TITUS 3:5_TAFSIR REFORMED DAN PENTAKOSTA

Dua Pembacaan atas Titus 3:5: Reformed dan Pentakosta

Titus 3:5 adalah salah satu pernyataan paling padat tentang karya Roh Kudus dalam keselamatan: “Ia telah menyelamatkan kita… oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaruan yang dikerjakan oleh Roh Kudus.” Namun di balik kesepakatan permukaannya, dua tradisi besar — Reformed dan Pentakosta — membaca ayat ini dengan cara yang berbeda secara mendasar.

 

I.Kesepakatan Awal

Kedua tradisi sepakat pada hal yang paling fundamental: keselamatan adalah anugerah Allah semata, bukan hasil perbuatan manusia. Frasa pembuka “bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan” tidak diperdebatkan. Yang menjadi titik pisah adalah bagaimana karya Roh Kudus itu bekerja — dan apakah ia selesai dalam satu tindakan atau berlanjut dalam dua tahap yang berbeda.

 

II.Tafsiran Reformed: Satu Karya yang Utuh

Dalam tradisi Reformed, dua frasa dalam Titus 3:5 — permandian kelahiran kembali (palingenesia) dan pembaruan oleh Roh Kudus (anakainōsis) — dipahami sebagai dua sisi dari satu karya Roh yang tak terpisahkan. Keduanya bukan tahapan berurutan, melainkan aspek simultan dari regenerasi.

Palingenesia merujuk pada tindakan Allah yang membersihkan dan menghidupkan jiwa yang mati secara rohani — sebuah karya batin yang dikerjakan sepenuhnya oleh Roh, bukan oleh ritual baptisan air. Anakainōsis adalah lanjutan organik dari regenerasi itu: proses pengudusan progresif yang mengubah pikiran dan kehendak (Rm. 12:2). Keduanya adalah opus Dei — karya Allah dari awal hingga akhir.

Bagi Reformed, teks ini juga bersifat Trinitarian secara struktural: Bapa merancang keselamatan (ay. 4), Anak menggenapi penebusan (ay. 6), dan Roh Kudus menerapkannya dalam hati orang percaya. Tidak ada ruang dalam teks untuk “pengalaman kedua” yang terpisah — narasi keselamatan di sini adalah tunggal, utuh, dan final.

 

III.Tafsiran Pentakosta: Dua Tahap yang Berbeda

Teologi Pentakosta klasik membaca ayat yang sama dengan lensa yang berbeda. Permandian kelahiran kembali dipahami sebagai regenerasi awal — seseorang dilahirkan baru dan diselamatkan. Namun pembaruan oleh Roh Kudus dibaca sebagai pintu menuju pengalaman yang lebih dalam: baptisan Roh Kudus sebagai peristiwa kedua yang terpisah dari keselamatan, ditandai dengan glossolalia (bahasa roh) sebagaimana dalam Kisah Para Rasul 2.

Dengan kata lain, Pentakosta membangun ordo dua tingkat: seseorang dapat sudah diselamatkan tetapi belum “dibaptis dalam Roh.” Pembaruan sejati bagi mereka bukan hanya proses doktrinal yang diterima iman, tetapi pengalaman nyata yang dapat dirasakan dan diverifikasi secara subjektif. Roh Kudus bukan sekadar agen teologis — Ia adalah Pribadi yang kehadiran-Nya dapat dialami secara langsung.

Aliran Oneness Pentecostalism bahkan melangkah lebih jauh: palingenesia ditafsirkan secara sakramental, menjadikan baptisan air dalam nama Yesus sebagai syarat keselamatan yang literal — sebuah posisi yang jauh melampaui mainstream Pentakosta.

 

IV.Evaluasi Kritis

Tafsiran Pentakosta menghadapi dua masalah eksegetikal yang serius. Pertama, teks Titus 3:5 tidak memberikan indikasi apapun bahwa dua frasa itu merujuk pada dua peristiwa berbeda dalam waktu — secara gramatikal, keduanya berada dalam satu konstruksi yang menggambarkan satu karya keselamatan.

Kedua, membangun doktrin “baptisan Roh sebagai pengalaman kedua” dari ayat ini membutuhkan pembacaan eisegesis — membawa kerangka Kisah Para Rasul 2 ke dalam teks yang konteksnya adalah surat pastoral, bukan narasi Pentakosta.

 

Kesimpulan

Perbedaan antara kedua tradisi ini pada akhirnya mencerminkan pertanyaan epistemologis yang lebih dalam: apakah otoritas penafsiran final berada pada teks yang dibaca secara gramatikal-historis,(Reformed) atau pada pengalaman komunitas iman (Pentakosta) yang kemudian mencari legitimasi dalam teks(Tiruts 3:5)?

Titus 3:5 sendiri, jika dibaca dalam konteksnya, berbicara tentang satu karya Roh yang menyeluruh — bukan peta perjalanan menuju pengalaman spiritual yang bertingkat.