Luther dan 95 Dalil: Berpolemik atau Mengundang Polemik?
Jawaban Singkat
Keduanya, tetapi urutannya penting. Bentuk dokumen itu adalah undangan berpolemik; isi dan dampaknya bersifat polemis. Dan Luther sendiri, pada awalnya, tidak menyadari betapa jauh dokumen itu akan membawanya.
Bentuk: Undangan Disputasi Akademik
Pada 31 Oktober 1517, Luther menulis Disputatio pro declaratione virtutis indulgentiarum (“Disputasi untuk Menjelaskan Kuasa Indulgensi”). Judulnya sudah menunjukkan genre-nya. Dalam dunia universitas abad pertengahan, disputatio adalah forum resmi untuk menguji tesis secara terbuka. Seorang doktor teologi, seperti Luther di Wittenberg, memang berhak dan bahkan berkewajiban mengajukan tesis untuk diperdebatkan.
Beberapa hal mendukung pembacaan ini:
- Dalil-dalil itu ditulis dalam bahasa Latin, bahasa para akademisi, bukan bahasa rakyat.
- Luther menyatakan di pembukaan bahwa ia menulisnya “dengan kasih kepada kebenaran dan hasrat untuk menyingkapkannya”, dan meminta mereka yang tidak dapat hadir untuk berdebat secara lisan agar menanggapinya secara tertulis.
- Pada hari yang sama, ia mengirim surat kepada Uskup Agung Albrecht dari Mainz, memohon agar praktik penjualan indulgensi Tetzel dihentikan. Nadanya hormat dan penuh kerendahan, bukan deklarasi perang.
- Soal paku di pintu Gereja Kastil: kisah dramatis ini pertama kali dicatat Melanchthon sesudah Luther wafat, dan sejarawan masih memperdebatkan apakah peristiwanya terjadi persis demikian. Kalaupun terjadi, pintu gereja itu lazim berfungsi sebagai papan pengumuman universitas.
Isi: Tajam dan Berpolemik
Meskipun bentuknya akademik, isinya tidak netral. Beberapa dalil jelas bernada kritik:
- Dalil 27 menyindir slogan Tetzel bahwa jiwa melompat keluar dari api penyucian begitu koin berdenting di kotak persembahan.
- Dalil 36 menyatakan bahwa setiap orang Kristen yang sungguh bertobat telah memperoleh pengampunan penuh tanpa surat indulgensi.
- Dalil 86 bertanya mengapa Paus, yang kekayaannya melebihi orang terkaya, tidak membangun Basilika Santo Petrus dengan uangnya sendiri, dan bukan dengan uang orang-orang miskin.
Perhatikan bahwa Luther sering memakai bentuk pertanyaan retoris dan reductio, yaitu menunjukkan bahwa praktik indulgensi berujung pada konsekuensi yang tidak masuk akal bila dipikirkan secara konsisten. Ini teknik polemik yang klasik.
Dinamika: Dari Undangan Menjadi Pertempuran
Dalil-dalil itu segera disalin, diterjemahkan ke bahasa Jerman, dan dicetak, lalu menyebar ke seluruh Jerman dalam beberapa minggu. Yang dimaksudkan sebagai perdebatan terbatas berubah menjadi kontroversi publik. Disputasi Heidelberg (1518), perdebatan dengan Johann Eck di Leipzig (1519), dan tulisan-tulisan Luther sesudahnya, seperti Kepada Kaum Bangsawan Kristen Bangsa Jerman (1520), memperlihatkan polemik yang jauh lebih terang-terangan.
Kesimpulan
Paling akurat dikatakan bahwa Luther mengundang polemik dalam bentuk disputasi akademik yang sah, dengan isi yang secara substansial polemis. Ia memulai sebagai seorang gembala dan dosen yang resah terhadap penyalahgunaan pastoral, bukan sebagai pemberontak yang merencanakan pemisahan. Polemik yang sesungguhnya baru mengeras ketika Roma menolak bertobat dari praktik itu dan menuntut Luther menarik kembali ajarannya.
Ada pelajaran yang selaras dengan esai devosi sebelumnya: Luther memulai dengan kasih kepada kebenaran dan kerendahan hati dalam jalur yang berlaku, bukan dengan niat mempermalukan lawan. Nada yang lebih keras muncul belakangan, dan Luther sendiri di kemudian hari kerap menyesali kekasarannya, terutama dalam tulisan-tulisan polemiknya yang paling pedas.