NICEA KONSTANTINOPEL: DARI ALKKITAB UNTUK KEHIDUPAN

Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel: Dari Alkitab untuk Kehidupan

 

Pendahuluan

Tahun 2025 menjadi momen bersejarah ketika Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel (325 M) merayakan hari peringatan ke-1700 tahun. Di berbagai belahan dunia, banyak gereja memperingati milestone penting ini, menyadari bahwa pengakuan iman tersebut bukan sekadar dokumen bersejarah, melainkan rumusan yang tetap relevan menjawab tantangan zaman masa kini. Pengakuan ini tetap menjadi benteng pertahanan terhadap berbagai aliran yang menyangkal keilahian Kristus dan kesetaraan esensi ketuhanan Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus.

Namun patut dicatat, beberapa gereja dan individu Kristen  ada yang menolak otoritas pengakuan ini dengan alasan bahwa rumusan tersebut tidak secara eksplisit tertulis dalam Alkitab. Esai ini akan menjawab penolakan tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana pengakuan iman ini dapat difungsikan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di tengah tantangan kontemporer yang tidak jauh berbeda dengan abad ke-4.

 

I.Menjawab Penolakan terhadap Pengakuan Nicea-Konstantinopel

1.Alkitab sebagai Sumber, Bukan Satu-satunya Format

Penolakan terhadap Pengakuan Nicea dengan alasan “tidak ada dalam Alkitab” mengandung kekeliruan pemahaman. Alkitab memang tidak memuat rumusan sistematis tentang Tritunggal, tetapi seluruh elemen pengakuan tersebut dapat ditemukan dalam Kitab Suci. Misalnya, keilahian Yesus tertuang dalam Yohanes 1:1 “Firman itu adalah Allah”, Yohanes 20:28 “Tuhanku dan Allahku”, dan Filipi 2:6 yang menyebut Yesus “dalam rupa Allah”. Keilahian Roh Kudus tersirat dalam Kisah Para Rasul 5:3-4 dimana berbohong kepada Roh Kudus sama dengan berbohong kepada Allah.

2.Sistematisasi Kebenaran Alkitab

Pengakuan Nicea-Konstantinopel bukanlah tambahan terhadap Alkitab, melainkan sistematisasi kebenaran-kebenaran yang telah ada dalam Kitab Suci. Ketika gereja menghadapi ajaran sesat Arianisme yang menyangkal keilahian Yesus, para bapa gereja tidak menciptakan doktrin baru, tetapi merumuskan secara sistematis apa yang telah diajarkan Alkitab. Ini sama seperti kata “Tritunggal” yang tidak ada dalam Alkitab, namun realitas Allah yang Esa dalam tiga Pribadi jelas diajarkan Kitab Suci.

3.Kesesuaian dengan Ajaran Rasuli

Pengakuan ini sejalan dengan pengajaran para rasul. Paulus dalam 1 Korintus 8:6 menyebut “satu Allah Bapa” dan “satu Tuhan Yesus Kristus”, menunjukkan kesatuan sekaligus pembedaan dalam Ketuhanan. Matius 28:19 mencatat perintah Yesus untuk membaptis “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”, menggunakan kata “nama” (tunggal) untuk tiga Pribadi, menunjukkan kesatuan esensi Allah.

 

II.Mengoperasionalkan Pengakuan Iman dalam Kehidupan Sehari-hari

1.Dari Liturgi ke Realitas Hidup

Pengakuan iman tidak boleh hanya menjadi ritual liturgis mingguan. Ketika kita mengaku “Aku percaya kepada Allah Bapa Yang Mahakuasa”, ini harus menjadi dasar hidup yang bergantung penuh kepada-Nya dalam segala situasi. Mengaku “Pencipta langit dan bumi” berarti kita menyadari tanggung jawab sebagai penatalayan ciptaan-Nya.

2.Yesus sebagai Pusat Kehidupan

Mengaku “Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal” bukan sekadar pernyataan doktrinal, tetapi pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan atas seluruh hidup kita. Ini berarti setiap keputusan, hubungan, dan aktivitas harus mencerminkan ketundukan kepada-Nya. Pengakuan “yang turun dari surga karena kita dan karena keselamatan kita” mengingatkan kita akan kasih Allah yang begitu besar, mendorong kita untuk mengasihi sesama dengan cara yang sama.

3.Roh Kudus sebagai Kekuatan Hidup

Mengaku percaya kepada “Roh Kudus, yang adalah Tuhan dan yang menghidupkan” berarti mengandalkan kuasa-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Roh Kudus yang “berbicara melalui para nabi” mengingatkan kita bahwa Dia tetap berbicara melalui Firman Allah hari ini, memimpin kita dalam kebenaran.

4.Gereja sebagai Komunitas Hidup

Pengakuan terhadap “gereja yang kudus, katolik (universal), dan rasuli” harus mewujud dalam komitmen aktif terhadap persekutuan, saling mengasihi, dan berpartisipasi dalam misi gereja. Ini bukan hanya tentang kehadiran di gedung gereja, tetapi menghidupi nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah dunia.

 

III.Siklus Dinamis: Alkitab – Pengakuan Iman – Alkitab

1.Perjalanan Kebenaran yang Berkesinambungan

Hubungan antara Alkitab dan Pengakuan Nicea-Konstantinopel bukanlah hubungan linear, melainkan siklus dinamis yang memperkaya iman. Proses ini dimulai dari Alkitab yang mengungkapkan siapa Allah Tritunggal dan apa yang dikerjakan-Nya. Kebenaran-kebenaran ini kemudian dikristalisasi dalam Pengakuan Nicea sebagai rumusan sistematis. Namun perjalanan tidak berhenti di situ—kita kembali lagi ke Alkitab dengan pemahaman yang lebih terstruktur untuk mendalami dan memperkaya pengetahuan tentang Allah dan karya-Nya.

2.Siklus Pertumbuhan Iman: Kognitif-Afektif-Konatif

Dalam kehidupan sehari-hari, terjadi siklus pertumbuhan iman yang melibatkan tiga dimensi: kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan/kasih), dan konatif (kehendak/tindakan). Semakin kita mengenal Allah melalui Alkitab dan Pengakuan Iman (kognitif), semakin kita mengasihi-Nya (afektif), dan semakin kita mentaati serta mengabdi kepada-Nya (konatif). Ketiga dimensi ini saling memperkuat dalam spiral pertumbuhan yang tidak pernah berakhir.

IV.Dari Kepala ke Hati ke Tangan: Transformasi Holistik

1.Internalisasi Kebenaran (Kognitif ke Afektif)

Pengakuan iman harus turun dari level intelektual ke dalam hati, menjadi keyakinan yang mengubah cara hidup. Ketika kita benar-benar percaya bahwa Yesus adalah Allah, kita akan hidup dengan hormat dan ketaatan yang tulus kepada-Nya. Ketika kita yakin akan kebangkitan orang mati, kita akan hidup dengan perspektif kekal, tidak terjebak dalam materialisme duniawi.

2.Aksi Konkret (Afektif ke Konatif)

Iman kepada Tritunggal harus menghasilkan buah-buah konkret: kasih kepada Allah dan sesama, keadilan sosial, kemurahan hati, pengampunan, dan integritas. Pengakuan iman menjadi tidak bermakna jika tidak diikuti oleh perubahan karakter dan tindakan yang mencerminkan nilai-nilai Kerajaan Allah. Pengalaman hidup ini kemudian mendorong kita kembali mendalami Alkitab dengan perspektif yang lebih kaya.

Kesimpulan

Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel bukanlah tambahan manusiawi terhadap Alkitab, melainkan kristalisasi kebenaran-kebenaran alkitabiah yang disusun secara sistematis untuk menghadapi tantangan zaman. Setiap butir pengakuan memiliki dasar yang kuat dalam Kitab Suci. Yang lebih penting, pengakuan ini harus menjadi kekuatan transformatif yang mengubah cara kita hidup, berpikir, dan berrelasi dengan Allah dan sesama. Dari ritual liturgis, pengakuan iman harus menjadi realitas hidup yang menuntun setiap langkah kita sebagai murid Kristus.

Lampiran: Rumusan Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel (381 M)

Aku percaya kepada Allah yang Esa, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan.

Dan kepada Yesus Kristus yang Esa, Anak Allah yang tunggal, yang diperanakkan dari Bapa sebelum segala abad: Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah yang benar dari Allah yang benar, diperanakkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa; oleh Dia segala sesuatu telah dijadikan. Yang karena kita manusia dan karena keselamatan kita turun dari surga, dan oleh Roh Kudus dikandung dari anak dara Maria, dan menjadi manusia. Dan disalibkan juga bagi kita dalam zaman Pontius Pilatus; Ia menderita dan dikuburkan. Dan bangkit pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; dan naik ke surga, duduk di sebelah kanan Bapa. Dan Ia akan datang kembali dengan mulia untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati; pemerintahan-Nya tidak akan berakhir.

Dan kepada Roh Kudus, yang adalah Tuhan dan yang menghidupkan, yang keluar dari Bapa, yang bersama-sama dengan Bapa dan Anak disembah dan dimuliakan, yang berfirman dengan perantaraan para nabi.

Dan kepada gereja yang kudus, katolik, dan rasuli. Aku mengaku satu baptisan untuk pengampunan dosa. Aku menantikan kebangkitan orang mati, dan kehidupan di abad yang akan datang. Amin.