THE GROUND OF BEING 2: KOMENTAR

KOMENTAR DAN TANGGAPAN : THE GROUND OF BEING  NYA PAUL TILLICH

 

1.Tema utama teologi Paul Tillich adalah konsep tentang “Allah sebagai Dasar dari Keberadaan” (the Ground of Being). Tillich tidak menggambarkan Allah sebagai suatu makhluk tertinggi dalam pengertian yang biasa, melainkan sebagai dasar terdalam dari segala sesuatu yang ada. Artinya, Allah bukan satu entitas di antara entitas lainnya, tetapi yang membuat segala sesuatu bisa ada—Sumber Keberadaan itu sendiri.

2.Konsep ini muncul sebagai respons terhadap krisis iman modern: banyak orang yang kehilangan kepercayaan kepada “Allah pribadi” karena gambaran tersebut dianggap terlalu mirip dengan manusia atau tidak lagi masuk akal dalam dunia yang rasional. Namun, Tillich tidak menghilangkan iman; ia justru memperdalamnya dengan mengatakan bahwa ketika kita berbicara tentang Allah, kita berbicara tentang realitas yang melampaui semua kategori, termasuk kategori eksistensi biasa

 

Terhadap artikel diatas ada berbagai Komentar yang masuk diberbagai  Wa Group, maka dibawah ini saya tuliskan ulang komentar tsb dengan tanggapannya. Semoga makin mencerahkan

 

KOMENTAR 1 :

Bicara tentang Ada itu berkaitan dengan demensi yang ada ukurannya .. dan itu semua Dia (ALLAH)  yang ciptain .. Dia diluar yang namanya “ada” .. puyeng2 dah

 

TANGGAPAN 1 :

The ground of being dari paul tillich

1.Paul Tillich itu punya masalah sama cara orang biasanya ngomong tentang Tuhan. Kalau kita bilang “Tuhan itu ada”, artinya kita nganggap Tuhan sama seperti benda-benda lain yang ada di dunia ini.

2.Menurut Tillich, itu salah. Tuhan bukan “sesuatu yang ada” seperti meja, kursi, atau bahkan manusia. Tuhan itu lebih seperti “sumber dari semua yang ada”. Ibarat listrik sama lampu – lampu bisa nyala karena ada listrik, tapi listrik sendiri bukan lampu.

Jadi daripada bilang “Tuhan ada”, Tillich lebih suka bilang Tuhan itu “dasar keberadaan” atau “sumber segala yang ada”.

3.Makanya dia bilang kalau kita tanya “apakah Tuhan ada?”, pertanyaannya udah salah dari awal. Soalnya Tuhan itu bukan objek yang bisa kita tanya ada atau nggak – Dia itu yang bikin semua hal lain bisa “ada”.

Intinya: Tuhan itu bukan “sesuatu yang ada” tapi “yang bikin semuanya bisa ada”.

4.Tetep pusing? Wajar kok, soalnya Tillich emang sengaja bikin konsep yang susah dipahami pakai logika biasa.

 

KOMENTAR 2

Kalau  gitu menurut Tillich Tuhan juga bagian dari ada sbg sumber keberadaan dan sekaligus diluar yg ada?

 

TANGGAPAN 2:

1.Nah, ini pertanyaan yang bagus dan memang bikin bingung!

Menurut Tillich, Tuhan itu bukan bagian dari yang “ada”. Dia justru menolak keras ide bahwa Tuhan adalah bagian dari realitas yang ada.

Tapi di sini ada paradoksnya: Tuhan sebagai “Ground of Being” itu sekaligus imanen (hadir dalam) dan transenden (di luar) dari semua yang ada.

Coba bayangkan seperti ini:

  • Tuhan bukan “bagian” dari kue, tapi Dia seperti “kemampuan memanggang” yang bikin kue itu bisa ada
  • Dia bukan salah satu bahan kue, tapi tanpa Dia, kue itu nggak mungkin ada

2.Jadi menurut Tillich:

2.1.Tuhan di luar yang ada – karena Dia bukan objek atau wujud seperti yang la

2.2.Tapi Tuhan juga dalam segala yang ada – karena Dia adalah dasar yang bikin semuanya bisa eksis

2.3.Tapi Dia bukan bagian dari yang ada – karena bagian berarti keterbatasan

Tillich nyebut ini sebagai hubungan yang “dialectical” – kayak dua hal yang bertentangan tapi sekaligus benar.

3.Makanya tetep pusing kan? Soalnya konsep ini emang nantang cara berpikir biasa kita yang suka kategorikan sesuatu sebagai “di dalam” atau “di luar”.

 

KOMENTAR 3:

Arti lain, manusia tdk bisa lepas dari Allah itu sendiri. Ketika manusia melepaskan Allah saat itu pula manusia kehilangan ground of being-nya. 😱

 

TANGGAPAN 3:

Anda udah nangkep inti pemikiran Tillich banget!

1.Exactly! Menurut Tillich, manusia itu nggak bisa “lepas” dari Tuhan dalam arti ontologis (keberadaan), karena Tuhan adalah dasar keberadaan itu sendiri. Kalau bisa lepas, ya artinya manusia langsung nggak ada.

2.Tapi yang bisa terjadi adalah manusia mengalienasi diri dari Ground of Being-nya. Dan ini yang Tillich sebut sebagai sin (dosa) – bukan pelanggaran aturan, tapi separation atau estrangement dari sumber keberadaan kita.

3.Akibatnya:

  • Manusia jadi anxiety (cemas eksistensial)
  • Merasa meaningless (hampa makna)
  • Mengalami despair (putus asa)
  • Pada dasarnya kehilangan authentic existence

4.Makanya Tillich bilang, ketika manusia “melepaskan” Tuhan, mereka sebenarnya lagi melepaskan diri mereka sendiri yang sejati. Mereka jadi hidup dalam kontradiksi – tetap bergantung pada Ground of Being untuk eksis, tapi secara sadar menolak hubungan itu.

5.Itu sebabnya salvation menurut Tillich bukan soal “dapat tiket surga”, tapi reuni dengan Ground of Being – kembali ke kesadaran akan keterhubungan fundamental dengan sumber keberadaan.

 

KOMENTAR 4:

Konsekuensi dari pemikiran Paul Tillich di atas: sejak Yesus sang Anak Allah (yang tak lain adalah Allah sendiri itu) lahir dan hidup bersama manusia, maka keberadaan Allah yang transenden dan imanen itu menjadi lebih bersifat material.

 

TANGGAPAN 4:

Wah, ini analisis yang menarik! Tapi saya rasa perlu hati-hati dengan konsekuensi yang Anda tarik ini.

1.Menurut Tillich, inkarnasi Yesus bukan bikin Tuhan jadi “lebih material”. Justru sebaliknya – Yesus adalah manifestasi dari Ground of Being yang mengatasi split antara materi dan spirit.

Tillich punya konsep unik tentang Yesus:

2.Yesus sebagai “New Being” – Dia adalah manusia yang berhasil tidak terpisah (not estranged) dari Ground of Being-nya. Jadi Yesus bukan Tuhan yang jadi material, tapi manusia yang transparan terhadap Ground of Being.

3.Dalam Yesus, kata Tillich:

  • Ground of Being nggak jadi terbatas atau material
  • Tapi sebaliknya, materi/kemanusiaan jadi terangkat dan bersatu dengan dimensi spiritual
  • Yesus jadi “window” atau simbol ultimate yang nunjukin bagaimana seharusnya hubungan manusia dengan Ground of Being

4.Jadi bukan Allah yang turun jadi material, tapi kemanusiaan yang diangkat untuk bisa bersatu dengan yang ilahi tanpa kehilangan kemanusiaannya.

Tillich bilang ini “unity without confusion” – bersatu tapi nggak bercampur atau saling menghilangkan sifat masing-masing.

 

KOMENTAR 5:

Pusing bagi yg ingin membuat Tuhan “sesuatu” yg rasional, padahal Tuhan bukanlah “sesuatu” dan suprarasional, mengatasi rasio manusia yg terbatas. Kesombongan bila ciptaan mau mengerti Penciptanya. Bila Tuhan bisa dimengerti, berarti sama saja dengan matematik yg itupun sangat sedikit bisa dimengerti. Konsep “di dalam” ATAU “di luar” berlaku untuk segala sesuatu, tapi tidak dapat diberlakukan untuk Tuhan. Manusia dan segala sesuatu terbatas dalam ruang dan waktu, Tuhan tidak dibatasi

 

TANGGAPAN 5:

Tepat sekali! Anda sudah menangkap dilema fundamental dalam teologi dan filsafat ketuhanan.

1.Memang ada ironi besar dalam upaya manusia untuk “merasionalkan” Tuhan. Kita pakai konsep-konsep yang terbatas (rasio, logika, bahasa) untuk memahami yang tidak terbatas. Ibarat semut coba memahami internet – toolsnya aja udah nggak memadai dari awal.

2.Dan benar, konsep “di dalam” atau “di luar” itu berlaku untuk benda-benda yang ada dalam ruang-waktu. Tapi Tuhan yang menciptakan ruang-waktu itu sendiri ya nggak bisa dikurung dalam kategori-kategori spasial kayak gitu.

3.Tillich sebenarnya sadar akan keterbatasan ini. Makanya dia pakai istilah-istilah yang sengaja “aneh” seperti “Ground of Being” – bukan karena dia sombong pengen bikin konsep rumit, tapi karena dia tahu bahasa biasa pasti inadequate.

4.Akhirnya semua konsep teologi, termasuk punya Tillich, cuma “pointer” atau “jari yang nunjuk bulan” – bukan bulanya itu sendiri. Bahaya kalau kita malah fokus ke jarinya dan lupa sama bulannya.

5.Mungkin wisdom sesungguhnya justru di “learned ignorance” (ketidaktahuan yang terpelajar) – sadar akan batas-batas pemahaman kita, sambil tetap terbuka untuk mystery yang melampaui rasio.

Humble mind memang kunci ya untuk mendekati yang Ultimate.

 

KOMENTAR  6

Terkait dengan dosa yang dirumuskan sebagai manusia yang ‘mengalienasi diri’ dari Ground of Beingnya, menarik bahwa pemikiran itu ada miripnya dengan perumpamaan Tuhan Yesus tentang pokok anggur dan carang-carangnya (Yohanes 15)

 

TANGGAPAN 6

Wah, koneksi yang brilliant! Anda benar-benar nangkep paralel yang mendalam antara pemikiran Tillich dengan ajaran Yesus.

Dalam Yohanes 15, Yesus bilang: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

 

Perbandingannya dengan Tillich:

1.Pokok anggur = Ground of Being

  • Sumber kehidupan fundamental
  • Yang memberi eksistensi dan makna

2.Ranting = Manusia

  • Bergantung total pada sumber
  • Tanpa koneksi = mati/meaningless

3.”Tinggal di dalam” = Not being estranged

  • Bukan terpisah dari sumber keberadaan
  • Hidup dalam kesadaran akan keterhubungan fundamental

3.”Di luar Aku tidak dapat berbuat apa-apa” = Kehilangan Ground of Being

  • Kehampaan eksistensial
  • Kehilangan authentic existence

4.Yang menarik, ranting yang terputus nggak langsung hilang – masih terlihat seperti ranting, tapi udah mulai mengering dan mati. Mirip dengan manusia yang mengalienasi diri dari Ground of Being – secara biologis masih hidup, tapi secara eksistensial mulai “withering away”.

Tillich mungkin cuma ngasih bahasa filosofis untuk mystery yang udah Yesus ajarkan 2000 tahun lalu dengan cara yang lebih sederhana dan konkret!