Menimbang dengan Jernih: Kesesatan Berpikir tentang Kekristenan Barat
Kekristenan Barat, yakni Gereja Katolik Roma dan gereja-gereja warisan Reformasi, sering dikritik dan dibela dengan cara yang kurang adil. Orang Protestan pun tidak kebal. Esai ini mencoba memilah mana yang sungguh-sungguh kesesatan berpikir, dan mana yang merupakan keberatan teologis yang sah.
Kesesatan berpikir (bahasa Inggris: logical fallacy) adalah kekeliruan dalam cara kita bernalar, sehingga kesimpulan tampak meyakinkan padahal alasannya tidak kuat.
I. Ajaran Resmi dan Praktik Ibadah
Pembedaan ini penting. Sering terdengar tuduhan, “Katolik menyembah Maria.” Bila yang dimaksud adalah ajaran resmi Gereja Katolik, tuduhan itu keliru dan disebut straw man (orang-orangan sawah): kita menyerang versi lemah atau palsu dari pandangan lawan, lalu merasa sudah menang. Sebabnya, Gereja Katolik secara resmi membedakan latria (penyembahan, yang hanya bagi Allah) dari hiperdulia (penghormatan istimewa kepada Maria, yang dianggap bukan penyembahan).
Namun bila yang kita nilai adalah praktik di lapangan, persoalannya lain. Misalnya, pasangan yang akan menikah memohon berkat Maria bagi perkawinan mereka, atau umat memohon perlindungan kepada para santo. Banyak orang menilai praktik semacam ini sudah melampaui sekadar “menghormati”. Cara menilai ajaran dari praktik ini sah. Bahkan ada prinsip dari tradisi Barat sendiri, lex orandi, lex credendi, yang berarti “cara kita berdoa menunjukkan apa yang kita yakini.”
Pihak Katolik menjawab bahwa mereka tidak meminta Maria memberi berkat dengan kuasanya sendiri. Mereka hanya meminta, “Santa Maria, doakanlah kami”, sama seperti kita meminta teman seiman mendoakan kita. Berkat tetap berasal dari Allah. Inilah yang disebut permohonan syafaat (doa seseorang bagi orang lain).
Keberatan dari tradisi Reformed tetap kuat. Pertama, Perjanjian Baru tidak pernah memerintahkan atau mencontohkan doa yang ditujukan kepada orang yang sudah meninggal. Kedua, agar Maria dapat mendengar jutaan doa pada saat yang sama, ia harus memiliki sifat yang hanya dimiliki Allah, yaitu hadir dan tahu di mana-mana. Ketiga, Alkitab menyebut Kristus sebagai satu-satunya pengantara antara Allah dan manusia (1 Timotius 2:5). Perdebatan ini bersifat teologis. Ini bukan soal kekeliruan logika, melainkan soal bagaimana kita memahami Alkitab.
II. Kesesatan Orang Luar
Guilt by association (bersalah karena dikaitkan) terjadi ketika kesalahan sejarah, seperti Inkuisisi, perang agama, dan kolonialisme, dipakai untuk menyatakan seluruh kekristenan Barat salah. Kegagalan moral para penganutnya memang harus diakui dengan jujur. Tetapi orang yang berbuat jahat atas nama suatu ajaran belum tentu membuktikan bahwa ajarannya keliru.
Straw man juga muncul ketika sola scriptura (“hanya Kitab Suci”) dianggap berarti setiap orang bebas menafsir sesuka hati. Padahal para Reformator tetap menghormati pengakuan iman kuno dan tulisan para Bapa Gereja. Bagi mereka, Alkitab adalah otoritas tertinggi, bukan satu-satunya sumber yang boleh dibaca.
III. Kesesatan Orang Dalam
Dalam lingkungan Katolik, ada appeal to authority (bersandar pada otoritas): suatu persoalan dianggap selesai hanya karena sudah diucapkan pejabat gereja, tanpa ditunjukkan alasannya dari Alkitab dan sejarah.
Dalam lingkungan Protestan, ada kesesatan yang lebih halus, yaitu argumentum ad novitatem (menganggap yang lebih baru pasti lebih benar). Seakan-akan seribu lima ratus tahun refleksi iman sebelum Reformasi tidak berarti apa-apa.
Ada pula post hoc ergo propter hoc, yang artinya “sesudah ini, maka karena ini.” Contohnya: “Reformasi memecah gereja, lalu muncullah sekularisme, jadi Reformasi penyebab sekularisme.” Urutan waktu tidak otomatis berarti sebab-akibat. Sejarah jauh lebih rumit daripada itu.
IV. Kesesatan di Kedua Sisi
Generalisasi tergesa-gesa berarti menyamaratakan. Kata “Barat” sering dipakai seolah satu kelompok, padahal di dalamnya ada Katolik, Lutheran, Reformed, Anglikan, Anabaptis, dan Pentakosta, yang pandangannya sering berbeda tajam.
Dikotomi palsu berarti memaksa orang memilih dua pilihan padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Misalnya, “Barat itu soal hukum, Timur itu soal misteri.” Padahal Barat punya tokoh mistik seperti Bernardus dan Bonaventura, dan Timur pun memakai bahasa pengadilan dan tebusan.
Ekuivokasi terjadi ketika satu kata dipakai dengan arti berbeda. Kata pembenaran, iman, gereja, dan tradisi dimaknai berbeda oleh Roma dan Wittenberg, sehingga kedua pihak sering berdebat tanpa sadar bahwa mereka membicarakan hal yang tidak sama. Karena itu, sepakatilah arti istilah sebelum berdebat.
V. Pesan Pastoral
Saudara yang terkasih, Amsal 18:17 mengingatkan bahwa orang yang berbicara lebih dahulu tampak benar, sampai lawannya datang dan mengujinya. Kita perlu bersikap adil dalam dua hal: jangan menuduh orang meyakini sesuatu yang tidak mereka ajarkan, tetapi jangan pula takut menyebut praktik yang menggeser Kristus dari tempat-Nya. Kasih “bersukacita karena kebenaran” (1 Korintus 13:6), termasuk ketika kebenaran itu menegur kita sendiri.
Bagi Anda yang berakar dalam tradisi Reformed, bersyukurlah atas warisan Reformasi, tetapi jangan menjadikannya alasan untuk berhenti belajar. Bacalah saudara-saudara Katolik sebagaimana mereka memahami diri mereka sendiri, dan bacalah tradisi kita sendiri dengan mata yang kritis. Biarlah Kitab Suci tetap menjadi norma tertinggi, dan biarlah kerendahan hati menjadi cara kita memegangnya.
Soli Deo gloria.