KONTINGENSI 2: MENGAPA SEMUA BERUBAH?

Mengapa Semua Berubah? — Jejak Pemikiran dari Aristoteles hingga Ibnu Sina

I.Pertanyaan yang Sudah Lama Ditanyakan

Di artikel sebelumnya kita belajar bahwa dunia ini kontingen, artinya bisa ada dan bisa tidak ada. Sejak dahulu, manusia bertanya: mengapa semuanya berubah? Apa yang membuat dunia ini tetap ada? Mari kita berkenalan dengan tiga tokoh yang sudah lama memikirkannya.

IIAristoteles: Memperhatikan Perubahan

Aristoteles hidup di Yunani lebih dari 2.300 tahun lalu. Ia suka mengamati alam. Biji tumbuh menjadi pohon. Air menjadi uap. Anak kecil menjadi dewasa. Ia sadar bahwa setiap perubahan pasti ada penyebabnya. Kayu tidak bergerak sendiri, pasti ada yang mendorongnya.

Aristoteles juga membedakan tiga macam hal. Pertama, yang harus ada, seperti dua ditambah dua sama dengan empat. Kedua, yang mustahil ada, seperti lingkaran yang bersudut. Ketiga, yang bisa ada dan bisa juga tidak ada. Yang ketiga inilah kontingen.

III. Ibnu Sina: Rantai yang Harus Berhenti

Ibnu Sina adalah seorang ilmuwan dan filsuf dari Persia, sekitar seribu tahun lalu. Ia memberi gambaran yang mudah dimengerti. Bayangkan deretan gerbong kereta. Setiap gerbong bergerak karena ditarik gerbong di depannya. Meski ada seribu gerbong, semuanya tetap membutuhkan satu lokomotif. Gerbong tidak bisa menjalankan dirinya sendiri.

Begitu pula dunia kita. Segala yang kontingen ada karena sebab lain, dan sebab itu pun ada karena sebab yang lain lagi. Rantai ini tidak mungkin berjalan tanpa ujung. Harus ada satu yang tidak bergantung pada siapa pun. Ia ada bukan karena kebetulan, tetapi karena memang harus ada. Ibnu Sina menyebutnya “Yang Wajib Ada”.

IV.Thomas Aquinas: Sampai kepada Allah

Thomas Aquinas adalah seorang guru Kristen pada abad ke-13. Ia belajar dari Aristoteles dan Ibnu Sina. Ia menyimpulkan bahwa Yang Wajib Ada, yang menopang segala sesuatu, itulah yang kita sebut Allah. Dunia yang kontingen menunjuk kepada Allah yang tidak bergantung pada apa pun.

V.Apa yang Dapat Kita Pelajari

Para pemikir ini menolong kita melihat satu hal penting: dunia tidak menopang dirinya sendiri. Namun ingatlah, akal manusia hanya bisa menunjuk arah, seperti papan penunjuk jalan. Papan itu memberi tahu ke mana kita harus menuju, tetapi ia bukan tujuannya.

Untuk mengenal siapa Allah sesungguhnya, Bapa yang mengasihi kita, kita membutuhkan Firman-Nya. Hal itu akan kita lihat dalam artikel-artikel berikutnya.

VI.Ayat Penutup

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”
— Roma 11:36

VII. Doa

Ya Allah, Pencipta dan Penopang segala sesuatu, kami bersyukur bahwa dunia ini tidak berjalan sendiri tanpa tuntunan-Mu. Tolonglah kami tidak hanya mengetahui tentang Engkau, tetapi juga mengenal Engkau melalui Firman-Mu. Jagalah hati kami tetap bersandar kepada-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.

Bersambung ke Kontingensi 3: FILSAFAT TIMUR DAN PERUBAHAN