PERANG_TAMPAK DAN TIDAK TAMPAK

Perang yang Tampak dan Perang yang Tidak Tampak: Membaca Dunia dengan Lensa Thomas Brooks

I. Mengenal Thomas Brooks

Thomas Brooks (1608-1680) adalah pendeta Puritan Inggris yang melayani di London. Ia dikenal lewat tulisan-tulisannya yang hangat, kaya ilustrasi, dan sarat pengutipan Alkitab. Setelah Act of Uniformity 1662, ia tetap berkhotbah di tengah masa-masa sulit bagi para pendeta yang tidak tunduk pada aturan gereja negara. Karyanya yang paling banyak dibaca adalah Precious Remedies Against Satan’s Devices (1652), sebuah buku yang membongkar cara-cara licik Iblis menjerat orang percaya, lalu menawarkan penawar rohani bagi tiap tipu daya itu. Brooks bukan pengamat politik. Ia seorang gembala yang ingin jemaatnya mengenali musuh dan berlindung pada Kristus. Karena itulah pemikirannya layak kita pinjam untuk membaca zaman ini.

II. Dua Lapisan Peristiwa

Pandemi COVID-19, perang Rusia-Ukraina, ketegangan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, serta konflik Houthi dengan Arab Saudi biasanya dibaca melalui politik, ekonomi, sejarah, dan keamanan. Pembacaan itu berguna dan tidak perlu ditolak. Namun Alkitab mengajarkan ada lapisan lain: “perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap ini” (Efesus 6:12). Brooks membantu kita membaca lapisan itu tanpa jatuh pada spekulasi, sebab ia tidak menunjuk siapa pun sebagai kaki tangan Iblis, melainkan menyingkap pola kerjanya.

Satu catatan penting: Alkitab tidak memberi kita wewenang menyebut pihak tertentu sebagai “pihak Iblis” dalam konflik-konflik ini. Dosa manusia, kepentingan, dan keputusan politik nyata adanya, dan manusia bertanggung jawab atasnya. Pembacaan rohani tidak menggantikan analisis lain, tetapi melengkapinya.

III. Alasan yang Masuk Akal sebagai Umpan

Menurut Brooks, tipu daya Iblis yang paling ampuh adalah menyajikan dosa dengan wajah yang pantas. Ia menyembunyikan kail di balik umpan. Perhatikan alasan yang menyertai hampir setiap konflik: membela diri, melindungi rakyat, menjaga kehormatan bangsa, mencegah ancaman sebelum terlambat. Banyak dari alasan itu sungguh masuk akal, dan sebagian bahkan sah. Justru di situlah kelicikannya. Umpan yang tampak benar membuat hati nurani tertidur, sehingga spiral kekerasan berjalan tanpa terasa.

IV. Ketakutan sebagai Senjata

Pandemi memperlihatkan bagaimana ketakutan dapat menguasai manusia: kecurigaan antarbangsa, perebutan sumber daya, dan retaknya kepercayaan. Brooks mengingatkan bahwa Iblis suka memakai ketakutan untuk menjauhkan jiwa dari Allah dan sesamanya. Kini ketakutan yang sama mendorong negara-negara berlomba membangun persenjataan. Setiap pihak merasa sedang bertahan, dan karena itu merasa benar. Perlombaan senjata, termasuk nuklir, lahir dari logika “kami hanya ingin aman”. Padahal keamanan sejati tidak ditemukan pada persenjataan, sebab “tidak ada kuda perang yang menjamin kemenangan” (Mazmur 33:17).

V. Menyalahkan Orang Lain, Melupakan Dosa Sendiri

Brooks menunjukkan bahwa Iblis membuat kita sibuk menuding dosa orang lain sambil menutup mata terhadap dosa sendiri. Dalam konflik, setiap pihak menjadi hakim bagi lawannya. Yakobus 4:1 menanyakan sumbernya: “Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah dari hawa nafsumu?” Akar peperangan besar dan kecil adalah hati manusia yang sama. Karena itu, pertobatan pribadi lebih mendasar daripada analisis apa pun.

VI. Dari Keputusasaan hingga Kecerobohan

Dua tipu daya yang diulas Brooks juga tampak hari ini. Ada yang bersikap ceroboh, menganggap semua ini tontonan berita yang jauh. Ada pula yang putus asa, menyimpulkan dunia tak tertolong lagi. Keduanya berasal dari sumber yang sama. Obatnya adalah mengingat bahwa Allah berdaulat, bahwa Kristus sudah menang di salib, dan bahwa Yesus sendiri telah berkata akan ada “perang dan kabar tentang perang”, namun “jangan kamu gentar” (Matius 24:6).

VII. Pegangan Pastoral bagi Saudara

Pertama, berdoalah bagi para pemimpin dan bagi korban perang (1 Timotius 2:1-2), bukan sekadar mengomentari. Kedua, jagalah hati dari kebencian terhadap bangsa mana pun, sebab kebencian adalah umpan yang paling mudah ditelan. Ketiga, bersikaplah rendah hati dalam menafsirkan peristiwa; jangan terlalu cepat menyimpulkan nubuat atau menunjuk tokoh tertentu. Keempat, hidup dalam damai sedapat-dapatnya (Roma 12:18), dan jadilah pembawa damai di lingkungan Anda. Kelima, tetaplah berharap pada Kristus, Raja Damai, yang kelak “menempa pedang menjadi mata bajak” (Yesaya 2:4).

Catatan: esai ini memakai pola pikir Brooks yang saya kenal secara umum, bukan kutipan langsung dari bukunya. Penerapannya pada peristiwa dunia adalah refleksi pastoral, bukan klaim Brooks sendiri.