Mensikapi Perbedaan antara Katolik dan Protestan
I. Titik Tolak Permasalahan
Di Indonesia, banyak orang Kristen hidup berdampingan dengan saudara-saudari Katolik: di lingkungan rumah, tempat kerja, bahkan di dalam keluarga sendiri. Muncul pertanyaan yang wajar: bagaimana seharusnya kita menyikapi perbedaan ini? Apakah perbedaannya sekadar soal tata ibadah, ataukah menyangkut hal yang mendasar? Dan bagaimana bersikap tanpa saling merendahkan, namun juga tanpa menganggap semuanya sama saja? Tulisan ini mencoba menjelaskannya secara edukatif, sebagai bahan pemahaman bersama.
II. Dasar yang Dimiliki Bersama
Sebelum membahas perbedaan, perlu diakui bahwa kedua tradisi berdiri di atas pengakuan iman yang sama dalam banyak hal pokok. Keduanya mengaku Allah Tritunggal, keilahian dan kemanusiaan Kristus, kelahiran-Nya dari anak dara Maria, kematian dan kebangkitan-Nya, serta kedatangan-Nya kembali. Keduanya menerima Pengakuan Iman Rasuli dan Pengakuan Iman Nicea. Pengakuan ini adalah warisan bersama dari gereja mula-mula, sebelum perpecahan terjadi.
III. Pokok-Pokok Perbedaan
Perbedaan utama muncul pada beberapa hal. Pertama, otoritas. Gereja Katolik memandang Alkitab, Tradisi, dan Magisterium (wewenang mengajar gereja) sebagai satu kesatuan yang menjadi sumber ajaran. Tradisi Protestan menekankan sola Scriptura, yaitu Alkitab sebagai otoritas tertinggi, sementara tradisi tetap dihargai sejauh tunduk kepada Alkitab.
Kedua, pembenaran. Gereja Katolik mengajarkan bahwa pembenaran melibatkan anugerah yang bekerja di dalam diri orang percaya melalui iman dan perbuatan kasih, dengan sakramen sebagai saluran anugerah. Tradisi Protestan menekankan sola fide: manusia dibenarkan oleh iman saja, berdasarkan kebenaran Kristus yang diperhitungkan kepadanya.
Ketiga, sakramen dan kepemimpinan gereja. Katolik mengenal tujuh sakramen, ajaran tentang Ekaristi sebagai transubstansiasi, penghormatan khusus kepada Maria, dan otoritas Paus. Protestan umumnya mengakui dua sakramen (baptisan dan perjamuan kudus) dan tidak mengakui kepausan.
Perlu dicatat bahwa dialog kedua pihak berlangsung hingga kini. Misalnya, Deklarasi Bersama tentang Ajaran Pembenaran (1999) antara Gereja Katolik dan Federasi Lutheran Sedunia menunjukkan adanya kesepahaman tertentu, meski tidak semua gereja Protestan terlibat dan perbedaan tetap ada.
IV. Sikap yang Tepat
Pertama, kejujuran tentang perbedaan. Menyamaratakan semuanya demi kerukunan tidak menghormati kedua pihak. Perbedaan tentang pembenaran dan otoritas bukan perkara kecil bagi para Reformator, dan tidak perlu dikecilkan.
Kedua, keadilan dalam memahami. Kita sebaiknya mempelajari ajaran Katolik dari sumber resmi mereka sendiri, bukan dari karikatur atau desas-desus, sebagaimana kita ingin ajaran kita dipahami dengan benar.
Ketiga, kerja sama dalam hal kemanusiaan. Pelayanan sosial, pembelaan terhadap yang lemah, dan kehidupan bertetangga dapat dijalani bersama tanpa mengaburkan keyakinan masing-masing.
V. Pesan Pastoral
Saudara yang terkasih, perbedaan keyakinan tidak memberi kita hak untuk bersikap sinis kepada sesama yang menyebut nama Kristus. Peganglah keyakinan Anda dengan teguh, tetapi sampaikan dengan kerendahan hati dan kasih (Ef. 4:15). Pelajarilah iman Anda dengan sungguh-sungguh supaya mampu menjelaskannya dengan lemah lembut (1 Ptr. 3:15). Dan ingatlah bahwa keselamatan adalah anugerah Allah, bukan hasil kepintaran kita dalam berdebat.
Kita telah melihat bagaimana menyikapi perbedaan antara Katolik dan Protestan. Namun perbedaan juga ada di dalam rumah Protestan sendiri: Calvinis dan Arminian, Calvinis dan Dispensasional. Pada tulisan berikutnya kita akan bertanya: bagaimana bersikap terhadap saudara seiman yang memahami Alkitab secara berbeda, tanpa mengorbankan kebenaran dan tanpa merusak persekutuan?