KOMENTAR DARI KACAMATA KIERKEGARD
Iman dan Kengerian: Kierkegaard tentang Maria dan Kehamilan Ilahi
PENDAHULUAN
Søren Kierkegaard (1813–1855), seorang filsuf dari Denmark, melihat kisah kehamilan Maria bukan sebagai mukjizat yang indah semata, tetapi sebagai ujian iman yang sangat berat dan menakutkan. Bagi Kierkegaard, iman sejati membutuhkan keberanian luar biasa untuk percaya pada hal yang mustahil.
I. Pandangan Kierkegaard: Maria Menghadapi Pilihan yang Sulit
Kehamilan Maria adalah contoh sempurna dari apa yang Kierkegaard sebut “penangguhan etis” – situasi di mana perintah Tuhan bertentangan dengan aturan moral masyarakat. (arti penangguhan etis lihat catatan dibawah)
1. Situasi yang Mustahil (Absurd)
Secara manusiawi, kehamilan Maria adalah skandal besar:
- Dia hamil tanpa suami
- Masyarakat akan menganggapnya berzina
- Bahkan tunangannya (Yusuf) hampir meninggalkannya
- Tidak ada cara membuktikan bahwa ini karya Roh Kudus
Secara iman, Maria harus percaya:
- Tuhan yang memanggilnya
- Janji tentang kelahiran Sang Juruselamat
- Bahwa yang mustahil bisa terjadi
Inilah konfliknya: Maria harus memilih antara terlihat baik di mata manusia ATAU taat pada panggilan Tuhan. Dia memilih Tuhan, meskipun konsekuensinya mengerikan.
2. Maria sebagai Pahlawan Iman
Kierkegaard menyebut Maria sebagai “Ksatria Iman” – orang yang berani percaya sendirian tanpa jaminan:
- Tidak ada bukti yang bisa dia tunjukkan
- Tidak ada yang bisa memahami posisinya
- Dia harus percaya sendirian di hadapan Tuhan
“Inilah kengeriannya sekaligus keindahannya: Maria harus merangkul paradoks yang menakutkan ini – menjadi perawan yang hamil. Dia tidak bisa menjelaskan kepada siapa pun. Dia hanya bisa percaya. Dia berdiri sendirian dengan imannya.”
II. Nasihat untuk Maria: Menghadapi Tekanan Sosial
Jika Kierkegaard menjadi pendamping rohani Maria saat menghadapi hinaan dan tekanan masyarakat, ini nasihatnya:
1. Terimalah Kesendirianmu
“Maria, dunia tidak akan mengerti. Mereka hanya melihat aibmu, bukan panggilanmu. Kekuatanmu bukan dari pembenaran manusia, tetapi dari hubunganmu yang pribadi dengan Tuhan. Jangan sia-siakan energimu mencoba membuktikan diri kepada mereka yang tidak akan percaya.”
2. Jaga Api Imanmu
“Tekanan sosial akan selalu ada karena kamu tidak bisa membuktikan klaimmu. Tugasmu bukan membuktikan, tetapi tetap percaya pada yang mustahil. Pertahankan imanmu dengan gairah, meskipun akal sehat dan semua orang menentangmu.”
3. Ketahuilah Siapa Dirimu
“Maria, kamu adalah individu yang dipilih Tuhan secara langsung. Nilaimu di hadapan Tuhan jauh lebih berharga daripada penilaian masyarakat. Penderitaan sosialmu adalah harga dari perjumpaanmu langsung dengan Yang Ilahi. Bersukacitalah dalam ketegangan ini – ini bukti bahwa imanmu nyata.”
“Biarkan dunia berbicara, Maria. Rasa sakit yang kamu alami adalah tanda bahwa kamu telah memasuki dimensi yang tidak dipahami dunia. Tetaplah dalam imanmu, karena di tengah hinaan inilah, kamu menjadi Ratu sejati yang bersukacita dalam Tuhan yang mustahil.”
KESIMPULAN UNTUK JEMAAT
Pelajaran bagi kita:
- Iman sejati sering kali terasa menakutkan – Iman bukan hanya perasaan nyaman, tetapi keberanian untuk percaya saat semua bukti menentang kita.
- Taat pada Tuhan kadang membuat kita terlihat salah di mata manusia – Seperti Maria, kita mungkin tidak bisa membuktikan atau menjelaskan pilihan iman kita kepada semua orang.
- Kesepian dalam iman adalah bagian dari perjalanan – Ada momen di mana kita harus berdiri sendirian dengan Tuhan, tanpa dukungan atau pemahaman orang lain.
- Nilai kita ada di hadapan Tuhan, bukan manusia – Ketika kita menghadapi hinaan karena iman, ingatlah bahwa penilaian Tuhan yang paling penting.
Pertanyaan refleksi:
- Pernahkah Anda diminta Tuhan untuk percaya pada sesuatu yang tidak masuk akal?
- Apakah Anda berani seperti Maria – memilih Tuhan meski dunia tidak mengerti?
- Bagaimana Anda menghadapi kesepian dalam perjalanan iman?
—————–================
ARTI ISTILAH PENANGGUHAN ETIS:
Penangguhan = menunda, menangguhkan, atau “menyimpan dulu”
Etis = aturan moral yang berlaku umum di masyarakat
Jadi “penangguhan etis” artinya: “Untuk sementara waktu, aturan moral umum ditangguhkan/dikesampingkan karena ada perintah langsung dari Tuhan”
Contoh pada Maria:
Aturan etis universal (yang berlaku untuk semua orang):
- Wanita tidak boleh hamil sebelum menikah
- Harus jujur kepada tunangan
- Harus menjaga nama baik di masyarakat
Perintah Tuhan kepada Maria secara khusus:
- Terima kehamilan dari Roh Kudus
- Percaya pada janji Tuhan
- Lakukan ini meskipun terlihat melanggar aturan moral
Maria harus “menangguhkan” atau “mengabaikan sementara” aturan etis universal tersebut, BUKAN karena dia tidak bermoral, TETAPI karena ada panggilan khusus dari Tuhan yang lebih tinggi.
Ilustrasi sederhana:
Seperti seorang dokter yang menangguhkan aturan “jangan melukai orang” ketika melakukan operasi untuk menyelamatkan nyawa. Dia memotong tubuh pasien (yang normalnya salah), tapi ini dibenarkan karena ada tujuan lebih tinggi (menyelamatkan hidup).
Maria menangguhkan aturan sosial (jangan hamil sebelum nikah), karena ada tujuan teologis yang lebih tinggi (melahirkan Juruselamat dunia).