TUHAN YANG PANJANG SABAR

Seri Kasih yang Banyak Sisi (Bagian 3): Mengenal Tuhan yang Panjang Sabar (Slow to Anger)

Selamat datang kembali di seri esai blog kita. Setelah kita melihat bagaimana hakikat Tuhan yang adalah Kasih memancar menjadi sifat Penyayang dan Pengasih, kini saatnya kita melihat sisi lain dari “berlian” Kasih Ilahi yang tidak kalah menakjubkan. Sifat ini adalah benteng yang menjaga hubungan kita dengan Tuhan tidak mudah hancur, yaitu Panjang Sabar (Slow to Anger).

Jika sifat Pengasih memberikan kita hadiah yang tidak layak kita terima, maka sifat Panjang Sabar adalah tentang waktu. Sifat ini berarti Tuhan menahan kemarahan-Nya dan memberikan kita ruang serta kesempatan berulang kali untuk berubah.

 

I.Pancaran Kasih Tuhan: Menahan Diri demi Kita

Apa arti sesungguhnya dari kata “Panjang Sabar”? Dalam teks aslinya, istilah ini sering digambarkan seperti “panjang napas” atau tidak cepat naik darah. Tuhan bukanlah pribadi yang mudah tersinggung, sensitif, atau hobi mencari-cari kesalahan kita agar bisa segera menghukum. Kasih-Nya membuat Tuhan memilih untuk berlapang dada, menanti dengan sabar saat kita sedang berproses, jatuh-bangun, atau bahkan saat kita sedang bebal.

Bayangkan seorang ayah yang sedang mengajari anaknya yang berusia tujuh tahun naik sepeda roda dua. Sang anak terus-menerus jatuh karena tidak seimbang, bahkan beberapa kali menabrak pot bunga kesayangan ayahnya hingga pecah karena ceroboh. Ayah yang panjang sabar tidak akan langsung membentak, memarahi, atau menghentikan latihan itu. Ia akan menarik napas dalam-dalam, menegakkan kembali sepedanya, memeluk anaknya yang ketakutan, lalu berkata dengan lembut, “Ayo, kita coba lagi pelan-pelan.”

Seperti itulah sifat Panjang Sabar Tuhan kepada kita. Ia melihat proses hidup kita yang lambat, kegagalan kita yang berulang-ulang, namun Ia memilih untuk tetap menanti kita dengan tangan terbuka.

 

II.Kontras dengan Manusia: Sumbu Pendek yang Mudah Tersinggung

Ketika kita melihat diri sendiri di cermin, sifat panjang sabar ini sering kali menjadi hal yang paling langka. Mengapa? Karena hakikat manusia cenderung egois dan ingin segala sesuatu terjadi secara instan.

Kita adalah makhluk yang sering kali “ber-sumbu pendek”. Kita sangat mudah tersinggung jika kepentingan kita diganggu, dan mudah marah jika orang lain tidak berubah sesuai dengan keinginan kita. Ketika seseorang melakukan kesalahan kepada kita untuk kedua atau ketiga kalinya, kita biasanya langsung kehilangan kesabaran, meledak, atau bahkan langsung mencoret orang tersebut dari daftar teman kita. Manusia sangat sulit memberikan waktu bagi orang lain untuk berproses.

 

III.Aplikasi Praktis: Menjawab Kasih Tuhan

Mengenal Tuhan yang Panjang Sabar seharusnya membuat kita merasa aman di dekat-Nya, sekaligus mengubah cara kita menghadapi orang-orang yang menguji kesabaran kita. Berikut adalah aplikasinya:

  1. Kepada Tuhan: Jangan Menyerah pada Proses Diri Sendiri

Banyak dari kita yang merasa frustrasi dengan diri sendiri karena terus jatuh pada kesalahan atau kebiasaan buruk yang sama. Kita merasa Tuhan pasti sudah bosan dan muak melihat kita.

  • Aksinya: Singkirkan pikiran itu. Datanglah kembali kepada Tuhan dalam doa dengan jujur. Jangan menjauh dari-Nya hanya karena Anda merasa proses Anda lambat. Hargai waktu dan kesempatan yang Tuhan berikan dengan berkomitmen untuk bangkit dan mencoba lagi bersama-Nya hari ini.
  1. Kepada Sesama: Memberikan Ruang untuk Orang Lain Berproses

Kita dipanggil untuk memperpanjang “sumbu” kesabaran kita kepada orang-orang di sekitar kita, terutama mereka yang paling sering membuat kita kesal.

  • Aksinya: Minggu ini, ketika anak, pasangan, atau rekan kerja Anda melakukan kesalahan yang sama lagi, tahan emosi Anda selama 5 detik sebelum merespons. Tarik napas dalam-dalam, ingatlah betapa sabarnya Tuhan kepada Anda selama ini, lalu bicaralah dengan nada yang tenang. Berikan mereka kesempatan dan ruang untuk belajar dan memperbaiki diri tanpa harus Anda hakimi dengan kata-kata yang tajam.