Seri Kasih yang Banyak Sisi (Bagian 2): Mengenal Tuhan yang Maha Pengasih (Gracious)
. Pada bagian pertama, kita telah melihat bagaimana hakikat Tuhan yang adalah Kasih memancar menjadi sifat Penyayang saat Ia melihat penderitaan kita. Sekarang, kita akan memutar “berlian” Kasih Ilahi itu sedikit ke samping untuk melihat kilauan warna berikutnya yang tidak kalah memikat: Pengasih (Gracious).
Jika sifat Penyayang (Mercy) membuat Tuhan menahan hukuman yang sebenarnya pantas kita terima, maka sifat Pengasih (Grace) adalah langkah lebih jauh: Tuhan justru melimpahkan kebaikan dan hadiah yang sebenarnya sama sekali tidak pantas kita dapatkan.
I.Pancaran Kasih Tuhan: Hadiah yang Cuma-Cuma
Dalam bahasa sehari-hari, kita sering mendengar kata “kasih karunia” atau “anugerah”. Sifat Pengasih Tuhan berarti Ia adalah pribadi yang sangat suka memberi secara cuma-cuma. Ia tidak menggunakan sistem “transaksional” atau untung-rugi seperti dunia ini. Tuhan tidak menunggu kita menjadi manusia yang sempurna, suci, atau tanpa cela terlebih dahulu baru Ia mau melimpahkan kebaikan-Nya.
Bayangkan sebuah skenario sederhana. Seorang anak remaja melanggar aturan rumah, pulang larut malam, dan merusakkan sepeda motor ayahnya karena ngebut. Alih-alih mengusir atau memarahi anak itu setelah ia meminta maaf (mercy), sang ayah keesokan harinya justru mengajak anak tersebut ke toko buku, membelikan buku yang sudah lama diidamkan si anak, lalu memasakkan makanan kesukaannya. Anak itu tentu tahu ia tidak layak menerima hadiah tersebut setelah kesalahan yang dibuatnya. Hadiah itu murni lahir dari kemurahan hati sang ayah.
Seperti itulah sifat Pengasih Tuhan. Napas hidup, kesehatan, keindahan alam, hingga pengampunan dan keselamatan yang kita nikmati hari ini bukanlah “gaji” atas kerja keras spiritual kita, melainkan hadiah gratis dari Tuhan yang Maha Pengasih.
II.Kontras dengan Manusia: Hitung-Hitungan dalam Hubungan
Mengapa sifat pengasih (gracious) ini sangat langka dan sulit ditemukan pada diri manusia? Kembali lagi kepada hakikat kita. Sebagai makhluk ciptaan yang terbatas, manusia secara alami memiliki mentalitas “toko” atau hitung-hitungan.
Kita cenderung hanya berbuat baik kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita. Kita memberi hadiah karena ada momen tertentu, atau karena mengharapkan balasan di kemudian hari. Jika ada orang yang bersikap dingin, cuek, atau pernah merugikan kita, jangankan memberi hadiah, menyapa mereka pun kita enggan. Manusia sangat sulit memberikan kebaikan secara cuma-cuma kepada orang yang dianggap “tidak layak” menerimanya.
III.Aplikasi Praktis: Menjawab Kasih Tuhan
Mengenal Tuhan yang Maha Pengasih seharusnya meruntuhkan kesombongan kita sekaligus mengubah cara kita memperlakukan orang lain. Berikut adalah aplikasi praktisnya:
- Kepada Tuhan: Bersyukur Tanpa Beban Bersalah
Sering kali ketika kita mendapatkan berkat atau hari yang menyenangkan, tiba-tiba muncul pikiran negatif: “Apakah saya pantas mendapatkan ini? Saya kan masih banyak kekurangan.” Sifat Pengasih Tuhan mengajarkan kita untuk melepaskan kecemasan itu.
- Aksinya: Terima setiap kebaikan Tuhan dengan hati yang lapang dan ucapan syukur yang tulus. Jangan mencoba “membayar” kebaikan Tuhan dengan rutinitas agama yang kaku agar merasa layak. Nikmati anugerah-Nya seperti seorang anak yang menikmati pemberian ayahnya.
- Kepada Sesama: Memberi Tanpa Syarat
Kita dipanggil untuk mencerminkan sifat Pengasih ini kepada orang-orang di sekitar kita, terutama mereka yang mungkin “menyebalkan” di mata kita.
- Aksinya: Lakukan satu kebaikan acak minggu ini kepada orang yang menurut Anda tidak layak mendapatkannya. Misalnya, belikan makanan kecil atau berikan senyuman yang tulus kepada rekan kerja yang selalu bermuka masam atau sering mengabaikan Anda. Bantulah tetangga yang jarang menyapa Anda ketika mereka kesulitan. Berbuat baiklah tanpa mengharapkan ucapan terima kasih atau balasan budi, murni karena Anda ingin mengalirkan anugerah yang sudah lebih dulu Anda terima.