GEREJA YANG DIPENUHI DOA

Membaca The Prayer-Saturated Church dari Perspektif Reformed

I.DOA BUKAN SEKADAR PROGRAM

Dalam The Prayer-Saturated Church, Cheryl Sacks mengajak gereja melihat doa bukan sebagai salah satu program tambahan, melainkan sebagai bagian yang memenuhi seluruh kehidupan gereja. Buku ini terutama bersifat praktis: bagaimana memobilisasi jemaat, membangun tim doa, menghubungkan pendeta dengan pemimpin doa, mengadakan persekutuan doa, dan menolong seluruh jemaat bertumbuh menjadi komunitas yang berdoa. (NavPress)

Pertanyaan Sacks sangat sederhana tetapi menantang: jika orang luar mengamati gereja kita, apakah ia akan segera melihat bahwa gereja itu adalah gereja yang berdoa? Doa tidak seharusnya hanya muncul dalam kebaktian Minggu, tetapi meresapi pelayanan, penginjilan, kepemimpinan, persekutuan dan kehidupan jemaat.

II.DARI “PROGRAM DOA” MENJADI “BUDAYA DOA”

Salah satu kekuatan buku Sacks adalah penekanannya pada perubahan budaya. Gereja tidak cukup memiliki satu kelompok doa sementara sebagian besar jemaat tetap pasif. Karena itu ia berbicara tentang strategi, koordinator doa, tim aksi doa, kepemimpinan pendeta, serta berbagai bentuk pertemuan doa. Tujuannya ialah agar doa menjadi kebiasaan bersama, bukan aktivitas segelintir orang. (Prayersaturated)

Gambaran gereja mula-mula dalam Kisah Para Rasul menjadi inspirasi penting: para murid bertekun dalam doa sebelum menjalankan misi gereja. Dengan demikian, doa bukan pengganti pelayanan, melainkan napas yang menyertai pelayanan.

III. CATATAN DARI TEOLOGIA REFORMED

Teologi Reformed dapat menerima dengan kuat panggilan untuk menjadikan doa sebagai bagian sentral kehidupan gereja. Namun, fondasinya perlu ditegaskan: doa bukan sarana untuk mengendalikan atau “melepaskan” kuasa Allah. Doa adalah respons iman kepada Allah yang berdaulat.

Allah tidak menjadi lebih berkuasa karena gereja berdoa. Sebaliknya, Allah dalam kedaulatan-Nya memilih bekerja melalui doa umat-Nya. Karena itu, keberhasilan doa tidak terutama diukur dari terjadinya mukjizat, pertumbuhan jumlah jemaat, atau perubahan sosial yang segera terlihat. Ukuran pertama ialah kesetiaan gereja datang kepada Allah, tunduk kepada kehendak-Nya, dan memohon agar kerajaan-Nya datang.

Di sinilah The Prayer-Saturated Church dapat diperkaya oleh perspektif Reformed: semangat doa harus berjalan bersama doktrin yang sehat, pemberitaan Firman, sakramen, disiplin gereja, dan kehidupan kudus.

IV.APA YANG DAPAT DITERAPKAN DI GEREJA REFORMED?

Gereja Reformed dapat mengambil beberapa prinsip praktis Sacks tanpa harus mengadopsi seluruh bahasa teologisnya.

Pertama, membangun budaya doa, bukan sekadar mengadakan kebaktian doa.

Kedua, membentuk kelompok kecil yang secara teratur mendoakan gereja, pendeta, keluarga, masyarakat dan pekerjaan misi.

Ketiga, menghubungkan doa dengan pelayanan: sebelum berkhotbah, melakukan penginjilan, mengunjungi orang sakit, mengambil keputusan gerejawi, dan melayani masyarakat, gereja terlebih dahulu datang kepada Allah.

Keempat, mengajar jemaat berdoa berdasarkan Firman, sehingga doa bukan sekadar daftar keinginan manusia, tetapi permohonan yang dibentuk oleh kehendak Allah.

Akhirnya, gereja yang dipenuhi doa bukan gereja yang merasa memiliki kuasa atas Allah, melainkan gereja yang semakin sadar bahwa tanpa Kristus kita tidak dapat berbuat apa-apa. Doa adalah pengakuan bahwa gereja hidup, melayani, dan berharap hanya karena anugerah dan kedaulatan Allah.

.