KETIKA FRIEDRICH NIETZSCHE BERTEMUA MUSA

DIALOG  IMAGINER

Ketika Friedrich Nietzsche Bertemu Musa: Sebuah Dialog Imajiner di Mazmur 90

1.Bayangkan sebuah percakapan lintas zaman. Di satu sisi ada Friedrich Nietzsche, filsuf Jerman yang terkenal dengan seruannya, “Allah telah mati”. Di sisi lain ada Musa, nabi tua yang dalam Mazmur 90 berdoa kepada Allah yang kekal. Keduanya bertemu dalam sebuah dialog imajiner tentang waktu, manusia, dan Allah.

2.Nietzsche membuka percakapan dengan nada tajam.
“Musa,” katanya, “manusia terlalu lama bergantung pada gagasan tentang Allah. Kepercayaan itu melemahkan. Manusia seharusnya berani menciptakan maknanya sendiri, menjadi kuat, menjadi Übermensch. Mengapa terus menundukkan diri pada Yang Kekal?”

3.Musa tidak langsung membantah. Ia memandang jauh, seolah melihat generasi demi generasi berlalu. Lalu ia berkata pelan,
“Nietzsche, aku telah melihat kekuatan manusia. Aku memimpin bangsa yang keras kepala, menyaksikan keberanian dan kejatuhan mereka. Karena itulah aku berdoa: ‘Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun’ (Mazmur 90:1).”

4.Nietzsche tersenyum sinis.
“Tetapi lihatlah waktu! Hidup ini singkat. Bukankah itu alasan untuk hidup sepuasnya, sekuat-kuatnya, tanpa ilusi tentang kekekalan?”

5.Musa mengangguk, seakan setuju sebagian.
“Benar, hidup ini singkat,” jawabnya. “Aku juga berkata, ‘Masa hidup kami tujuh puluh tahun, dan jika kuat delapan puluh tahun’ (Mazmur 90:10). Namun justru karena singkat, hidup ini tidak boleh dijalani dengan kesombongan. Singkatnya hidup mengajar kami hikmat.”

6.Di titik ini, perbedaan mereka semakin jelas. Bagi Nietzsche, kefanaan adalah alasan untuk menolak Allah. Bagi Musa, kefanaan adalah alasan untuk mencari Allah. Musa melanjutkan,
“Karena kami fana, aku berdoa: ‘Ajarlah kami menghitung hari-hari kami, supaya kami beroleh hati yang bijaksana’ (Mazmur 90:12). Hikmat bukan lahir dari kekuatan semata, tetapi dari kesadaran bahwa kita bukan Allah.”

7.Nietzsche terdiam sejenak. Ia terbiasa melihat agama sebagai pelarian dari kenyataan pahit hidup. Namun Musa tidak sedang melarikan diri. Ia justru sangat realistis: manusia rapuh, waktu terbatas, hidup penuh jerih lelah. Tetapi Musa tidak berhenti di sana. Ia memohon,
Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu” (Mazmur 90:14).

8.Di sinilah Mazmur 90 berbicara kuat kepada zaman modern. Ketika banyak orang hidup seperti Nietzsche—mencari makna dengan kekuatan diri sendiri—Mazmur ini mengingatkan bahwa makna terdalam lahir dari relasi dengan Allah yang kekal. Bukan Allah yang mati, tetapi manusialah yang mudah kehilangan arah ketika memutuskan diri dari Sang Kekal.

9.Dialog imajiner ini menantang kita. Apakah kita melihat keterbatasan hidup sebagai alasan untuk hidup tanpa Tuhan, atau sebagai undangan untuk bersandar kepada-Nya? Musa memilih bersandar, dan dari sanalah lahir doa yang jujur, rendah hati, dan penuh harapan. Di tengah hidup yang singkat, Mazmur 90 mengajak kita menemukan arti yang tidak ikut menua bersama waktu.