THE GROUND OF BEING-PAUL TILLICH

Allah Sebagai Dasar Keberadaan (The Ground of Being): Memahami Pemikiran Paul Tillich dalam Bahasa Iman

Dalam banyak khotbah atau pelajaran Alkitab, kita sering mendengar bahwa “Allah itu Mahakuasa, Mahakasih, Mahatahu”—dan semua itu benar. Namun, seorang teolog Kristen bernama Paul Tillich menawarkan kepada kita cara pandang yang lebih dalam tentang siapa Allah itu, dengan menggunakan istilah yang mungkin terdengar asing, namun sangat kaya makna: “Allah adalah Dasar dari Keberadaan” (The Ground of Being).

Apa maksudnya? Dan mengapa ini penting untuk kita sebagai orang percaya?

 

I.Siapa Paul Tillich?

Paul Tillich (1886–1965) adalah seorang teolog dan filsuf Kristen yang lahir di Jerman dan pindah ke Amerika Serikat untuk mengajar dan menulis. Ia mencoba menjawab pertanyaan besar zaman modern, ketika banyak orang mulai meragukan keberadaan Allah, gereja, dan iman Kristen. Tillich tidak hanya ingin mempertahankan kepercayaan kepada Allah, tetapi ia juga ingin membahasnya dengan cara yang bisa menjangkau hati dan pikiran manusia modern yang sedang gelisah dan merasa kosong.

 

II.Apa Artinya “The Ground of Being”?

Tillich tidak menggambarkan Allah sebagai “satu pribadi super yang duduk di langit” atau sekadar “penguasa tertinggi”. Ia justru berkata bahwa Allah bukan satu makhluk di antara makhluk-makhluk lain, melainkan Sumber dari segala sesuatu yang adaDasar dari Keberadaan itu sendiri (the Ground of Being).

Dalam kata-kata sederhana:

“Kita tidak bisa membayangkan Allah seperti kita membayangkan manusia super. Sebaliknya, Allah adalah fondasi terdalam yang membuat segala sesuatu ada—termasuk diri kita sendiri.”

Tillich ingin menolong kita melihat bahwa kita tidak bisa membatasi Allah ke dalam bentuk yang bisa kita kontrol atau pahami sepenuhnya. Jika kita berpikir bahwa Allah adalah seperti kita, hanya lebih besar, maka kita sedang menyembah sesuatu yang lebih mirip berhala daripada Allah yang sejati. Itulah sebabnya Tillich dengan tegas berkata bahwa Allah adalah transenden (melampaui segala pengertian), namun juga imanen (hadir di dalam segala sesuatu).

 

III.Iman sebagai “Ultimate Concern” (Perhatian Tertinggi)

Tillich juga mengajarkan bahwa iman bukan sekadar percaya pada doktrin atau pergi ke gereja. Iman adalah “ultimate concern”—yaitu perhatian atau komitmen terdalam kita. Setiap manusia memiliki sesuatu yang menjadi pusat hidupnya: bisa uang, keluarga, karier, kekuasaan, bahkan agama.

Namun, bagi orang Kristen, perhatian tertinggi itu haruslah Allah. Dan bukan Allah yang kita bentuk menurut citra kita, melainkan Allah yang sejati—yang menjadi dasar dari segala keberadaan.

 

IV.Apa Relevansinya untuk Kita Hari Ini?

Kita hidup di dunia yang serba cepat, penuh tekanan, dan sering kali membuat kita merasa tidak berakar. Banyak orang merasa cemas, kosong, dan tidak tahu ke mana harus berpaling. Dalam situasi seperti ini, Tillich berkata bahwa Allah sebagai Ground of Being bisa menjadi dasar yang kokoh bagi hidup kita.

Ketika kita merasa kehilangan arah, kita bisa kembali ke Allah bukan hanya sebagai Penolong dari luar, tetapi sebagai Sumber terdalam dari hidup kita. Saat kita berdoa, kita tidak sedang berbicara dengan “pribadi asing di luar sana”, tetapi sedang menyambungkan diri kembali dengan Sumber kehidupan kita.

Dalam bukunya The Courage to Be, Tillich menulis bahwa ketika kita menghadapi rasa takut akan kehilangan, ketidakbermaknaan, atau kematian, kita bisa menemukan keberanian untuk tetap hidup karena kita “berakar” dalam Allah yang tidak tergoyahkan. Kita ada karena Dia membuat kita ada. Bahkan ketika kita merasa tidak ada gunanya, Allah tetap menopang kita.

 

Kesimpulan: Allah Lebih Dekat daripada yang Kita Bayangkan

Memahami Allah sebagai the Ground of Being bukan berarti mengaburkan kepribadian Allah atau menjadikan iman kita kabur. Justru sebaliknya, Tillich mengajak kita untuk menggali lebih dalam makna Allah yang kita imani—bukan hanya sebagai pribadi yang “jauh di langit”, tetapi sebagai realitas terdalam dan paling nyata dalam hidup kita.

Tillich membantu kita menyadari bahwa kita tidak akan pernah benar-benar mengerti Allah sepenuhnya, tapi kita bisa mengalami kehadiran-Nya. Kita bisa menemukan bahwa ketika segala sesuatu terasa goyah, ada satu Dasar yang tidak berubah—Allah sebagai Sumber hidup, dasar keberadaan kita, dan perhatian tertinggi dalam iman kita.