ROCKY GERUNG_PEMIKIRAN FILSAFATNYA

Rocky Gerung: Satu Pilar Dipertahankan, Dua Dilepaskan

I. Pendahuluan

Rocky Gerung (lahir di Manado, 1959) dikenal sebagai pengamat dan dosen filsafat yang menjadikan “akal sehat” sebagai poros argumennya. Esai ini menelaah hubungan pemikirannya dengan dua fase pendidikannya: sekolah Katolik Don Bosco dan Fakultas Filsafat. Tesisnya: pendidikan Don Bosco menanamkan tiga pilar, tetapi dalam perjalanan intelektualnya Rocky tampak mempertahankan satu dan melepaskan dua lainnya. Rincian jenjang sekolah Don Bosco beliau tidak banyak terdokumentasi, sehingga keterhubungan yang diuraikan bersifat tafsir, bukan klaim biografis yang pasti.

II. Don Bosco: Tiga Pilar Sistem Preventif

Tradisi Salesian yang dirintis Santo Yohanes Bosco bertumpu pada “Sistem Preventif” dengan tiga pilar: ragione (akal budi), religione (iman), dan amorevolezza (kasih sayang). Ketiganya tidak dimaksudkan berdiri sendiri. Akal tanpa iman dan kasih menjadi dingin dan menghakimi, sedangkan kasih tanpa akal menjadi sentimental. Pendidikan semacam ini membiasakan murid berpikir argumentatif, berdisiplin, dan terbuka pada dialog, sekaligus dibingkai oleh iman dan relasi yang hangat.

III. Fakultas Filsafat: Penajaman Satu Pilar

Studi filsafat di Universitas Indonesia membekali Rocky dengan kerangka yang sistematis: rasionalisme Pencerahan (Kant), teori kritis, liberalisme politik, dan pemikiran tentang ruang publik. Keterlibatannya dalam aktivisme, misalnya melalui Setara Institute, mempertemukan teori dengan praktik. Di sini tampak bahwa studi filsafat memperkuat ragione, tetapi tidak menyediakan padanan bagi religione maupun amorevolezza. Maka dapat ditafsirkan bahwa unsur akal menemukan instrumennya, sementara dua unsur lain tidak menemukan lahan.

IV. Ciri Pemikiran: Akal Sehat, Dialektika, Kritik Kekuasaan

Pertama, akal sehat menjadi tolok ukur: argumen publik harus dapat diuji secara logis, bukan dipercaya karena otoritas. Kedua, dialektika dipakai sebagai metode: tesis berhadapan dengan antitesis. Ketiga, kritik terhadap kekuasaan disampaikan dengan gaya provokatif. Ketiganya adalah ekspresi ragione yang murni.

V. Dua Pilar yang Tidak Tampak

Iman. Rocky secara terbuka menempatkan diri sebagai pemikir sekuler dan dalam sejumlah wawancara menyebut dirinya ateis (silakan diverifikasi). Pernyataannya bahwa “kitab suci adalah fiksi” (2018) memicu polemik. Ia memakai kata itu secara filosofis, yakni narasi sebagai konstruksi yang menggerakkan imajinasi kolektif, tetapi banyak orang menangkapnya sebagai penafian kebenaran iman. Tradisi Reformed menunjuk adanya ekuivokasi: dalam percakapan publik, “fiksi” lazim berarti sesuatu yang tidak terjadi.

Kasih sayang. Gaya publiknya cenderung konfrontatif: istilah “dungu” dan retorika yang menyerang lebih tampak ketimbang kelembutan. Pembelaannya terhadap kebebasan berpendapat dan hak warga dapat dibaca sebagai kepedulian pada martabat manusia, tetapi ekspresinya bukan amorevolezza dalam pengertian Salesian, yaitu kasih yang hadir, ramah, dan membangun relasi personal.

VI. Tinjauan Teologis Reformed

Wahyu dalam sejarah. Teologi Reformed memandang Alkitab sebagai firman Allah yang diilhamkan (2 Timotius 3:16), disampaikan melalui perjanjian Allah dalam sejarah nyata, dari Nuh, Abraham, Musa, Daud, hingga Kristus. Itulah historia salutis. Karena itu Paulus menegaskan bahwa jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah iman kita (1 Korintus 15:14). Iman Kristen berdiri atau runtuh bersama fakta historis, sehingga kategori “fiksi” tidak memadai untuk klaim Alkitab tentang dirinya. Pengakuan Iman Westminster menegaskan bahwa otoritas Kitab Suci bersumber dari Allah sebagai pengarangnya.

Akal di bawah anugerah umum. Tradisi Reformed tidak memusuhi akal. Calvin mengakui benih kesadaran akan Allah (sensus divinitatis) dan karunia akal bahkan bagi yang tidak percaya. Dorongan Rocky pada nalar kritis dapat dihargai sebagai bagian dari anugerah umum itu. Namun efek noetik dosa membuat akal nyata tetapi tidak netral: bagi Rocky nalar adalah tolok ukur akhir, sedangkan bagi Reformed nalar adalah alat yang melayani wahyu.

Akal yang terlepas dari kasih. Kasus ini ilustratif. Akal yang paling terlatih pun, bila terpisah dari iman dan kasih, rentan pada keangkuhan: “pengetahuan membusungkan, tetapi kasih membangun” (1 Korintus 8:1).

VII. Batas Tafsir dan Implikasi Pastoral

Tanpa kesaksian Rocky sendiri tentang pengaruh Don Bosco, hubungan sebab-akibat tidak dapat dibuktikan. Kecenderungan nalarnya bisa saja tumbuh dari bacaan, studi filsafat, atau pergulatan pribadi. Secara pastoral, jemaat perlu membedakan kritik atas cara membaca Alkitab dari serangan atas isinya, dan menyambut pertanyaan kritis sebagai kesempatan menjelaskan dasar iman dengan lemah lembut (1 Petrus 3:15). Iman yang tak pernah diuji nalar cenderung rapuh; nalar yang menolak diuji wahyu cenderung angkuh.

VIII. Penutup

Pemikiran Rocky Gerung menunjukkan apa yang terjadi ketika satu pilar pendidikan dipertahankan dan dua lainnya dilepaskan: ketajaman nalar yang mengagumkan, tetapi dengan kehangatan dan landasan iman yang kurang tampak.  “Menilainya secara adil berarti menghargai dorongannya pada nalar kritis, menyayangkan retorikanya yang kerap kehilangan kehangatan kasih, dan menimbangnya di bawah otoritas firman Allah, sebab akal yang terlepas dari iman dan kasih rentan menjadi angkuh.”