Esensi vs Eksistensi: Pemahaman Calvin tentang Imago Dei dan Kejadian 5:3
Mengapa Manusia Masih Berharga Meski Lahir dalam “Gambar Adam”?
PENDAHULUAN
Ketika membaca Kejadian 5:3 yang menyatakan Set lahir dalam “gambar Adam” bukan “gambar Allah,” kita mungkin bertanya: Apakah ini berarti manusia sudah tidak berharga lagi? John Calvin memberikan jawaban yang mengejutkan melalui pemahaman tentang esensi dan eksistensi manusia.
I.Memahami Esensi dan Eksistensi dengan Sederhana
Sebelum masuk ke pemikiran Calvin, mari kita pahami dua konsep dasar ini:
Esensi = Apa yang membuat sesuatu menjadi dirinya sendiri. Seperti “ke-manusia-an” yang membedakan manusia dari hewan atau tumbuhan.
Eksistensi = Bagaimana sesuatu itu ada dan berfungsi dalam kenyataan sehari-hari.
Analoginya seperti mobil: esensinya tetap mobil meski rusak, tapi eksistensinya sebagai alat transportasi terganggu kalau mesinnya bermasalah.
II.Calvin: Esensi Manusia sebagai Imago Dei Tidak Hilang
Meski Calvin terkenal dengan penekanannya pada keberdosaan manusia, dia memiliki pandangan yang nuanced tentang Kejadian 5:3. Menurut Calvin, ketika Set lahir dalam “gambar Adam,” ini tidak berarti esensi sebagai imago Dei hilang total.
1.Yang Tetap Ada (Esensi):
- Struktur dasar manusia sebagai makhluk berakal
- Kemampuan untuk berpikir, merasa, dan memilih
- Potensi untuk berhubungan dengan Allah dan sesama
- Martabat fundamental sebagai ciptaan khusus Allah
Calvin menyebut ini sebagai “sisa-sisa gambar Allah” yang tidak bisa dihapuskan seluruhnya, bahkan oleh dosa yang paling parah sekalipun.
2.Yang Rusak Total (Eksistensi):
- Fungsi hubungan yang benar dengan Allah
- Kemampuan aktual untuk mengenal dan mengasihi Allah
- Kehendak yang bebas untuk memilih kebaikan spiritual
- Kecenderungan natural untuk mencari dan melayani Allah
III.Kejadian 5:3 dalam Perspektif Esensi-Eksistensi
Ketika Alkitab berkata Set lahir dalam “gambar Adam,” Calvin memahami ini sebagai:
Secara Esensi: Set tetap manusia dengan struktur dan potensi sebagai imago Dei. Dia tetap berharga, bermartabat, dan berbeda dari makhluk lain.
Secara Eksistensi: Set mewarisi kondisi spiritual Adam yang jatuh – ketidakmampuan untuk berfungsi sebagaimana Allah maksudkan. Hubungannya dengan Allah rusak, meski strukturnya sebagai manusia utuh.
Ibarat lampu yang putus: esensinya tetap lampu (punya filamen, fitting, kaca), tapi eksistensinya sebagai pemberi cahaya tidak berfungsi karena aliran listriknya terputus.
IV.Implikasi Praktis untuk Kehidupan Sehari-hari
- Menghargai Setiap Manusia
Karena esensi imago Dei tidak hilang, setiap orang – bahkan yang paling berdosa – tetap memiliki nilai dan martabat yang tinggi. Ini mendasari:
- Hak asasi manusia universal
- Kesetaraan fundamental semua orang
- Penghormatan terhadap siapa pun tanpa diskriminasi
- Memahami Keterbatasan Natural
Karena eksistensi sebagai imago Dei rusak, kita tidak boleh berharap terlalu tinggi pada kemampuan natural manusia dalam hal spiritual:
- Jangan kecewa ketika orang belum percaya tidak mengerti kebenaran rohani
- Bersabar dalam penginjilan – mereka butuh pencerahan ilahi
- Rendah hati – kita sendiri dulu juga dalam kondisi yang sama
- Optimisme dalam Pelayanan
Karena esensi imago Dei masih ada, setiap orang punya potensi untuk diubahkan:
- Jangan putus asa melayani siapa pun, sekeras apa pun hati mereka
- Percaya bahwa Roh Kudus bisa memulihkan fungsi spiritual mereka
- Berinvestasi dalam pengembangan manusia di segala bidang
- Pendekatan Holistik dalam Pelayanan
Calvin mengajarkan kita untuk melayani baik esensi maupun eksistensi manusia:
- Hargai kemampuan natural mereka (pendidikan, seni, ilmu pengetahuan)
- Layani kebutuhan fisik dan emosional mereka
- Beritakan Injil untuk memulihkan hubungan spiritual mereka
V.Keselamatan: Dari Eksistensi Rusak ke Eksistensi yang Dipulihkan
Melalui Yesus Kristus, Allah tidak mengubah esensi kita (kita tetap manusia), tapi memulihkan eksistensi kita sebagai imago Dei:
- Hubungan dengan Allah dipulihkan melalui pengampunan
- Fungsi spiritual diaktifkan kembali oleh Roh Kudus
- Tujuan hidup dikembalikan pada glorifying God (memuliakan Allah)
Ini seperti lampu yang diperbaiki – esensinya tetap sama, tapi sekarang bisa berfungsi memberi cahaya lagi.
Kesimpulan: Balanced Perspective
Pemahaman Calvin tentang esensi-eksistensi memberikan perspektif yang seimbang terhadap Kejadian 5:3:
Realistis: Kita mengakui bahwa manusia benar-benar rusak secara spiritual dan butuh pertolongan Allah.
Optimis: Kita percaya bahwa setiap orang masih berharga dan punya potensi untuk diubahkan.
Praktis: Kita melayani manusia seutuhnya – menghargai kemampuan natural mereka sambil memberitakan kebutuhan mereka akan Kristus.
Jadi ketika kita melihat seseorang yang jauh dari Allah, ingatlah: mereka tetap imago Dei secara esensi, hanya eksistensinya yang perlu dipulihkan. Dan itulah misi kita – membantu mereka menemukan fungsi sejati mereka sebagai gambar Allah melalui Yesus Kristus.
Set mungkin lahir dalam “gambar Adam,” tapi melalui anugerah Allah, dia – dan kita semua – bisa hidup dalam “gambar Kristus.”