I.Pertanyaan yang Tidak Sungguh-Sungguh
Dalam kisah Jumat Agung, kita mendengar pertanyaan terkenal dari Pontius Pilatus: “Apakah kebenaran itu?” (Yohanes 18:38). Namun yang menarik, ia tidak menunggu jawaban. Ia bertanya, tetapi hatinya tidak benar-benar ingin tahu. Di hadapannya berdiri Yesus—Sang Kebenaran itu sendiri—namun Pilatus memilih untuk tidak melihat.
Di sini kita belajar sesuatu yang penting: masalah manusia bukan selalu karena tidak tahu, tetapi karena tidak mau tahu. Kebenaran sering kali hadir begitu dekat, namun hati kita bisa menjauh.
II.Kebenaran yang Kalah oleh Tekanan
Pilatus sebenarnya tidak menemukan kesalahan pada Yesus. Ia tahu bahwa Yesus tidak bersalah. Namun tekanan dari orang banyak, ketakutan akan posisi politik, dan keinginan menjaga kenyamanan diri membuatnya mengambil keputusan yang salah.
Ia tahu yang benar, tetapi tidak memilih yang benar.
Bukankah ini juga sering terjadi dalam hidup kita? Kita tahu apa yang Tuhan kehendaki, tetapi kita menundanya. Kita tahu mana yang benar, tetapi kita memilih jalan yang lebih aman, lebih nyaman, atau lebih menguntungkan diri sendiri.
III.Wajah Hati Manusia
Dalam terang teologi Reformed, kisah Pilatus mencerminkan apa yang ditulis dalam Roma 1:18—bahwa manusia menahan kebenaran dalam ketidakbenaran. Pilatus bukan orang yang tidak tahu. Ia adalah orang yang tahu, tetapi menolak.
Inilah gambaran dari kerusakan total manusia (total depravity). Bukan berarti manusia selalu sejahat mungkin, tetapi hati manusia telah begitu rusak sehingga, tanpa anugerah Allah, ia tidak akan memilih kebenaran.
Kita sering berpikir: “Kalau saja orang tahu lebih banyak, mereka pasti akan percaya.” Tetapi kisah ini menghancurkan ilusi itu. Pengetahuan saja tidak cukup. Pilatus sudah melihat, sudah mendengar—namun tetap menolak.
IV.Anugerah yang Kita Butuhkan
Jumat Agung mengingatkan kita bahwa kita tidak lebih baik dari Pilatus. Dalam banyak cara, kita pun pernah berdiri di tempat yang sama—mengetahui, tetapi tidak taat.
Namun kabar baiknya adalah ini: Yesus tetap pergi ke salib, bahkan untuk orang-orang seperti Pilatus… dan seperti kita. Ia mati bukan hanya untuk ketidaktahuan kita, tetapi juga untuk penolakan kita.
Karena itu, kita tidak hanya membutuhkan informasi tentang kebenaran. Kita membutuhkan hati yang diubahkan oleh anugerah.
Penutup: Memilih Kebenaran
Hari ini, pertanyaan Pilatus kembali menggema dalam hidup kita. Bukan sekadar, “Apa itu kebenaran?” tetapi, “Apakah kita mau menerimanya?”
Kebenaran itu bukan jauh. Ia sudah datang. Ia sudah berbicara. Ia sudah mati dan bangkit.