Di Ruang Konseling Carl Rogers: Pergumulan Ibu Penatua
1.Ibu Maria (nama samaran), seorang penatua gereja berlatar belakang Asia, duduk dengan gelisah di kursi empuk ruang konseling. Tangannya saling menggenggam. Di hadapannya, Carl Rogers (konselor psikolog ternama)—dengan tatapan hangat dan sikap tenang—menunggu, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mendengar.
2.“Apa yang membuat Ibu datang hari ini?” tanyanya lembut.
Ibu Maria menarik napas panjang. “Saya bingung, Pak. Gereja yang saya layani membuat keputusan yang terasa mengkhianati Alkitab. Seorang pendeta tamu dicoret karena berkhotbah menolak praktik LGBT. Saya merasa gereja sekarang merestui sesuatu yang bertentangan dengan iman saya. Saya ingin mundur, bahkan keluar.”
3.Rogers mengangguk perlahan. “Jadi Ibu merasa dikhianati oleh gereja yang selama ini Ibu layani, dan itu sangat melukai nilai terdalam Ibu.”
“Ya,” jawabnya lirih. “Seolah-olah kesetiaan saya pada Firman Tuhan tidak lagi punya tempat.”
4.Rogers tidak buru-buru memberi nasihat. Ia mencerminkan kembali perasaan kliennya, teknik khas pendekatan person-centered. “Saya mendengar ada dua hal besar di sini: kesetiaan Ibu pada iman, dan rasa kehilangan tempat aman rohani.”
5.Air mata mulai menggenang di mata Ibu Maria. “Saya tidak membenci orang LGBT. Saya mengasihi mereka sebagai manusia. Tapi saya percaya praktik itu salah. Sekarang saya seperti dianggap tidak inklusif.”
6.Rogers mencondongkan badan sedikit ke depan. “Ibu merasa disalahpahami. Seolah-olah memegang keyakinan teologis membuat Ibu dilabeli tidak penuh kasih.”
Ibu Maria mengangguk. Di ruang itu, untuk pertama kalinya, ia merasa didengar tanpa dihakimi.
7.Rogers lalu berkata pelan, “Dalam pendekatan saya, saya percaya setiap orang memiliki organismic valuing process—kompas batin yang menunjukkan apa yang benar bagi dirinya. Saat keputusan gereja bertabrakan dengan kompas batin Ibu, muncullah konflik yang menyakitkan.”
“Jadi wajar kalau saya merasa kacau?” tanya Ibu Maria.
8.“Sangat wajar,” jawab Rogers. “Yang penting bukan langsung memutuskan pergi atau bertahan, tetapi memahami apa yang sebenarnya Ibu butuhkan saat ini.”
Ia mengajak Ibu Maria menutup mata sejenak. “Bayangkan dua kemungkinan: satu, Ibu mundur dari gereja. Dua, Ibu tetap bertahan dan berdialog. Perhatikan reaksi batin Ibu pada masing-masing gambaran.”
9.Setelah hening beberapa detik, Ibu Maria berkata, “Jika saya pergi, ada kelegaan… tapi juga kesedihan dan rasa gagal. Jika saya bertahan, ada ketegangan… tapi juga harapan kecil bahwa suara saya masih bisa berarti.”
10.Rogers tersenyum tipis. “Di situ kita melihat bahwa batin Ibu belum sepenuhnya siap pergi. Ada bagian diri Ibu yang masih ingin setia hadir.”
“Tapi bagaimana kalau saya dianggap keras dan kolot?” tanya Ibu Maria.
11.Rogers menjawab, “Dalam terapi, saya menekankan congruence—keaslian. Ibu tidak harus menjadi orang lain demi diterima. Keaslian yang penuh empati sering kali lebih kuat daripada perlawanan frontal.”
Ia melanjutkan, “Mungkin langkah pertama bukanlah keputusan besar, melainkan percakapan jujur dengan majelis. Bukan untuk menyerang, tetapi untuk menyatakan perasaan dan nilai Ibu. ‘Saya merasa terluka, saya merasa iman saya tidak lagi punya tempat.’ Itu bahasa pengalaman, bukan bahasa tuduhan.”
12.Ibu Maria menghela napas. “Saya selalu diajari untuk diam demi harmoni.”
“Dan sekarang harmoni itu justru membuat Ibu terluka,” kata Rogers lembut. “Kadang kesetiaan pada diri sendiri adalah bentuk kasih yang paling jujur—baik kepada diri sendiri maupun kepada komunitas.”
13.Di akhir sesi, Rogers tidak berkata, “Ibu harus bertahan,” atau, “Ibu harus pergi.” Ia hanya menegaskan, “Keputusan terbaik adalah keputusan yang lahir dari batin yang didengar, bukan dari luka yang ditekan.”
14.Saat Ibu Maria berdiri untuk pulang, langkahnya belum ringan. Tapi hatinya tidak lagi seberat tadi. Ia belum tahu apakah ia akan mundur atau bertahan. Namun satu hal jelas: pergumulannya bukan tanda iman yang lemah, melainkan tanda hati nurani yang hidup.
15.Dan mungkin, di antara kesetiaan pada Firman dan kasih pada sesama, ia sedang dipanggil bukan untuk memilih salah satu, tetapi untuk belajar berjalan dengan jujur di tengah ketegangan itu.