LUMRAH WIS PADA TUWO.

“Lumrah Wis Pada Tuwo” — Benarkah Begitu?
Menimbang dari Psikologi, Teologi, dan Jalan Keluar Alkitabiah

PENDAHULUAN

Ungkapan Jawa “lumrah wis pada tuwo”—atau dalam bahasa Indonesia, “lumrah sudah pada tua”—sering dipakai untuk menutup pembicaraan. Biasanya muncul saat seseorang pelupa, sensitif, keras kepala, atau sulit berubah. Kalimat ini terdengar bijak, tapi juga bisa jadi cara halus untuk menyerah: sudah tua, mau bagaimana lagi? Benarkah usia otomatis menjelaskan segalanya?

  1. Sudut Pandang Psikologi: Antara Fakta dan Generalisasi

Dalam ilmu jiwa, penuaan memang membawa perubahan. Fungsi kognitif tertentu melambat, energi emosional berkurang, dan toleransi terhadap stres bisa menurun. Erik Erikson menyebut tahap lanjut usia sebagai fase integrity vs despair: seseorang menilai hidupnya, entah dengan syukur atau penyesalan.

Namun psikologi modern menolak generalisasi. Tidak semua perubahan perilaku disebabkan usia. Banyak sikap “makin sulit” justru buah kebiasaan lama yang tak pernah diolah. Usia memperbesar apa yang sudah ada—baik kebijaksanaan maupun luka batin. Maka kalimat “lumrah wis pada tuwo” bisa menjadi penjelasan, tapi juga bisa menjadi dalih untuk berhenti bertumbuh.

  1. Sudut Pandang Teologi: Usia Bukan Alasan Mandek Rohani

Alkitab memandang usia lanjut bukan sebagai masa kemunduran, melainkan masa pematangan. “Orang benar akan bertunas seperti pohon korma… pada masa tua pun mereka masih berbuah” (Mazmur 92:13–15). Dalam teologi Kristen, pertumbuhan rohani tidak punya tanggal kedaluwarsa.

Masalahnya, ketika ungkapan “lumrah wis pada tuwo” dipakai tanpa refleksi iman, ia bisa berubah menjadi teologi pasrah yang keliru. Seolah-olah Roh Kudus berhenti bekerja saat rambut memutih. Padahal pembaruan batin justru dijanjikan “hari demi hari” (2 Korintus 4:16).

  1. Jalan Keluar Alkitabiah: Dari Pasrah ke Bertumbuh

Alkitab menawarkan jalan tengah yang jujur dan penuh harapan.

Pertama, mengakui keterbatasan usia tanpa memutlakkan kelemahan. “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami, supaya kami beroleh hati yang bijaksana” (Mazmur 90:12).

Kedua, mengganti narasi “sudah tua” dengan “masih diproses.” Pertobatan, kelembutan hati, dan kerelaan belajar bukan milik usia muda saja. Musa dipanggil memimpin di usia lanjut, Simeon tetap peka mendengar suara Allah, dan Kaleb di usia 85 tahun masih berkata, “aku masih kuat” (Yosua 14:11).

Penutup

“Lumrah wis pada tuwo” bisa menjadi ungkapan empati—asal tidak dijadikan vonis. Psikologi mengingatkan kita akan realitas proses penuaan, teologi menegaskan panggilan bertumbuh, dan Alkitab membuka harapan: usia boleh menua, tetapi jiwa tidak harus menyerah. Dalam Kristus, tidak ada kata “terlambat” untuk diubahkan.