TERLALU ABSTRAK,KURANG PERSONAL?

THE GROUND OF BEING 3 ; KOMENTAR DAN TANGGAPAN

 

Tema utama teologi Paul Tillich adalah konsep tentang “Allah sebagai Dasar dari Keberadaan” (the Ground of Being). Tillich tidak menggambarkan Allah sebagai suatu makhluk tertinggi dalam pengertian yang biasa, melainkan sebagai dasar terdalam dari segala sesuatu yang ada. Artinya, Allah bukan satu entitas di antara entitas lainnya, tetapi yang membuat segala sesuatu bisa ada—Sumber Keberadaan itu sendiri.

 

A.TERLALU ABSTRAK?

KOMENTAR

Teori Tillich menjadikan Allah terlalu abstrak filosofis ,memuaskan pikiran ttp kurang personal,kurang menyentuh perasaan,kurang keakraban spt Allah sbg Bapa Allah sbg gembala. Komentar

 

TANGGAPAN.

Anda mengenai kelemahan utama pendekatan Tillich.

1.Tillich memang intellectually brilliant (cemerlang secara intelektual) – dia berhasil mengatasi problem antropomorfisme dan memberikan framework (kerangka kerja) filosofis yang sophisticated (canggih). Tapi hasilnya adalah Tuhan yang terasa cold (dingin) dan distant (jauh).

2.”Ground of Being” (Dasar Keberadaan) vs “Abba, Father” (Abba, Bapa) – beda banget kan feelingnya?

Ketika Yesus ngajarin kita berdoa “Bapa kami”, Dia pakai bahasa relational (relasional) dan intimate (intim/akrab). Ketika Dia bilang “Aku adalah Gembala yang baik”, ada warmth (kehangatan), care (kepedulian), protection (perlindungan) yang langsung kita rasakan.

3.Tillich’s God (Tuhan versi Tillich):

  • Secara intelektual satisfying (memuaskan)
  • Tapi emotionally (secara emosional) & spiritually (secara rohani) detached (terlepas/dingin)
  • Susah untuk pray to (berdoa kpdNya) atau worship (menyembah)
  • Lebih cocok untuk academic discourse (wacana akademis) daripada devotional life (kehidupan devosional)

4.Biblical God (Tuhan Alkitabiah):

  • Personal (pribadi), caring (peduli), involved (terlibat)
  • Bisa marah, bisa kasihan, bisa sukacita
  • “God who weeps” (Tuhan yang menangis) – Yesus menangis untuk Lazarus
  • “God who rejoices” (Tuhan yang bersukacita) – Luk 15: sukacita di surga

5.Problem (masalah) filosofi: kalau kita terlalu takut bikin Tuhan anthropomorphic (antropomorfis), kita bisa berakhir bikin Dia impersonal (tidak berpribadi).

Mungkin biblical language (bahasa alkitabiah) yang kadang terkesan “naive” (naif/sederhana) itu justru lebih true to reality (sesuai kenyataan) – karena Tuhan memang personal Being (Pribadi yang personal) yang mau berelasi dengan kita secara personal juga.

Mystery (misteri) boleh, tapi jangan sampai intimacy (keakraban)-nya hilang.

 

B.TINGGALKAN KONSEP TILLICH?

KOMENTAR

Apakah dg kelemahan konsep Tillich tadi kita lupakan saja teologinya atau bgmna sebaiknya?

 

TANGGAPAN

Jangan dibuang total! Tillich tetap punya kontribusi berharga, tapi perlu “selective appreciation” (apresiasi selektif) dan proper context (konteks yang tepat).

I.Yang bisa kita ambil dari Tillich:

  1. Anti-idolatry insight (wawasan anti-penyembahan berhala) – peringatan bahwa kita jangan bikin Tuhan jadi objek atau “benda” biasa
  2. Transcendence emphasis (penekanan pada transendensi) – Tuhan memang melampaui kategori-kategori duniawi kita
  3. Critique (kritik) terhadap “God of the gaps” (Tuhan pengisi kekosongan) – Tuhan bukan sekadar penjelasan untuk hal-hal yang belum kita mengerti
  4. Depth dimension (dimensi kedalaman) – ada level realitas yang lebih dalam dari yang tampak di permukaan

II.Tapi dengan catatan:

  • Jangan biarkan abstraksi filosofis menggantikan relasi personal dengan Tuhan
  • Pakai sebagai intellectual framework (kerangka intelektual), bukan sebagai devotional foundation (fondasi devosional)
  • Balance (seimbangkan) dengan biblical language (bahasa alkitabiah) yang lebih concrete (konkret) dan relational (relasional)

III.Approach (pendekatan) yang sehat:

  • Tillich untuk apologetics (apologetika) dan intellectual dialogue (dialog intelektual)
  • Biblical imagery (gambaran alkitabiah) untuk worship (ibadah) dan spiritual life (kehidupan rohani)
  • Keduanya saling complement (melengkapi), bukan compete (bersaing)

Seperti kata C.S. Lewis – kita butuh “thick” concepts (konsep “tebal”/konkret) untuk hidup sehari-hari, dan “thin” concepts (konsep “tipis”/abstrak) untuk diskusi intelektual.

Wisdom (hikmat) adalah tahu kapan pakai yang mana. Tillich bagus untuk “head knowledge” (pengetahuan kepala), tapi “heart knowledge” (pengetahuan hati) tetap butuh bahasa yang lebih personal dan biblical (alkitabiah).