisa dipahami sebagai aspek yang saling melengkapi dalam pengajaran dan praktik gereja mula-mula
III.Situasi masa kini:
1.Dalam teologi kebanyakan denominasi Kristen, Roh Kudus diterima pada saat seseorang sungguh-sungguh percaya dan dibaptis, tanpa perlu penumpangan tangan khusus dari rasul (karena era apostolik telah berakhir).
2.Pengalaman Roh Kudus: Meskipun penerimaan Roh Kudus terjadi saat seseorang percaya, pengalaman manifestasi dan kepenuhan Roh Kudus bisa menjadi proses yang berkelanjutan dalam kehidupan orang percaya. Ini bisa melalui doa pribadi, persekutuan, ibadah, dan ketaatan kepada firman Tuhan.
3.Peristiwa di Samaria adalah situasi transisional yang unik dalam sejarah gereja mula-mula, bukan pola yang harus diulang secara persis di setiap zaman.