KEBODOHAN MENOLAK SAINS

Modern Stupidity (Bonus Esai): Ketika Iman Menolak Sains — Suara Bonhoeffer dari Tahun 1933

“Kebodohan adalah musuh yang lebih berbahaya daripada kejahatan.”
Dietrich Bonhoeffer

 

Pendahuluan: Iman yang Terancam oleh Pengetahuan

Di banyak kalangan Kristen, khususnya pada abad ke-20 awal dan bahkan hingga kini, muncul ketegangan antara iman dan sains. Teori evolusi, penanggalan geologis bumi, atau bahkan astronomi modern sering dianggap sebagai ancaman terhadap kebenaran Alkitab. Reaksi spontan dari sebagian gereja adalah menolak ilmu pengetahuan demi membela Kitab Suci secara harfiah.

Namun Dietrich Bonhoeffer, seorang teolog muda yang tajam dan mendalam, justru menyebut reaksi seperti itu sebagai bentuk kebodohan religius — bukan keberanian iman.

 

Bonhoeffer: Narasi Penciptaan Bukan Buku Sains

Dalam bukunya Creation and Fall (1933), Bonhoeffer membahas Kejadian 1–3 dengan cermat. Ia tidak membacanya sebagai laporan ilmiah tentang asal usul dunia, melainkan sebagai pengakuan iman kuno dari komunitas yang hidup dalam kosmologi Timur Dekat. Maka, katanya, bukan tugas narasi penciptaan untuk menjelaskan bagaimana dunia terbentuk secara teknis.

“Pertanyaan sains adalah bagaimana, pertanyaan iman adalah mengapa.”
Bonhoeffer, Creation and Fall

Artinya:

  • Sains menjawab mekanisme dan hukum-hukum alam.
  • Iman menyoroti tujuan, makna, dan relasi antara Pencipta dan ciptaan.

Keduanya berada pada bidang permainan yang berbeda, dan karenanya tidak perlu saling meniadakan. Menjadikan Alkitab sebagai buku sains bukan hanya salah tempat, tapi menurut Bonhoeffer, justru mengerdilkan makna rohaninya.

 

Kebodohan yang Berpakaian Religius

Bonhoeffer mengecam keras ketika gereja mengandalkan Alkitab untuk menolak temuan ilmiah modern. Ia menyebutnya sebagai bentuk “apologetika yang tidak bertanggung jawab.” Mengapa?

Karena:

  • Gereja seakan-akan sedang membela Tuhan, tapi sebenarnya sedang membela kesalahpahaman sendiri tentang Alkitab.
  • Ketika sains menunjukkan usia bumi miliaran tahun, atau bukti evolusi biologis, dan gereja tetap memaksakan Kejadian dibaca harfiah, maka iman tampak anti-rasional dan kehilangan kredibilitas.
  • Umat akhirnya dipaksa memilih antara iman atau pengetahuan, padahal keduanya bisa hidup berdampingan.

Dalam hal ini, Bonhoeffer memperingatkan bahwa penolakan terhadap sains bukanlah ekspresi iman yang kokoh, tetapi reaksi dari iman yang lemah dan ketakutan. Itulah bentuk kebodohan yang ia lawan: bukan karena kurang cerdas, tapi karena menolak membuka hati dan pikiran.

 

Mengapa Ini Relevan Hari Ini?

Di zaman digital sekarang, kita menghadapi pola serupa:

  • Orang menyebarkan teori konspirasi dengan bungkus rohani.
  • Ada gereja yang tetap menolak perubahan iklim, vaksinasi, atau genetika karena dianggap bertentangan dengan firman Tuhan.
  • Kebenaran ilmiah dianggap sebagai bagian dari “agenda dunia,” sementara pembacaan literal dijadikan satu-satunya ekspresi iman sejati.

Apa yang terjadi? Iman berubah menjadi benteng isolasi, bukan jembatan menuju keterlibatan dunia. Dan seperti kata Bonhoeffer, “kebodohan itu berbahaya karena ia tidak bisa dilawan dengan alasan logis — karena itu bukan soal logika, melainkan soal disposisi hati.”

 

Arah Bonhoeffer: Berani Bertanya, Berani Percaya

Bonhoeffer bukan teolog liberal yang mengorbankan iman di altar rasionalitas. Ia justru ingin memurnikan iman dari reaksi defensif dan mentalitas ketakutan. Ia mengajak umat Kristen untuk:

  • Memahami genre dan maksud asli Kitab Suci, bukan membacanya sebagai buku teknis.
  • Merangkul sains sebagai bagian dari anugerah umum Allah, bukan sebagai musuh iman.
  • Mengasah iman yang kritis dan rendah hati, bukan yang fanatik dan anti-pikir.

Baginya, iman sejati tidak takut pada fakta, karena Allah adalah Tuhan atas realitas, bukan Tuhan atas mitos.

 

Penutup: Hikmat dalam Dunia yang Salah Fokus

Bonhoeffer mengajak kita kembali kepada hikmat iman yang bertanggung jawab. Menolak sains bukanlah tanda iman kuat, melainkan tanda iman yang belum selesai. Justru di tengah dunia yang memisahkan iman dan pengetahuan, suara Bonhoeffer menjadi panggilan profetik:

Beriman bukan berarti berhenti berpikir. Dan berpikir dengan jernih—dalam terang Kristus—adalah bagian dari kesetiaan kepada Sang Kebenaran.

Dalam dunia yang terus memproduksi kebodohan spiritual yang dikurasi oleh ketakutan dan informasi palsu, jalan menuju hikmat dimulai dari keberanian untuk percaya dan berpikir secara dewasa. Itulah iman yang hidup, yang tidak perlu melawan sains—karena ia sudah berdiri di atas Kebenaran yang lebih dalam dari segalanya.