MENYAMBUT KEJUTAN ILAHI

Khotbah    Pdt. Peter Abet Nego Wijaya  di GKI Samanhudi  1 Januari 2026

https://www.youtube.com/live/hCoU9IXf2x8?si=Jvzpa2Cg6CHDegNw

Menyambut Kejutan Ilahi: Menemukan Kedamaian di Tengah Ketidakpastian

PENDAHULUAN

Memasuki tahun yang baru sering kali memicu campuran emosi yang kontradiktif: antusiasme akan harapan baru, namun juga kecemasan akan ketidaktahuan. Dalam khotbah awal tahun 2026, Pdt. Peter Abet ego Wijaya mengajak kita merenungkan tema “Menyambut Kejutan Ilahi”. Pesan ini menjadi pengingat krusial bahwa di balik setiap tikungan hidup yang tak terduga, ada tangan Tuhan yang sedang bekerja.

I.Memahami Hakikat Waktu: Antara Jemen dan Et

Pdt. Peter mendasarkan perenungannya pada Pengkhotbah 3:1-13. Beliau menyoroti kekayaan makna kata “waktu” dalam bahasa aslinya yang memberikan perspektif baru bagi kita:

  1. Jemen (Masa): Merujuk pada rentetan kronologis (Senin ke Selasa, dst). Ini adalah waktu yang berada sepenuhnya dalam kendali kedaulatan Tuhan.
  2. Et (Momen/Kesempatan): Inilah yang sering kita sebut sebagai Kairos. Dari 28 kali kata “waktu” muncul dalam perikop tersebut, hampir semuanya menggunakan kata Et. Ini berarti hidup bukan sekadar urutan jam yang berputar, melainkan kumpulan momen dan kesempatan yang menuntut respons iman kita.

Kejutan ilahi sering kali hadir dalam bentuk Et—momen-momen yang tidak kita rencanakan, baik itu suka maupun duka, yang menjadi titik perjumpaan kita dengan kasih Tuhan.

II.Seni Membedakan: Kunci Kedamaian Hati

Salah satu poin paling praktis dalam khotbah ini adalah bagaimana kita mengelola rasa khawatir. Pdt. Peter mengembangkan Serenity Prayer menjadi enam langkah sistematis untuk membedakan hal-hal dalam hidup:

  • Terimalah apa yang tidak dapat diubah dan berada di luar kemampuan kita (seperti masa lalu atau kehilangan orang terkasih).
  • Usahakanlah apa yang dapat diubah dan berada di dalam jangkauan kemampuan kita dengan hikmat Tuhan.

Ketidakdamaian sering kali muncul karena kita memaksakan diri untuk mengubah apa yang tidak bisa diubah, atau justru menyerah pada hal-hal yang sebenarnya masih bisa kita upayakan melalui pertolongan-Nya.

III.Krisis sebagai Pemicu Perubahan

Menariknya, Pdt. Peter mengaitkan konsep krisis dengan iman. Jika dunia melihat krisis sebagai peluang keuntungan materi (cuan), maka secara iman, krisis adalah “pemicu perubahan” atau kesempatan bagi Tuhan untuk berkarya.

Di balik “hujan” (pergumulan), selalu ada “pelangi” (janji Tuhan). Masalah kesehatan, kesulitan pekerjaan, atau tantangan keluarga bukan sekadar beban, melainkan momen di mana Tuhan ingin menyatakan kuasa-Nya jika kita menanggapinya dengan sikap hati yang benar.

IV.Menutup dengan Syukur dan Kesederhanaan

Khotbah ini ditutup dengan ajakan untuk menyederhanakan hidup. Hidup yang “ribet” sering kali berakar dari kurangnya rasa syukur. Dengan mengucap syukur, kita mampu melihat bahwa hidup adalah kesempatan untuk menjadi berkat, bahkan saat kita merasa tidak berdaya.

Memasuki tahun yang baru, kita tidak perlu tahu secara detail apa yang akan terjadi di hari esok. Cukuplah kita tahu siapa yang memegang hari esok tersebut. Mari melangkah dengan langkah tegap, menyambut setiap kejutan ilahi dengan keyakinan bahwa “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya