MENIMBANG YESUS SANG BADUT?

Menimbang Yesus Sang Badut: Analisis Teologi Reformed terhadap Pemikiran Prof. Joas Adiprasetya

PENDAHULUAN

1.Beberapa waktu lalu, sebuah jurnal teologi berjudul Following Jesus the Clown (Mengikuti Yesus sang Badut) memancing diskusi hangat di kalangan Kristen Indonesia. Tulisan ini diterbitkan di jurnal internasional bereputasi, Theology Today (2013). Sebelum menimbang gagasannya, penting bagi kita untuk mengenal penulisnya.

2.Prof. Joas Adiprasetya adalah salah satu akademisi teologi paling terkemuka di Indonesia saat ini. Beliau merupakan pendeta jemaat GKI Pondok Indah, Jakarta, yang diutus menjadi Guru Besar Teologi Konstruktif di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Jakarta. Meraih gelar doktor dari Boston University, Amerika Serikat, Prof. Joas dikenal luas karena kemampuannya mengemas teologi secara kreatif dalam merespons perkembangan zaman.

 

I.Garis Besar Gagasan: Mengapa Yesus Disebut “Badut”?

1.Dalam jurnalnya, Prof. Joas tidak bermaksud menghina Yesus. Beliau menggunakan sosok “badut” sebagai metafora atau alat bantu untuk menjelaskan sifat pelayanan Yesus. Di dunia modern, badut sering kali dipandang sebelah mata, dianggap konyol, dan menjadi sasaran tawa. Namun, di balik topengnya, badut sebenarnya sedang menjungkirbalikkan logika dunia yang sombong.

2.Prof. Joas melihat ada kemiripan antara esensi badut dengan pelayanan Kristus. Yesus datang ke dunia dengan menolak segala kemegahan, kekuasaan politik, dan status sosial. Beliau merangkul orang-orang yang terpinggirkan dan memilih jalan salib—sebuah jalan yang oleh rasul Paulus disebut sebagai “kebodohan bagi dunia.” Melalui metafora ini, Prof. Joas ingin mengajak orang Kristen pascamodern untuk berani ikut menderita dan melepaskan keangkuhan diri demi mengikuti jejak Kristus yang penuh kerendahan hati.

 

II.Bedah Kritis dari Sudut Pandang Teologi Reformed

 Di lingkungan gereja Reformed (Calvinis), gagasan ini sangat menarik namun juga mengundang ketegangan teologis yang mendasar. Bagaimana kita harus meresponsnya secara kritis?

  1. Batasan Metafora dan Prinsip Sola Scriptura

Teologi Reformed berdiri kokoh di atas prinsip Sola Scriptura (Hanya Alkitab). Alkitab adalah tolok ukur tertinggi untuk memahami siapa Allah. Kaum Reformed tidak menolak penggunaan metafora, tetapi metafora tersebut harus dikontrol ketat oleh teks Kitab Suci.

Alkitab sudah menyediakan metafora yang agung untuk menjelaskan kerendahan hati Yesus, misalnya sebagai Hamba yang Menderita (Suffering Servant) dalam Yesaya 53 atau Sang Firman yang Menjadi Manusia (Logos) dalam Yohanes 1. Ketika kita menggunakan istilah “badut”—yang sarat dengan konotasi komedi dan hiburan tiruan di era modern—kita berisiko mendistorsi kebenaran objektif Alkitab dan mengaburkan esensi kudus dari pribadi Kristus.

 

  1. Misteri Kenosis vs. Absurditas Komikal

Prof. Joas menggunakan analogi badut untuk menjelaskan konsep Kenosis, yaitu peristiwa di mana Kristus “mengosongkan diri-Nya” dan mengambil rupa seorang hamba (Filipi 2:7).

[Kemuliaan Ilahi] —> [Kenosis / Pengosongan Diri] —> [Salib: Kebodohan bagi Dunia]

                                                                |

                                                 (Pendekatan Badut vs. Nabi, Imam, Raja)

Teologi Reformed menekankan bahwa dalam keadaan-Nya yang paling rendah sekalipun (bahkan saat tergantung di atas salib), Kristus tidak pernah kehilangan esensi keilahian dan keagungan-Nya. Penderitaan-Nya di salib bukanlah sebuah pertunjukan absurditas yang memancing ironi atau tawa seperti aksi badut. Salib adalah realitas yang mengerikan, sakral, dan penuh bobot teologis, di mana Kristus menanggung murka Allah yang adil atas dosa-dosa kita. Kebodohan salib bagi dunia bukanlah lelucon, melainkan misteri hikmat Allah yang melampaui rasio manusia.

 

  1. Jabatan Kristus: Munus Triplex

Dalam tradisi Reformed, Yesus dipahami melalui tiga jabatan utamanya (Munus Triplex): Nabi yang menyatakan kebenaran Allah, Imam yang mempersembahkan diri-Nya sebagai korban tebusan, dan Raja yang berdaulat atas sejarah. Metafora Yesus sebagai badut dikhawatirkan dapat mereduksi wibawa Kristus sebagai Raja yang berdaulat dan Hakim yang adil. Badut mendekatkan diri melalui kelemahan yang menggelikan, sedangkan Kristus mendekatkan diri melalui kasih karunia yang menuntut pertobatan dan kegentaran yang kudus (fear of the Lord).

 

III.Pegangan Pastoral untuk Jemaat Awam

Sebagai jemaat awam, bagaimana kita menyikapi diskusi teologis yang berat seperti ini? Berikut adalah tiga pedoman praktis yang bisa menjadi kompas iman kita:

  • 1.Hargai Karya Akademis Tanpa Harus Menelannya Mentah-Mentah: Kita perlu bersyukur atas teolog seperti Prof. Joas yang memicu kita untuk berpikir kritis. Jurnal tersebut ditulis untuk ranah diskusi akademis, bukan sebagai panduan liturgi atau khotbah Minggu di mimbar gereja Anda.
  • 2.Kembali ke Alkitab Saat Menguji Gagasan Baru: Jika Anda mendengar sebutan atau konsep baru tentang Yesus yang terdengar asing, ujilah dengan membaca Kitab Suci. Apakah konsep tersebut memperdalam rasa hormat dan kagum Anda kepada Allah yang berdaulat, atau justru membuat Anda memandang remeh kekudusan-Nya?
  • 3.Pandanglah Salib dengan Kegentaran dan Sukacita: Ingatlah bahwa Yesus Kristus menyelamatkan kita bukan dengan cara menghibur kita dari panggung sandiwara. Dia menyelamatkan kita dengan menumpahkan darah-Nya secara nyata di atas bukit Golgotha. Tetaplah sujud menyembah Dia sebagai Nabi, Imam, dan Raja kita yang agung, sembari terus belajar hidup rendah hati di hadapan-Nya.