Mensikapi Perbedaan Teologi dalam Gereja Protestan
Tulisan ini melanjutkan “Mensikapi Perbedaan antara Katolik dan Protestan”. Di sana kita membahas perbedaan antar-tradisi gereja yang menyangkut pokok iman. Kini kita melangkah lebih dekat: perbedaan di antara orang percaya yang sama-sama berpegang pada Alkitab dan sama-sama mengaku Kristus sebagai Juruselamat.
I. Titik Tolak Permasalahan
Banyak orang Kristen mengalami kebingungan ketika mendengar pendapat yang berbeda dari mimbar, buku, atau media sosial. Ada yang berkata bahwa Allah memilih umat-Nya sebelum dunia dijadikan, ada yang menekankan kebebasan manusia untuk menerima atau menolak. Ada yang menafsirkan nubuat tentang Israel secara harfiah, ada pula yang melihatnya terpenuhi dalam Gereja. Semuanya mengutip Alkitab. Maka muncul pertanyaan: bagaimana kita menyikapi perbedaan ini tanpa menjadi relativis, namun juga tanpa menjadi penghakim?
II. Membedakan Tingkat Perkara
Langkah pertama adalah menyadari bahwa tidak semua doktrin memiliki bobot yang sama. Tradisi Kristen sejak lama membedakan hal-hal yang esensial bagi Injil, hal-hal yang penting tetapi tidak menentukan keselamatan, dan hal-hal yang boleh berbeda. Semboyan yang sering dikaitkan dengan Rupertus Meldenius merangkumnya: dalam hal yang esensial, kesatuan; dalam hal yang tidak esensial, kebebasan; dalam segala hal, kasih. Keilahian Kristus, Tritunggal, dan keselamatan oleh anugerah termasuk perkara esensial. Sedangkan banyak perbedaan lain berada pada tingkat yang berbeda.
III. Contoh Pertama: Calvinis dan Arminian
Perdebatan ini berpusat pada hubungan antara kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia dalam keselamatan. Tradisi Calvinis menekankan pemilihan Allah yang tidak bersyarat, anugerah yang efektif, dan keteguhan orang percaya hingga akhir. Tradisi Arminian menekankan bahwa pemilihan berkaitan dengan pengetahuan Allah akan respons iman, bahwa anugerah dapat ditolak, dan bahwa sebagian berpendapat orang percaya dapat jatuh dari anugerah. Keduanya sama-sama mengaku bahwa keselamatan adalah anugerah Allah melalui iman di dalam Kristus, dan keduanya sama-sama menolak keselamatan karena usaha manusia. Perdebatan ini sudah berlangsung sejak Sinode Dordrecht (1618-1619), dan tokoh-tokoh yang saleh berdiri di kedua sisi, misalnya John Wesley di pihak Arminian dan George Whitefield di pihak Calvinis, yang tetap bersahabat meski berbeda.
IV. Contoh Kedua: Calvinis dan Dispensasional
Perbedaan ini lebih menyangkut cara membaca Alkitab dan eskatologi: hubungan Israel dan Gereja, makna milenium, dan waktu kedatangan Kristus. Teologi Perjanjian (Covenant) cenderung melihat satu umat Allah sepanjang sejarah penebusan, sedangkan Dispensasionalisme cenderung membedakan rencana Allah bagi Israel dan bagi Gereja. Perlu dicatat bahwa tidak semua Calvinis memegang satu pandangan eskatologi yang seragam, dan Dispensasionalis pun beragam. Pokok ini menyangkut penafsiran, bukan pengakuan inti tentang siapa Kristus dan bagaimana kita diselamatkan.
V. Sikap yang Tepat
Pertama, pelajari pandangan lain dari sumbernya sendiri, bukan dari karikatur. Kedua, pegang keyakinan dengan sungguh-sungguh, tetapi sadari bahwa kita pun bisa keliru dan perlu terus diuji oleh Alkitab. Ketiga, jangan menjadikan perkara sekunder sebagai ukuran persekutuan. Keempat, berdebatlah dengan hormat, sebab cara kita menyampaikan kebenaran adalah bagian dari kesaksian itu sendiri.
VI. Pesan Pastoral
Saudara yang terkasih, Yesus berdoa agar murid-murid-Nya menjadi satu (Yoh. 17:21), dan Paulus mengingatkan agar kita memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera (Ef. 4:3). Berdiri teguh pada keyakinan tidak sama dengan menutup hati kepada saudara seiman. Biarlah kita belajar dengan rendah hati, berbicara dengan lemah lembut, dan mengingat bahwa kita semua diselamatkan oleh anugerah yang sama. Pada akhirnya, dunia akan mengenal kita sebagai murid Kristus bukan dari kemenangan kita dalam berdebat, melainkan dari kasih kita seorang terhadap yang lain (Yoh. 13:35).
.