Jika Yesus Bukan Allah: Apa Dampaknya bagi Keselamatan?
PENDAHULUAN
1.Perdebatan tentang siapa Yesus bukanlah isu kecil atau sekadar beda penafsiran. Ia menyentuh pusat iman Kristen: bagaimana manusia diselamatkan. Karena itu, ketika ada ajaran yang menyatakan bahwa Yesus bukan Allah, melainkan hanya Anak Allah yang istimewa dan utusan tertinggi, kita perlu bertanya dengan jujur: apa konsekuensi soteriologisnya?
2.Dalam teologi Kristen ada satu prinsip penting: siapa Kristus menentukan apa yang Ia kerjakan. Maka perbedaan kristologi pasti menghasilkan perbedaan pemahaman keselamatan.
I.Jika Yesus Bukan Allah, Maka Allah Tidak Turun Langsung Menyelamatkan
1.Dalam iman Kristen ortodoks, inti Injil adalah ini:
Allah sendiri datang menjumpai manusia.
2.Inkarnasi berarti Allah tidak mengutus wakil biasa, tetapi masuk ke dalam sejarah manusia. Namun jika Yesus bukan Allah, maka:
2.1.Allah tetap di “atas”,
2.2.dan yang datang hanyalah makhluk ciptaan, meskipun paling mulia.
3.Akibatnya, keselamatan bukan lagi tindakan Allah yang langsung, melainkan delegasi tugas. Padahal Alkitab berkata, “Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dalam Kristus” (2Kor 5:19). Jika Kristus bukan Allah, pernyataan ini kehilangan bobot terdalamnya.
II Salib Kehilangan Makna Penebusan yang Utuh
1.Dosa manusia bukan sekadar kesalahan moral. Dalam iman Kristen, dosa adalah pemberontakan terhadap Allah yang kudus. Karena itu, penebusan menuntut bobot yang sepadan.
2.Jika Yesus hanya makhluk:
- kematian-Nya bersifat terbatas,
- nilainya tidak bersifat ilahi.
3.Salib lalu mudah dipahami hanya sebagai:
- teladan pengorbanan,
- contoh ketaatan sempurna,
- inspirasi moral tertinggi.
4.Bukan lagi sebagai tindakan Allah yang menanggung dosa dunia. Dengan kata lain, salib berubah dari “karya penebusan” menjadi “pesan etika”.
III. Keselamatan Bergeser dari Anugerah ke Usaha Manusia
1.Ketika Yesus dipahami hanya sebagai manusia sempurna, maka keselamatan secara praktis berarti:
- meniru Yesus,
- mengikuti teladan-Nya,
- mencapai standar hidup yang Ia tunjukkan.
Masalahnya: siapa yang sanggup?
2.Dalam iman ortodoks, Yesus bukan hanya teladan, tetapi Juruselamat. Ia bukan hanya menunjukkan jalan, tetapi menjadi jalan itu sendiri. Keselamatan bukan hasil keberhasilan manusia, melainkan anugerah Allah yang sudah dikerjakan secara tuntas.
3.“Yesus berkata: Sudah selesai.”
Jika keselamatan masih bergantung pada kemampuan kita meniru-Nya, maka “selesai” itu menjadi relatif.
IV.Penyembahan kepada Yesus Menjadi Problematis
1.Sejak gereja mula-mula, orang Kristen:
- berdoa kepada Yesus,
- menyebut Dia Tuhan (Kyrios),
- rela mati demi nama-Nya.
2.Jika Yesus bukan Allah, maka praktik ini menjadi persoalan serius. Penyembahan kepada makhluk, betapa pun agungnya, bertentangan dengan iman Alkitab.
3.Namun justru fakta historis menunjukkan bahwa jemaat mula-mula menyembah Yesus tanpa ragu. Ini hanya masuk akal jika mereka percaya bahwa dalam diri Yesus, Allah sendiri hadir dan bertindak.
V.. Perbedaan Mendasar dengan Iman Kristen Ortodoks
1.Perbedaan ini bukan sekadar istilah, tetapi menyentuh fondasi iman:
- Iman ortodoks percaya pada Allah Tritunggal, bukan tiga Allah, tetapi satu Allah dalam relasi kasih.
- Yesus dipahami sebagai Allah sejati dan manusia sejati.
- Salib adalah pengorbanan Allah sendiri, bukan hanya makhluk pilihan.
- Keselamatan adalah anugerah, bukan hasil prestasi rohani manusia.
2.Karena itu gereja awal sangat tegas soal keilahian Kristus. Bukan karena spekulasi filsafat, tetapi karena pengalaman iman: kebangkitan, penyembahan, dan hidup baru dalam Kristus.
Penutup: Apa yang Sebenarnya Dipertaruhkan?
1.Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana namun menentukan:
Apakah Allah sendiri yang datang menyelamatkan manusia,
atau manusia diselamatkan oleh makhluk yang menunjukkan jalan?
2.Iman Kristen ortodoks menjawab dengan tegas:
Allah sendiri masuk ke dalam penderitaan manusia, memikul dosa, dan mengalahkan maut.
3.Karena itu, pengakuan bahwa Yesus sungguh Allah bukan tambahan doktrin, melainkan dasar pengharapan. Tanpanya, Injil berisiko berubah dari kabar baik menjadi tuntutan moral yang berat.
Dan di situlah letak taruhannya.