MENGENAL EKSISTENSIALISME KIERKEGAARD

Hidup Itu Pilihan: Mengenal Eksistensialisme ala Soren Kierkegaard

PENDAHULUAN 

Pernah merasa hidup ini penuh pilihan, dan setiap pilihan itu terasa berat? Atau mungkin Anda bertanya-tanya, “Apa sih tujuan hidupku?” Nah, kalau pernah, berarti Anda sedikit banyak sudah merasakan apa yang dipikirkan oleh seorang filsuf asal Denmark bernama Soren Kierkegaard. Dia ini bisa dibilang bapaknya filsafat eksistensialisme.

Kierkegaard hidup di abad ke-19, dan ia melihat banyak orang saat itu hidup mengikuti aturan dan kebiasaan tanpa benar-benar memikirkannya. Baginya, ini masalah besar. Mari kita bedah beberapa ide utamanya:

 

1.Keunikan Setiap Individu (Bukan Sekadar Nomor!)

Coba bayangkan Anda berdiri di tengah keramaian. Kierkegaard ingin kita sadar, bahwa meskipun kita bagian dari keramaian, setiap orang adalah individu yang unik. Kita bukan sekadar angka atau bagian dari “massa”. Kita punya pikiran, perasaan, dan pengalaman yang berbeda-beda.

Jadi, filsafatnya menekankan bahwa kita harus melihat diri kita sebagai “Aku” yang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, bukan sekadar mengikuti apa kata orang banyak. Ini adalah awal dari kebebasan kita.

 

 2.Pilihan dan Tanggung Jawab (Bikin Deg-Degan Tapi Penting!)

Ini dia inti dari eksistensialisme Kierkegaard: hidup itu tentang pilihan. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, kita terus-menerus membuat pilihan. Mau makan apa? Mau kerja apa? Mau jadi orang seperti apa?

Setiap pilihan yang kita buat, sekecil apa pun, akan membentuk diri kita. Dan yang paling penting, kita bertanggung jawab penuh atas pilihan-pilihan itu. Tidak bisa menyalahkan orang lain, takdir, atau keadaan. Kedengarannya menakutkan, kan? Tapi di situlah letak kebebasan dan kesempatan kita untuk benar-benar menjadi diri sendiri.

 

3.Kecemasan dan Ketakutan (Jangan Lari!)

Dengan kebebasan memilih tadi, datanglah kecemasan (anxiety) dan ketakutan (dread). Kok bisa? Karena ketika kita sadar kita bebas memilih dan bertanggung jawab, ada potensi kita memilih yang salah. Ini wajar dan manusiawi.

Bagi Kierkegaard, kecemasan ini bukanlah hal buruk yang harus dihindari. Justru, kecemasan adalah tanda bahwa kita sedang menghadapi kebebasan kita. Ini adalah kesempatan untuk bertumbuh dan membuat lompatan iman (istilah Kierkegaard) menuju pemahaman diri yang lebih dalam.

 

4.Lompatan Iman (Lebih dari Sekadar Agama)

Istilah “lompatan iman” sering dikaitkan dengan agama, dan memang Kierkegaard adalah seorang teolog. Namun, dalam konteks eksistensialismenya, “lompatan iman” bisa diartikan lebih luas.

Ini adalah momen di mana kita memutuskan untuk bertindak, meskipun ada ketidakpastian dan risiko. Misalnya, memutuskan untuk mengejar impian yang tidak pasti, atau berkomitmen pada sebuah hubungan meskipun tahu ada tantangan. Itu adalah lompatan, karena tidak ada jaminan sukses, tapi kita tetap memilih untuk melangkah. Ini adalah cara kita membentuk makna dalam hidup kita.

 

5.Lalu, Apa Artinya Ini Bagi Kita Orang Kristen?

Bagi orang Kristen, pemikiran Kierkegaard menawarkan perspektif yang sangat dalam tentang iman dan relasi kita dengan Tuhan. Ia menentang agama yang sekadar “ikut-ikutan” atau tradisi kosong.

5.1.Iman adalah Pilihan Pribadi, Bukan Warisan: Kierkegaard menantang gagasan bahwa menjadi Kristen hanya karena lahir dari keluarga Kristen atau hidup di lingkungan Kristen. Baginya, iman sejati adalah keputusan pribadi yang radikal, sebuah “lompatan iman” individu. Ini bukan soal “kebiasaan” pergi ke gereja, tapi komitmen hati yang mendalam. Kita harus secara sadar memilih untuk percaya dan mengikut Kristus, bukan sekadar menerima apa yang diajarkan sejak kecil.

5.2.Hubungan Personal dengan Tuhan: Eksistensialisme Kierkegaard sangat menekankan subjektivitas dan individualitas. Ini berarti, hubungan kita dengan Tuhan tidak bisa diwakilkan oleh orang lain, atau disamakan dengan hubungan orang lain. Itu adalah hubungan yang sangat pribadi, unik, dan langsung. Kita dipanggil untuk mengenal Tuhan secara intim, bukan melalui perantara atau sekadar definisi doktrin.

5.3.Tanggung Jawab Moral dan Etika: Dalam kekristenan, kita diberi kebebasan memilih untuk mengikuti perintah Tuhan atau tidak. Kierkegaard akan mengatakan bahwa dengan kebebasan itu, datanglah tanggung jawab yang besar. Setiap pilihan yang kita buat—baik untuk berbuat baik, mengasihi sesama, atau melawan dosa—adalah cerminan dari iman kita yang hidup. Kita tidak bisa menyalahkan “takdir” atau “kehendak Tuhan” jika kita memilih untuk berbuat dosa; itu adalah pilihan bebas kita.

 

6.Kecemasan dan Krisis Iman: Kierkegaard memahami bahwa perjalanan iman seringkali diwarnai oleh kecemasan dan keraguan. Ini bukan tanda iman yang lemah, melainkan bagian dari proses pendewasaan iman. Ketika kita merasa cemas atau meragukan sesuatu tentang iman kita, itu adalah kesempatan untuk menggali lebih dalam, mencari jawaban, dan memperkuat keyakinan kita. Itu adalah momen “lompatan iman” di mana kita memilih untuk terus percaya, meskipun kita tidak sepenuhnya memahami segala sesuatu.

 

7.Menjadi “Saksi” yang Otentik: Di mata Kierkegaard, seorang Kristen sejati adalah orang yang hidup secara otentik sesuai dengan imannya, bahkan jika itu berarti berbeda dari mayoritas. Ia menolak kekristenan yang “nyaman” dan tidak menuntut. Bagi kita, ini berarti berani hidup berbeda, berani membela kebenaran Alkitab, dan berani menunjukkan kasih Kristus dalam tindakan nyata, bahkan jika itu tidak populer atau menyebabkan kesulitan.

 

Intinya…

Soren Kierkegaard mengajak kita untuk tidak hidup sekadar “mengalir” atau mengikuti arus, apalagi dalam iman. Ia ingin kita bangun, sadar akan keunikan diri kita, berani mengambil pilihan, bertanggung jawab atasnya, dan menghadapi kecemasan yang muncul dari kebebasan itu. Bagi orang Kristen, ini berarti menjalani iman secara pribadi, otentik, dan dengan penuh tanggung jawab, bukan sekadar warisan atau tradisi.

Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda siap untuk membuat “lompatan iman” dalam hidup Anda dan menjalani kekristenan Anda dengan lebih otentik?