Pluralitas dan Pluralisme: Menghargai Sesama Tanpa Melepas Injil
I. Titik Tolak Permasalahan
Dalam sebuah diskusi kelompok, muncul pertanyaan yang kerap membingungkan orang percaya: apakah menghormati pemeluk agama lain berarti harus mengakui bahwa semua agama sama benarnya? Sebagian orang Kristen menjawab ya, karena takut dianggap intoleran. Sebagian lain menjawab tidak, tetapi lalu bersikap tertutup terhadap sesama yang berbeda keyakinan. Kedua reaksi ini lahir dari satu sumber yang sama, yaitu kekaburan istilah. Karena itu, langkah pertama adalah membedakan dua kata yang sering tertukar: pluralitas dan pluralisme.
II. Pluralitas: Fakta yang Perlu Dihormati
Pluralitas adalah kenyataan bahwa masyarakat kita terdiri dari beragam suku, budaya, dan agama. Ini bukan pilihan ideologis, melainkan keadaan yang kita temukan setiap hari di Indonesia. Ilmu agama dan sosiologi memakai kata ini secara deskriptif dan netral. Alkitab pun mengenal kenyataan tersebut. Paulus berbicara di tengah masyarakat Atena yang penuh berhala (Kis. 17:22-31), dan umat Allah di pembuangan diperintahkan untuk mengusahakan kesejahteraan kota tempat mereka tinggal (Yer. 29:7).
III. Pluralisme Agama: Sebuah Paham dari Luar Alkitab
Pluralisme agama berbeda. Ini adalah tesis filosofis-teologis bahwa semua agama merupakan jalan yang sama sahnya menuju Tuhan. Tokoh yang paling dikenal merumuskannya adalah John Hick, dengan memanfaatkan gagasan Kant tentang jarak antara realitas itu sendiri dan cara manusia menangkapnya. Perlu dicatat bahwa istilah ini bukan istilah Alkitab. Ia lahir dari wacana modern, sehingga harus didefinisikan lebih dahulu sebelum dinilai. Perlu pula dicatat bahwa sebagian akademisi memakai kata “pluralisme” dalam arti sosial, yaitu keterlibatan aktif dengan perbedaan, tanpa mengklaim bahwa semua agama benar. Kritik kita ditujukan pada tesis “semua jalan sama sahnya”, bukan pada penggunaan kata itu secara umum.
IV. Menimbang dengan Logika dan Alkitab
Secara logika, klaim yang saling bertentangan tidak mungkin benar semuanya. Bahwa Yesus adalah Anak Allah dan bahwa Ia bukan Anak Allah tidak dapat sama-sama benar. Hick menghindari masalah ini dengan menganggap doktrin sebagai ungkapan simbolis, tetapi dengan itu ia melepaskan klaim dasar setiap agama, termasuk iman Kristen.
Alkitab juga konsisten: Allah itu esa (Ul. 6:4), tidak ada Allah lain di luar Dia (Yes. 45:5), dan keselamatan hanya ada dalam Kristus (Yoh. 14:6; Kis. 4:12; 1 Tim. 2:5). Elia pun menolak sikap mendua hati antara TUHAN dan Baal (1 Raj. 18:21).
V. Jalan Tengah yang Benar
Dari sini tampak sikap yang seimbang. Kita tidak intoleran, sebab kasih memerintahkan kita berteman, bekerja sama, dan membela hak setiap orang untuk beribadah. Kita juga tidak sinkretis, sebab kita tidak mencampur Injil dengan klaim yang meniadakannya. Singkatnya: inklusif dalam pergaulan, eksklusif dalam keselamatan.
VI. Pesan Pastoral
Saudara yang terkasih, keyakinan kita tentang Kristus tidak memberi kita hak untuk merendahkan siapa pun. Justru karena kita percaya bahwa Kristus telah mengasihi kita saat kita masih berdosa, kita dipanggil mengasihi sesama dengan tulus, tanpa syarat dan tanpa menghakimi. Marilah bersaksi dengan hidup yang ramah, perkataan yang jujur, dan hati yang lemah lembut (1 Ptr. 3:15). Biarlah tetangga kita melihat bahwa orang yang memegang teguh kebenaran Injil adalah juga orang yang paling mudah dijadikan sahabat.
**Kita sudah membedakan pluralitas sebagai fakta dan pluralisme sebagai paham. Pada tulisan berikutnya kita akan bertanya lebih dalam: apakah keberagaman agama itu bagian dari rancangan Allah, atau akibat dari kejatuhan manusia? Mari kita telusuri bersama berdasarkan Alkitab. (bersambung)