Apakah Allah Merancang Pluralitas Agama?
Tulisan ini merupakan lanjutan dari “Pluralitas dan Pluralisme: Menghargai Sesama Tanpa Melepas Injil”. Di sana kita membedakan pluralitas (fakta keberagaman) dari pluralisme (paham bahwa semua agama sama benarnya). Kini kita melangkah ke pertanyaan yang lebih dalam tentang asal-usul dan rancangan Allah.
I. Titik Tolak Permasalahan
Dalam diskusi tentang keberagaman, sering muncul pertanyaan: jika Allah berdaulat atas segala sesuatu, apakah banyaknya agama juga bagian dari rancangan-Nya? Jawaban yang tergesa-gesa bisa condong ke dua arah. Ada yang berkata ya, sehingga semua agama dianggap sah. Ada pula yang berkata bahwa semuanya semata-mata ciptaan manusia, sehingga sesama yang berbeda iman dipandang rendah. Pertanyaan ini perlu dijawab dengan teliti, dengan terlebih dahulu membedakan dua hal: keberagaman bangsa dan budaya, dan keberagaman agama.
II. Akar Masalah: Manusia Menjauh dari Allah
Alkitab memulai dengan satu Allah dan satu hubungan yang langsung antara Pencipta dan manusia (Kej. 1-2). Keberagaman agama tidak ada pada mulanya. Ia muncul setelah dosa masuk. Paulus menjelaskan bahwa manusia sebenarnya mengenal Allah melalui ciptaan, tetapi tidak memuliakan-Nya, lalu “menukar kebenaran Allah dengan dusta dan menyembah makhluk dan bukan Pencipta” (Rom. 1:19-25). Yeremia menggambarkannya dengan tajam: umat meninggalkan sumber air hidup, lalu menggali kolam-kolam yang bocor bagi diri mereka sendiri (Yer. 2:13). Maka banyaknya agama yang menyimpang dari penyataan Allah bukanlah rancangan-Nya, melainkan buah dari hati manusia yang memberontak. Amsal 14:12 merangkumnya: ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya maut.
III. Penyeimbang: Kedaulatan Allah atas Sejarah
Meski demikian, Alkitab tidak menggambarkan Allah sebagai penonton yang pasif. Paulus berkata di Atena bahwa Allah menentukan musim dan batas-batas kediaman bangsa-bangsa, supaya mereka mencari Dia dan menemukan-Nya (Kis. 17:26-27). Di Listra ia menyatakan bahwa Allah “membiarkan” segala bangsa menempuh jalannya sendiri, namun tidak membiarkan diri-Nya tanpa kesaksian melalui kebaikan alam (Kis. 14:16-17). Dalam bahasa teologi Reformed, Allah berdaulat dan mengizinkan kejatuhan terjadi tanpa menjadi pencipta dosa. Keberagaman bangsa dan bahasa juga tampak dalam sejarah Babel (Kej. 11), dan visi akhir Alkitab menampilkan umat tebusan dari segala suku, bahasa, dan bangsa (Why. 7:9). Jadi keberagaman budaya ada dalam kendali Allah, bahkan akan dipulihkan, sedangkan keberagaman agama yang menolak Kristus tetap dinilai sebagai penyimpangan.
IV. Hal yang Perlu Dijaga
Pertama, semua manusia sama-sama berdosa (Rom. 3:23). Orang Kristen tidak lebih baik, melainkan penerima anugerah. Kedua, Allah mengasihi dunia dan mengutus Anak-Nya supaya setiap orang yang percaya tidak binasa (Yoh. 3:16). Ketiga, pengetahuan umum tentang Allah tidak cukup menyelamatkan. Keselamatan hanya dalam Kristus (Kis. 4:12; Yoh. 14:6).
V. Kesimpulan
Allah tidak merancang agama-agama sebagai jalan-jalan yang sama sahnya. Keberagaman agama adalah akibat dosa, tetapi Allah tetap berdaulat atas sejarah dan memakainya agar manusia mencari Dia. Satu jalan keselamatan, namun satu kasih bagi semua orang.
VI. Pesan Pastoral
Saudara yang terkasih, kita pernah menjadi orang yang jauh, dan Kristus yang mencari kita lebih dahulu. Karena itu, hadapilah sesama yang berbeda iman dengan kerendahan hati, bukan kesombongan. Bersaksilah dengan jujur dan lemah lembut (1 Ptr. 3:15), dan percayalah bahwa Allah sanggup bekerja di hati siapa pun, sebagaimana Ia telah bekerja di hati kita.