LIMA PENYIMPANGAN, SATU KORBAN

Lima Penyimpangan, Satu Korban: Yesus Kristus dalam Teologi Menyimpang

PENDAHULUAN

Identitas Yesus Kristus adalah fondasi iman Kristen. Namun, lima kelompok—Saksi Yehuwa, Oneness Pentakosta, Gereja Universalis Bersatu (UU), ajaran Pdt. Erastus Sabdono, dan Mormon—menawarkan pandangan yang menyimpang, meski dengan cara yang berbeda.

I.Kesamaan Fundamental: Menolak Tritunggal Ortodoks

1.Kelima kelompok ini memiliki satu kesamaan krusial: menolak doktrin Tritunggal ortodoks yang mengajarkan bahwa Allah adalah satu esensi dalam tiga pribadi yang setara—Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

2.Saksi Yehuwa dan Erastus Sabdono menolak Tritunggal karena menyangkal keilahian Kristus. Oneness menolaknya karena tidak percaya ada tiga pribadi berbeda. UU menolaknya karena pluralisme radikal mereka. Mormon menolaknya dengan mengajarkan henotheisme—tiga Allah yang benar-benar terpisah dalam tubuh dan substansi, bukan satu esensi ilahi.

3.Kesamaan lainnya adalah meminimalkan atau mendistorsi keunikan Kristus sebagai Juruselamat. Bagi Saksi Yehuwa, Yesus adalah ciptaan. Bagi Oneness, Yesus hanya manifestasi sementara. Bagi UU, Yesus hanya salah satu guru spiritual. Bagi Erastus Sabdono, Yesus subordinat di bawah Yehuwa. Bagi Mormon, penebusan Kristus tidak sempurna—keselamatan memerlukan ketaatan pada hukum dan ordinansi gereja mereka.

 

II.Perbedaan yang Kontras

Meski menolak ortodoksi, kelima kelompok ini mengambil arah yang sangat berbeda:

1.Saksi Yehuwa mengajarkan Yesus adalah malaikat agung Mikhael, makhluk ciptaan pertama Allah, bukan Allah sejati. Dia mulia, tetapi tetap subordinat dan terbatas.

2.Erastus Sabdono mirip Saksi Yehuwa dalam menyangkal keilahian Kristus. Yesus dipandang sebagai Anak Allah yang istimewa, utusan tertinggi Yehuwa, namun bukan Allah itu sendiri. Allah hanya satu pribadi: Yehuwa.

3.Mormon mengambil posisi unik dengan mengajarkan bahwa Yesus adalah anak rohani literal pertama dari Elohim dan istri surgawiNya, menjadikan Yesus dan Lucifer sebagai saudara kandung rohani. Yesus mencapai keilahian melalui perkembangan progresif, dan kelahiranNya di bumi adalah hasil hubungan seksual literal antara Elohim dengan Maria. Dalam sistem henotheisme Mormon, Yesus adalah salah satu dari tiga Allah terpisah, tetapi bukan Allah yang kekal sejak semula.

4.Oneness Pentakosta justru sebaliknya—mereka meninggikan Yesus secara ekstrem dengan mengajarkan bahwa Yesus adalah satu-satunya Allah. Tidak ada Bapa atau Roh Kudus sebagai pribadi terpisah; semuanya hanyalah “modus” atau “topeng” berbeda dari Yesus sendiri.

5.Gereja Universalis Bersatu paling radikal dalam pluralismenya. Yesus direduksi menjadi guru moral biasa setara dengan Buddha atau Konfusius. Bahkan lebih jauh, mereka tidak mengharuskan anggotanya percaya pada Yesus sama sekali.

 

III.Spektrum Kesalahan

Jika kita menempatkan kelima kelompok ini dalam spektrum:

  • Saksi Yehuwa & Erastus Sabdono (paling kiri): Yesus adalah makhluk ciptaan, bukan Allah
  • Mormon (kiri-tengah): Yesus adalah anak rohani yang berkembang menjadi Allah, saudara Lucifer
  • Ortodoksi Kristen (tengah): Yesus adalah Allah sejati dan manusia sejati, pribadi kedua Tritunggal
  • Oneness (kanan): Yesus adalah satu-satunya Allah, tidak ada trinitas
  • UU (di luar spektrum): Yesus hanyalah manusia biasa, tidak istimewa

 

Kesimpulan

1.Meski berbeda secara radikal, kelima ajaran ini gagal memahami misteri inkarnasi: Yesus yang adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia, pribadi yang berbeda namun setara dengan Bapa dalam Tritunggal kudus.

2.Alkitab mengajarkan keseimbangan yang ditolak semua kelompok ini: Yesus adalah Allah (Yohanes 1:1), namun berbeda dari Bapa (Yohanes 14:16). Dia adalah Pencipta (Kolose 1:16), bukan ciptaan atau saudara Lucifer. Dia adalah satu-satunya Juruselamat (Kisah 4:12), bukan salah satu dari banyak jalan. PenebuanNya sempurna dan mencukupi (Ibrani 10:14), tidak memerlukan tambahan ritual atau perbuatan manusia.

3.Penyimpangan dari kebenaran ini, betapapun terdengar rasional, spiritual, atau inklusif, pada akhirnya merusak fondasi keselamatan itu sendiri.