Kisah Para Rasul dan Roma: Supranatural dan Doktrinal
PENDAHULUAN
Kisah Para Rasul dan Surat Roma adalah dua kitab penting dalam Perjanjian Baru yang memberikan wawasan mendalam tentang awal mula gereja Kristen dan doktrin-doktrin fundamental iman. Kisah Para Rasul kaya akan peristiwa supranatural, sementara Roma menyediakan dasar doktrinal yang kokoh. Memahami peran keduanya membantu kita menggali kekristenan secara utuh.
I.Peristiwa Supranatural dalam Kisah Para Rasul
Kitab Kisah Para Rasul adalah catatan sejarah yang penuh dengan manifestasi kuasa ilahi. Peristiwa-peristiwa luar biasa ini menunjukkan bagaimana Tuhan bekerja secara langsung dan nyata pada masa awal gereja, meneguhkan iman para rasul, dan menyebarkan Injil ke seluruh dunia. Beberapa contoh yang menonjol meliputi:
- 1.Turunnya Roh Kudus (Kisah Para Rasul 2): Peristiwa ini sering disebut sebagai hari lahir gereja. Roh Kudus dicurahkan kepada para pengikut Yesus, memungkinkan mereka berbicara dalam berbagai bahasa dan memberdayakan mereka untuk bersaksi tentang Kristus. Ini adalah fondasi bagi pekerjaan gereja selanjutnya.
- 2.Penyembuhan Pengemis Lumpuh (Kisah Para Rasul 3): Petrus dan Yohanes menyembuhkan seorang pengemis di Bait Allah, menunjukkan kuasa Tuhan yang bekerja melalui para rasul dan menguatkan pesan Injil di mata banyak orang.
- 3.Pertobatan Saulus (Kisah Para Rasul 9): Saulus, seorang penganiaya Kristen yang kejam, mengalami perjumpaan dramatis dengan Yesus dalam perjalanan menuju Damaskus. Peristiwa ini bukan hanya mengubah hidupnya menjadi Rasul Paulus, tetapi juga secara signifikan mengubah arah penginjilan Kristen, membukanya untuk bangsa-bangsa non-Yahudi.
- 4.Petrus dan Kornelius (Kisah Para Rasul 10): Melalui penglihatan dan arahan Roh Kudus, Petrus mengunjungi Kornelius, seorang perwira Romawi non-Yahudi. Peristiwa ini adalah tonggak penting dalam memperluas Injil melampaui batas-batas Yahudi dan menunjukkan inklusivitas keselamatan Allah.
- 5.Pelepasan Petrus dari Penjara (Kisah Para Rasul 12): Ketika Petrus dipenjara, Tuhan mengirimkan malaikat untuk membebaskannya secara ajaib. Kejadian ini menegaskan perlindungan dan pimpinan ilahi bagi umat-Nya bahkan dalam situasi yang paling sulit.
**Peristiwa-peristiwa ini secara jelas menunjukkan bukti nyata kuasa dan penyertaan Tuhan pada masa awal gereja. Banyak orang Kristen saat ini merindukan pengalaman iman yang hidup, transformasi radikal, dan pekerjaan Roh Kudus yang begitu terlihat seperti yang dicatat dalam Kisah Para Rasul.
II.Relevansi Peristiwa Supranatural Hari Ini
1.Mengenai apakah peristiwa supranatural ini bersifat “once off” (hanya terjadi sekali pada masa itu) atau masih dapat terjadi sekarang, ada dua pandangan utama dalam teologi Kristen:
- 1.1.Pandangan “Cessationism”: Pandangan ini berpendapat bahwa mukjizat dan karunia rohani spektakuler seperti nubuat, penyembuhan, dan bahasa roh adalah tanda-tanda khusus yang diberikan untuk mendirikan gereja dan mengesahkan otoritas para rasul sebagai pembawa pesan Allah. Setelah tujuan ini tercapai atau setelah Alkitab lengkap, karunia-karunia ini diyakini berhenti atau sangat berkurang.
- 1.2.Pandangan “Continuationism”: Sebaliknya, pandangan ini percaya bahwa mukjizat dan karunia rohani yang terjadi di Kisah Para Rasul masih relevan dan tersedia bagi gereja masa kini. Mereka meyakini bahwa Roh Kudus masih bekerja dengan cara yang sama dan kita harus berdoa serta mengharapkan manifestasi kuasa-Nya.
2.Meskipun perdebatan teologis ini terus berlangsung, kita bisa melihat laporan tentang penyembuhan, mimpi, penglihatan, dan perasaan hadirat Tuhan yang kuat di berbagai gereja di seluruh dunia saat ini. Terlepas dari frekuensi atau bentuk manifestasi supranatural, yang terpenting adalah pekerjaan Tuhan dalam mengubah hidup dan hati manusia tetap nyata dan terus berlangsung. Kasih, pengampunan, dan kehadiran Roh Kudus-Nya selalu tersedia bagi mereka yang percaya.
III.Fondasi Kekristenan: Kisah Para Rasul atau Roma?
1.Ada pandangan yang menyatakan bahwa kekristenan harus lebih didasarkan pada Kitab Roma daripada Kisah Para Rasul. Pandangan ini memiliki alasan yang kuat, namun sebenarnya kedua kitab ini memiliki peran yang berbeda namun saling melengkapi:
- 1.1.Kitab Roma (dan surat-surat Paulus lainnya) bersifat Doktrinal: Roma adalah surat yang ditulis oleh Rasul Paulus yang secara sistematis menjelaskan doktrin-doktrin inti kekristenan. Ini mencakup konsep-konsep krusial seperti dosa, kasih karunia, pembenaran oleh iman, penebusan melalui Kristus, kehidupan dalam Roh, dan kedaulatan Allah. Roma memberikan fondasi teologis yang kokoh yang menjelaskan “apa” iman Kristen itu.
- 1.2.Kitab Kisah Para Rasul bersifat Naratif/Historis: Kisah Para Rasul adalah catatan sejarah tentang bagaimana gereja mula-mula terbentuk dan bagaimana Injil menyebar dari Yerusalem ke berbagai penjuru dunia. Kisah ini menunjukkan “bagaimana” kekristenan tersebar dan dampak kuasa Roh Kudus dalam memberdayakan para pengikut Kristus untuk memberitakan Injil dan membangun jemaat. Meskipun sangat inspiratif, Kisah Para Rasul tidak merumuskan doktrin secara sistematis seperti Roma.
3.Keduanya saling melengkapi dan sama-sama penting. Kitab Roma menyediakan dasar teologis dan doktrinal yang esensial untuk memahami iman Kristen dengan benar. Tanpa pemahaman doktrin yang kuat, pengalaman supranatural bisa disalahpahami atau bahkan disalahgunakan. Sementara itu, Kisah Para Rasul memberikan ilustrasi praktis tentang bagaimana iman ini hidup dan bekerja dalam dunia nyata, menunjukkan kuasa Roh Kudus dalam memberdayakan para pengikut Kristus untuk memberitakan Injil dan membangun gereja.
4.Mendasarkan iman kita pada doktrin yang sehat (seperti yang diajarkan dalam Roma) akan membantu kita mengevaluasi pengalaman supranatural (seperti yang dicatat dalam Kisah Para Rasul) dengan bijaksana, memastikan bahwa pengalaman-pengalaman tersebut selaras dengan kebenaran Firman Tuhan. Oleh karena itu, baik Kisah Para Rasul maupun surat-surat Paulus seperti Roma harus dipelajari dan diaplikasikan dalam kehidupan kita sebagai pengikut Kristus.