PENANTIAN YANG TAK BERUJUNG

Seri 1: Penantian yang Tak Berujung

Penantian. Kata ini memiliki resonansi yang berbeda bagi setiap orang. Bagi sebagian orang, penantian adalah waktu untuk refleksi, kesempatan untuk tumbuh. Bagi yang lain, ia adalah siksaan, sebuah lubang kosong yang menguras energi. Dalam drama “Waiting for Godot”, penulis Samuel Beckett secara brilian menggambarkan esensi penantian melalui dua karakter utamanya: Vladimir dan Estragon. Kedua karakter ini menghabiskan hari-hari mereka menunggu seseorang yang tidak pernah datang, Godot. Mereka mengisi waktu dengan percakapan yang berulang, tindakan-tindakan kecil yang sia-sia, dan kesepian yang mendalam. Mereka menunggu dengan harapan yang samar, namun juga dengan keputusasaan yang nyata.

Seperti Vladimir dan Estragon, kita sering kali merasa terjebak dalam penantian yang tak berujung. Kita menunggu pekerjaan impian, pasangan hidup yang sempurna, atau penyelesaian dari masalah yang tak kunjung usai. Kita menunggu jawaban atas doa-doa kita, dan terkadang, kita merasa seperti sedang menunggu Godot: sosok yang kita harapkan akan datang dan mengubah segalanya, tetapi yang keberadaannya pun tidak kita ketahui secara pasti. Penantian ini bisa terasa membebani, membuat kita merasa kosong dan kehilangan arah.

Namun, di sinilah iman Kristen memberikan perspektif yang berbeda. Penantian kita sebagai orang percaya bukanlah penantian yang hampa, melainkan penantian yang penuh makna. Mazmur 130:5-6 berkata, “Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nantikan, dan aku mengharapkan firman-Nya. Jiwaku menanti-nantikan Tuhan, lebih dari pada pengawal menanti-nantikan pagi, ya, lebih dari pada pengawal menanti-nantikan pagi.” Ayat ini menggambarkan penantian yang aktif dan penuh harapan. Pemazmur tidak hanya pasif menunggu, tetapi ia menanti Tuhan dengan harapan yang kuat, bahkan lebih dari seorang penjaga yang menantikan datangnya fajar.

Perbedaan utama antara penantian Vladimir dan Estragon dengan penantian kita adalah objek penantian itu sendiri. Mereka menunggu Godot, sebuah entitas yang abstrak dan mungkin tidak nyata. Kita menanti Tuhan, Pribadi yang nyata dan setia. Kita memiliki janji-janji-Nya sebagai dasar pengharapan kita. Penantian kita bukan tentang menunggu seseorang yang tidak pernah datang, melainkan tentang menunggu janji-janji Tuhan yang pasti akan digenapi pada waktu-Nya.

Penantian dalam iman adalah waktu untuk membentuk karakter. Ini adalah kesempatan untuk belajar bersabar, untuk mempercayai kedaulatan Tuhan, dan untuk menyadari bahwa rencana-Nya jauh lebih baik daripada rencana kita. Alih-alih merasa kosong, kita bisa mengisi penantian ini dengan memuji Tuhan, merenungkan firman-Nya, dan melayani sesama. Penantian ini bukanlah kehampaan, melainkan kesempatan untuk lebih dekat dengan Sang Penanti.

Jadi, ketika kita merasa seperti Vladimir dan Estragon, terjebak dalam siklus penantian yang melelahkan, marilah kita ingat bahwa kita tidak menunggu Godot. Kita menunggu Tuhan yang telah berjanji untuk datang dan menyelesaikan segala sesuatu. Penantian kita memiliki tujuan, dan di dalamnya, kita akan menemukan makna dan kekuatan.

Doa:

Tuhan, terima kasih karena Engkau adalah Pribadi yang dapat kami nantikan. Tolonglah kami untuk mengisi penantian kami dengan harapan dan kepercayaan. Amin.