SELALU TIDAK PUAS ?

Labirin Keinginan: Memahami Ketidakpuasan Manusia lewat Kacamata Schopenhauer

PENDAHULUAN

Pernahkah Anda merasa bahwa setelah mencapai sesuatu yang sangat diinginkan—entah itu ponsel baru, kenaikan jabatan, atau kelulusan—rasa bahagianya hanya bertahan sekejap? Tak lama berselang, hati kembali terasa hambar, dan kita mulai melirik target berikutnya. Filsuf Jerman, Arthur Schopenhauer, memiliki penjelasan yang cukup tajam untuk fenomena ini: kita sebenarnya terjebak dalam siklus yang tidak akan pernah berhenti selama kita masih hidup.

 

I.Bandul Kehidupan: Antara Derita dan Bosan

Schopenhauer menggambarkan hidup manusia seperti sebuah bandul (pendulum) yang terus berayun. Di satu sisi ada penderitaan, dan di sisi lain ada kebosanan.

Ketika kita menginginkan sesuatu namun belum mendapatkannya, kita merasa menderita karena kekurangan. Kita merasa hidup tidak lengkap. Namun, ironisnya, ketika keinginan itu tercapai, penderitaan tidak hilang begitu saja. Ia hanya berubah bentuk menjadi kebosanan. Kita merasa kosong karena tidak ada lagi yang diperjuangkan. Untuk mengusir rasa bosan yang menyiksa itu, manusia secara otomatis akan menciptakan keinginan baru. Inilah alasan mengapa kita seolah-olah “kecanduan” untuk tidak pernah puas.

 

II.Sang Pengendali Tak Kasat Mata: “The Will”

Mengapa kita begitu sulit merasa cukup? Schopenhauer menyebut adanya kekuatan purba di dalam diri manusia yang ia namakan The Will (Kehendak). Ini bukanlah kehendak yang cerdas atau rasional, melainkan dorongan buta yang hanya ingin satu hal: terus bertahan hidup dan terus menginginkan.

Kehendak ini ibarat mesin yang membutuhkan bahan bakar berupa keinginan-keinginan baru. Ia tidak peduli apakah kita bahagia atau tidak. Ia hanya ingin kita terus bergerak. Itulah sebabnya, meskipun secara logika kita sudah memiliki segalanya, dorongan batin seringkali berbisik, “Masih ada yang kurang.”

 

III.Jebakan Dunia Modern

Di era sekarang, pemikiran Schopenhauer terasa semakin relevan. Media sosial dan budaya konsumerisme berperan sebagai “mesin dopamin” yang mempercepat ayunan bandul tersebut. Kita terus-menerus disuguhi gambaran kehidupan orang lain yang tampak lebih sempurna, yang kemudian memicu keinginan baru dalam diri kita. Kita terjebak di atas treadmill kehidupan; berlari sekuat tenaga, menghabiskan energi, namun sebenarnya tidak berpindah tempat menuju kebahagiaan sejati.

 

IV.Adakah Jalan Keluar?

Schopenhauer dikenal sebagai filsuf pesimistis, namun ia memberikan sedikit celah untuk beristirahat. Ia berpendapat bahwa manusia bisa melepaskan diri sejenak dari siksaan Kehendak melalui dua cara:

  1. Apresiasi Seni dan Musik: Saat kita tenggelam dalam keindahan musik atau lukisan, diri kita seolah “menghilang”. Kita berhenti menginginkan dan hanya menikmati momen tersebut. Inilah jeda singkat di mana bandul kehidupan berhenti berayun.
  2. Empati dan Kasih Sayang: Dengan menyadari bahwa semua manusia merasakan penderitaan dan kekosongan yang sama, kita berhenti berkompetisi secara egois. Rasa senasib ini melunakkan hati dan memberikan kedamaian batin.

 

Penutup

Pesan utama Schopenhauer bukanlah untuk membuat kita putus asa, melainkan untuk memberikan kejujuran yang pahit: bahwa kepuasan permanen dari benda duniawi adalah ilusi. Dengan memahami bahwa rasa kosong adalah bagian alami dari cara kerja batin kita, kita mungkin bisa berhenti mengejar kebahagiaan di luar sana secara membabi buta. Kebebasan sejati dimulai ketika kita menyadari tali yang mengendalikan keinginan kita, dan memilih untuk berhenti berlari di atas treadmill yang tidak punya garis finis itu.

REF.: Kenapa Kamu Tidak Pernah Puas? (Filsafat Pahit Arthur Schopenhauer) |

Https://youtu.be/J0EK0W0Cm1A?si=_PLPBgtTdJPXUUP2   

 

BERSAMBUNG Besok dengan analisa dan komentar iman Kristiani