KONTINGENSI 4_FILSAFAT BARAT

Suara Filsafat Modern — Keberadaan Tanpa Alasan?

I.Ketika Manusia Merasa Sendirian

Kita sudah melihat pandangan Timur tentang perubahan. Sekarang mari kita dengarkan suara-suara dari abad ke-20, saat sebagian pemikir Barat merasa dunia ini tidak lagi memiliki sandaran. Mereka menyaksikan perang besar dan penderitaan yang dahsyat, dan banyak yang mulai bertanya, apakah hidup ini sungguh punya arti.

II.Sartre: Ada Tanpa Alasan

Jean-Paul Sartre, seorang filsuf Prancis, berkata bahwa manusia “dilemparkan” ke dunia tanpa alasan. Menurutnya, kita tidak diciptakan dengan tujuan tertentu. Kita hanya ada, lalu kita sendirilah yang harus menciptakan makna hidup kita melalui pilihan-pilihan kita. Bagi Sartre, keberadaan mendahului makna. Hidup ini kosong sampai kita mengisinya sendiri.

III. Heidegger: Terlempar ke Dunia

Martin Heidegger memakai istilah “keterlemparan”. Kita terbangun di dunia ini tanpa pernah memilihnya, di keluarga yang tidak kita pilih, pada waktu yang tidak kita tentukan. Ia melihat manusia sebagai makhluk yang sadar bahwa dirinya akan mati, dan justru dari kesadaran itulah manusia didorong untuk hidup dengan sungguh-sungguh.

IV.Camus: Dunia yang Absurd

Albert Camus mengibaratkan hidup manusia seperti Sisifus, tokoh dalam mitos Yunani yang dihukum mendorong batu besar ke puncak gunung selamanya, dan batu itu selalu menggelinding turun lagi. Menurut Camus, manusia mencari makna, tetapi dunia diam saja, tidak memberi jawaban. Itulah yang ia sebut absurd. Namun ia berkata, kita tetap harus terus hidup, bahkan membayangkan Sisifus itu bahagia.

V.Rorty: Kebenaran Hanyalah Kesepakatan

Richard Rorty, seorang filsuf Amerika yang lebih baru, berpendapat bahwa kebenaran bukanlah sesuatu yang tetap dan objektif, melainkan sekadar cerita yang kebetulan disepakati suatu masyarakat. Menurutnya, tidak ada dasar yang pasti untuk mengatakan sesuatu itu benar secara mutlak.

VI.Apa yang Dapat Kita Pelajari

Para pemikir ini jujur mengakui bahwa dunia ini kontingen, bisa saja berbeda, dan hidup terasa rapuh. Itu benar. Namun mereka menyimpulkan bahwa karena dunia tidak memiliki alasan yang pasti, maka hidup ini tanpa makna yang sesungguhnya.

Di sinilah Alkitab berbicara berbeda. Dunia ini memang kontingen, tetapi bukan tanpa alasan. Kita tidak “dilemparkan” begitu saja. Kita diciptakan, dikenal, dan dikasihi oleh Allah sebelum kita ada (Mazmur 139:13-16). Hidup kita memiliki makna, bukan karena kita menciptakannya sendiri, tetapi karena Sang Pencipta sudah memberi maknanya.

VII. Ayat Penutup

“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku… Mataku melihat selagi aku belum berbentuk; segala hariku telah tertulis dalam kitab-Mu.”
— Mazmur 139:13, 16

VIII. Doa

Ya Bapa, di dunia yang terasa penuh pertanyaan ini, kami bersyukur bahwa hidup kami bukan kebetulan tanpa arti. Engkau mengenal kami sebelum kami dilahirkan, dan Engkau memberi makna bagi hari-hari kami. Ketika hati kami mulai meragu, ingatkanlah kami bahwa kami ada di dalam rencana kasih-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.

Bersambung ke Kontingensi 5: DUNIA YANG BERUBAH, TUHAN YANG TIDAK BERUBAH