Irjen Pol (Pur) Dr. Yehu Wangsajaya, M.Kom: Ketegasan yang Dipulihkan oleh Kasih
Pendahuluan: Ketika Tuhan Memanggil di Jalan yang Tidak Biasa
Ada orang-orang yang Tuhan bentuk melalui jalur yang tidak lazim. Mereka ditempa bukan hanya di ruang doa, tetapi juga di tengah hiruk-pikuk dunia yang keras. Irjen Pol (Pur) Dr. Yehu Wangsajaya, M.Kom adalah salah satu dari sedikit hamba Tuhan yang dipanggil melalui dua dunia: dunia penegakan hukum dan dunia pelayanan rohani. Sebagai jenderal polisi sekaligus pendeta di lingkungan Gereja Bethel Indonesia (GBI), ia menjadi saksi bahwa kasih Tuhan dapat menjangkau dan memakai siapa saja, bahkan mereka yang terbiasa memegang komando dan menghadapi konflik.
I.Ditempa dalam Tugas, Dibentuk dalam Karakter
Selama puluhan tahun mengabdi di Kepolisian Republik Indonesia, Dr. Yehu Wangsajaya dibentuk dalam disiplin, ketegasan, dan tanggung jawab. Ia belajar bahwa setiap keputusan membawa konsekuensi, dan setiap tindakan harus berakar pada integritas. Nilai-nilai ini bukan sekadar etika profesional, tetapi juga benih-benih rohani yang Tuhan tanamkan dalam dirinya.
Dalam banyak kesempatan, ia menyaksikan betapa rapuhnya hidup manusia. Ia melihat sisi gelap masyarakat, tetapi juga melihat betapa besar kebutuhan manusia akan pemulihan. Pengalaman-pengalaman inilah yang kelak menjadi dasar pelayanannya sebagai pendeta—pelayanan yang tidak hanya berbicara tentang surga, tetapi juga tentang luka-luka manusia yang nyata.
II.Dari Komando ke Penggembalaan: Panggilan yang Menyentuh Hati
Ketika memasuki masa purnabakti, Dr. Yehu Wangsajaya tidak berhenti mengabdi. Ia justru memasuki panggilan baru: menggembalakan umat Tuhan. Pelayanannya di GBI berfokus pada pembinaan keluarga, karakter, dan kepemimpinan—bidang-bidang yang sangat ia pahami dari pengalaman hidupnya.
Sebagai pendeta, ia tidak kehilangan ketegasannya, tetapi ketegasan itu kini dibungkus oleh kelembutan kasih. Ia mengajar dengan struktur yang jelas, tetapi juga dengan hati yang hangat. Ia menegur dengan kebenaran, tetapi juga memulihkan dengan pengharapan. Dalam setiap khotbahnya, ia mengingatkan bahwa Tuhan tidak hanya memanggil orang-orang yang “sempurna”, tetapi juga mereka yang pernah bergumul, terluka, dan ditempa oleh kehidupan.
III.Hukum dan Kasih: Dua Sayap Pelayanan
Pelayanan Dr. Yehu Wangsajaya memiliki warna yang unik karena ia memahami dua hal yang sering dianggap bertentangan: hukum dan kasih. Baginya, hukum menjaga manusia tetap berjalan di jalan yang benar, tetapi kasih menjaga manusia tetap memiliki hati yang lembut.
Ia sering menekankan bahwa:
- Hukum tanpa kasih menjadi kaku.
- Kasih tanpa hukum menjadi kabur.
- Tetapi ketika keduanya berjalan bersama, manusia dipulihkan.
Inilah integrasi yang ia hidupi: ketegasan yang dipulihkan oleh kasih, dan kasih yang dipandu oleh kebenaran.
Penutup: Teladan bagi Mereka yang Dipanggil Melalui Jalan yang Berliku
Irjen Pol (Pur) Dr. Yehu Wangsajaya, M.Kom adalah pengingat bahwa Tuhan dapat memakai siapa saja, dari latar belakang apa pun. Ia menunjukkan bahwa panggilan Tuhan tidak selalu datang melalui jalan yang lurus; kadang Tuhan memanggil melalui disiplin, konflik, dan pergumulan hidup.
Melalui hidupnya, kita belajar bahwa:
- Tidak ada masa lalu yang sia-sia.
- Tidak ada profesi yang terlalu “sekuler” untuk dipakai Tuhan.
- Tidak ada perjalanan yang terlalu jauh untuk kembali kepada kasih-Nya.
Pelayanannya menjadi teladan bagi generasi baru: bahwa menjadi pemimpin berarti juga menjadi pelayan, dan bahwa hati yang tunduk kepada Tuhan dapat membawa terang bahkan di tempat-tempat yang paling gelap.
Ref.:
Yehu Wangsajaya – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas