Filsafat Timur dan Perubahan — Melepaskan, Mengalir, atau Melampaui
I.Bukan Hanya Barat yang Bertanya
Di artikel sebelumnya kita melihat bagaimana para pemikir Barat memikirkan perubahan. Ternyata bangsa-bangsa di Timur juga sudah lama memikirkannya. Mereka melihat hal yang sama: segala sesuatu berubah. Namun jalan keluar yang mereka tawarkan berbeda-beda. Mari kita kenali tiga di antaranya.
II.Buddhisme: Segala Sesuatu Tidak Kekal
Ajaran Buddha memakai kata anicca, yang berarti “tidak kekal”. Tubuh menua, perasaan datang dan pergi, dan tidak ada yang tinggal tetap. Menurut ajaran ini, penderitaan muncul karena kita menggenggam erat sesuatu yang pasti lepas dari tangan kita. Jalan keluarnya adalah melepaskan kemelekatan. Kalau kita berhenti menggenggam, kita tidak akan terluka saat kehilangan.
III. Taoisme: Mengalir seperti Air
Taoisme berasal dari Tiongkok. Salah satu ajarannya disebut wu wei, yang berarti “tidak memaksa”. Lihatlah air sungai. Ia tidak melawan batu, tetapi mengalir mengitarinya. Menurut Taoisme, hidup yang baik adalah hidup yang selaras dengan alam dan tidak melawan arus perubahan. Jalan keluarnya adalah mengalir bersama alam.
IV.Hindu: Dunia sebagai Tabir
Dalam ajaran Hindu ada kata maya, yang sering diartikan tabir atau ilusi. Dunia yang berubah-ubah ini dianggap bukan kenyataan yang sesungguhnya. Kenyataan sejati adalah yang tidak berubah, yaitu Brahman. Jalan keluarnya adalah melampaui dunia ini dan bersatu dengan Yang Sejati.
V.Apa yang Mereka Lihat, dan Apa yang Berbeda
Ada hal yang patut kita hargai. Ketiga ajaran ini melihat dengan jujur bahwa dunia berubah dan bahwa menggantungkan hati pada yang sementara membuat kita terluka. Alkitab pun mengatakan hal serupa.
Namun jalan keluarnya berbeda. Alkitab tidak mengajarkan bahwa dunia ini hanya ilusi. Dunia ini nyata, diciptakan Allah, dan “sungguh amat baik”. Kita juga tidak hanya diminta melepaskan segalanya, atau sekadar mengalir tanpa arah. Yang menolong kita bukan sebuah teknik, melainkan seorang Pribadi. Allah yang tidak berubah itu mengenal kita dan memegang kita. Kita tidak lari dari dunia, kita hidup di dalamnya dengan berpegang kepada-Nya.
VI.Ayat Penutup
“Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.”
— Yesaya 40:8
VII. Doa
Ya Bapa, kami melihat bahwa segala sesuatu di dunia ini berubah, dan hati kami mudah gelisah. Kami bersyukur bahwa kami tidak perlu lari dari dunia ini, sebab Engkau yang menciptakannya dan Engkau yang memegang kami. Ajarlah kami menggenggam Firman-Mu yang kekal, dan melepaskan hal-hal yang tidak dapat menyelamatkan kami. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.
Bersambung ke Kontingensi 4: SUARA FILSAFAT MODERN